Popular Post

Popular Posts

Recent post

Tampilkan postingan dengan label bandarslot. Tampilkan semua postingan




Pada ketika itu Lisa yang edang asik bermasturbasi di dalam kamar mandi khusus Guru tiba-tiba terkagetkan oleh bunyi pintu yang terdobrak. Singkat cerita terbukti yang mendobrak pintu itu ialah seorang Guru di sekolah itu juga.

Agen Playtech-Sebab Terpergok Oleh guru yang bernama Jaka, denga terpaksa Lisa semestinya melayani nafsu sex Jaka. Berkeinginan tahu kelanjutan ceritanya, Segera aja yuk baca dan simak bagus bagus cerita dewasa ini.

Pada petang hari itu, dari sebuah sudut bangunan sebuah sekolah dasar yang berlokasi di pinggir kota “A”, terdengar bunyi desah-desahan yang nyaris tidak terdengar oleh orang lain. Desahan-desahan itu erdengar seperti terbendung pada balik pintu kamar mandi guru sekolah MA ( Madrasah Aliyah ) di kota “A” itu.

Sebab mendengar desahan itu, pada waktu itu sesosok pria yang tengah berdiri dan merekatkan kupingnya. Dengan seksama ia-malahan memperdengarkan desahan-desahn yang terdengar menonjol mengasyikan sekali
Ucap saja nama Pria itu Jaka, ia ialah seorang guru olahraga pada sekolah itu yang umurnya sekitar 26 tahun. Didalam kamar mandi ada sesosok perempuan dengan berbusana islamik dan rok panjang berwarna cokelat muda menonjol sedang terduduk di pinggir bak mandi dengan menggunakan hijab panjang membalut kepalanya. Dengan jari lentik dan rok panjang yang sudah tersingkap, nampak memainkan klitorisnya.

Dengan mata yang tertutup, seakan-akan wanita itu sudah melayang ke dunia lain. Bibir tipis dari guru indah yang berhijab itu kadang-kadang mengeluarkan desahan-desahan kecil kenikmatan-nya. Dan Kini perempuan indah berhijab itu menonjol bermigrasi posisi menghadap tembok sembari membungkuk membendung tubuhnya di tembok kamar mandi dengan posisi sedikit menungging.
Dengan dicontoh tangan kanannya yang tertopang dinding dan dengan tangan satunya memainkan klitorisnya dari depan, wanita indah itu mulai mendesah.
“ Uuuh… mmhhh… Sss… Aghhh… … ”, desah wanita berhijab itu perlahan terbendung.
Mulailah aliran peluh mengalir mengaliri keningnya. Dikala GURU berhijab itu hampir menerima tiba klimaks-nnya, dengan tiba-tiba terdengar bunyi,
“ Gubraaak… ”,
Ternyata bunyi itu ialah suara pintu kamar mandi yang didobrak dengan paksa, lalu,
“ Hah… Ustazah Lisa… ”, sebut terkejut pria yang berdiri di depan pintu kamar mandi itu.

Agen Slot-Mata Pria itu ketika itu tak berkedip sedikitpun saat mengamati perempuan indah berseragam itu sedang memaikan klitorisnya. Lalu wanita itupun tersentak terkejut,
“ Apa…. Ustad Jaka…. ”, katanya terkejut separo berteriak.

Sebab terpergok oleh ustad Jaka wanita itupun tak tahu akan bertingkah apa pada ketika itu. Yang dipanggil Ustazah Lisa alias perempuan berhijab itu, ia segera jongkok merapatkan kakinya untuk menutupi Kewanitaanya dari penglihatan Ustad Jaka. Tetapi percuma saja Lisa menutupi kewanitaanya, ia yang saat itu terkejut pada ketika itu tangannya masih berada diantara pahanya, tepatnya di Zona Kewanitaan Lisa.

“ Apa yang Ustad Jaka lakukan, pesat pergi dari sini !!! ”, sebut panik Lisa mengusir Jaka.

Pada ketika itu wajahnya yang indah terbalut hijab hitam sedada itu menonjol pucat sebab takut dan malu. Yang dibentak, bukannya keluar tetapi malahan pesat-pesat masuk dan menutup pintu kamar kamar mandi dan menguncinya.

“ Ngapain pak??!!… Keluar!! ”, bentak Lisa sekali lagi sembari konsisten berjongkok sambil membenahi rok panjangnya ke bawah yang tadinya tersingkap hingga sepinggul.
“ Ustazah Lisa ”, kata Jaka sembari mendeka dan mendekap tubuh guru perempuan berhijab itu. Perempuan itu terhenyak terkejut, tetapi tak berani berteriak sebab takut bila-bila ada orang yang mengenal bila ia bermasturbasi di kamar mandi sekolah.

“ Jangaan pak ”, ronta Lisa sembari berupaya melepaskan dekapannya.

Perempuan berhijab itu menggeser tubuhnya untuk melepaskan diri dari dekapan pria hal yang demikian, melainkan ia konsisten mendekap Lisa erat-erat. Hingga-hingga GURU berhijab itu hampir menubruk dinding.
“ Bantu… jangan paak ”, pintanya dengan bunyi memelas ketakutan.

Tapi pria setengah baya hal yang demikian tak menggubris rengekan wanita berhijab yang berumur 23 tahun itu, malahan ia malahan mendekatkan wajahnya serta menciumi leher Lisa yang tertutup hijab.
“ Jangaaan Pak, bantu jangan lakukan ini…. ”, pinta Lisa merengek.

Di Baca Juga : Menantu Jadi Budak Seks Mertua Yang Ganas

Dikala itu Jaka menonjol seperti itu beringas dengan napas mendengus sambil menciumi leher yang tertutup hijab hitam.
Tangannya mulai menyentuh-raba buah dada guru berhijab itu dari luar pakaian seragam cokelat mudanya. Lisa sadar bila ia terjebak makanya ia berupaya melawan. Dengan sekuat kekuatan didukung tubuhnya dan sukses. Pria itu terjatuh di lantai kamar mandi. Memanfatkan keadaan itu, Lisa bergegas ke arah pintu. Tapi ketika hendak mencoba membuka grendel pintu kamar mandi, tangan guru berhijab itu terbendung oleh tangan Jaka yang kekar.

“ Pak… lepaskan saya… bantu pak… ”, kata Lisa meronta.

Tapi Jaka yang telah kesetanan itu tak mendengarkannya lagi. Pria itu malahan memiting tangan kanan guru indah berhijab itu ke belakang dengan kasar, sedang tangannya yang lain membendung tangan kiri Lisa di dinding. Perempuan berhijab itu terjebak menonjol tubuhnya seperti terkunci dan tak dapat bergerak.
“ Jakamm … sakit… lepaskan ”, pinta Lisa dengan bunyi memelas.

“ Ustazah Lisa… biarkan saya… ”, bisik pria itu ketelinga Lisa yang tertutup hijab itu disertai dengusan.
“ Ahhh lepaskan ”, pinta guru MA ( madrasah Aliyah ) yang indah itu memohon lagi seperti itu mengenal tubuh kekar pria itu menekan tubuh Lisa ke dinding.

Perempuan berhijab hitam itu menonjol panik ketakutan saat merasa ada benda yang keras kenyal menekan kearah pantatnya yang tertutup rok panjang berwarna cokelat muda itu. Guru perempuan itu kian memberontak berupaya melepaskan kuncian tangan Jaka.

“ Sebaiknya Ustazah Lisa jangan bising, nanti ada orang yang dengar. Biarlah aku dipukuli orang melainkan aku akan cerita ke segala orang bila Ustazah Lisa masturbasi di kamar mandi ”, ancam Jaka.

Ancamannya seperti itu mengena sehingga guru indah berhijab itu menghentikan konfrontasinya. Mengenal mangsanya mengendurkan konfrontasi, tangan-tangan kekar pria itu menarik kedua tangan Lisa merapat kedinding sampai saling berhimpitan.

“ Jangan pak, kumhon jangan ”, pinta guru berhijab itu memelas terhadap Jaka.

Tetapi sia-sia, tangan kanan pria itu dengan bebas menyentuh-raba buah dada Lisa sambil kadang-kadang meremasnya. Padahal tangan kiri pria itu mengunci kedua pergelangan tangan Lisa yang merapat didinding. Ekspresi wajah berbalutkan hijab hitam itu nampak ketakutan bercampur sendu.

“ Aahh Ustazah Lisa… .nenennya gede banget eummhhh… ”, kata-kata dekil sekalian memuji estetika tubuh Lisa keluar dari mulutnya.
Kurang puas menyentuh buah dada perempuan berhijab itu dari luar blazer lengan panjang berwarna cokelat muda hal yang demikian, tangan Jaka yang kasar meyusup masuk kedalam pakaian yang dikenakan Lisa.
“ Ammpuun pak lepaskan ”, mohon Lisa kala pria itu mulai memeras kedua buah dadanya.
Tapi Jaka tak menggubrisnya, malahan guru indah berhijab itu menikmati kejantanan pria itu telah betul-betul keras sekali menubruk-nabrak bokongnya. Ini segala menggambarkan ia benar benar telah betul-betul berkeinginan menyetubuhi Lisa.

“ Ugghh… Sayang… puaskan kejantananku kini yah ? ”, bisik Jaka perlahan penuh nafsu sambil menarik rok panjang semata kaki cokelat muda Lisa keatas.

“ Pakk… jangan… jangan. Bantu kasihanilah aku ”, kata guru berhijab itu memelas putus hasrat.

Nampaknya apa saja yang dikatakan Lisa tak bisa menahan nafsu setan Jaka.

Sebentar Lisa tak menikmati tangan kanan pria itu menyentuh-raba tubuhnya. Penasaran apa yang dijalankannya, guru berhijab itu menoleh ke belakang dan betapa kagetnya Lisa ketika mengamati pria itu mengeluarkan kejantanan-nya. Padahal Lisa tak mengamati dengan terang, melainkan ia dapat mengamati wujud kejantanan pria hal yang demikian.
Menonjol betul-betul besar dan hitam legam keluar dari kandang-nya. Belum sirna rasa terkejut Lisa, Jaka menekan tubuh perempuan berhijab hitam itu sampai merekat ke dinding. Dirasakannya benda kenyal dan keras itu sedang menggesek-gesek dan menubruk bokong Lisa.

“ Sss… Aghhh… pantatmu montok banget sayang… ”, kata Jaka sembari meremas remas bokong guru indah berhijab itu.
Lisa terhenyak terkejut sebab teringat saat bermasturbasi tadi ia melepas celana dalam dan masih tergantung di pintu kamar mandi. Lisa menonjol telah pasrah sebab meras tak mungkin lepas. Terasa oleh guru berhijab itu sebuah benda keras dan kenyal sedang menggesek-gesek belahan kewanitaan miliknya yang licin seperti mencari-cari target. Hasilnya benda itu stop ideal di celah bibir kewanitaan Lisa.

“ Ampun pak… Jangan… bantu kumohon… ”, pinta Lisa lagi putus hasrat kala menyadari dalam hitungan detik kejantanan Jaka akan lantas masuk kedalam tubuhnya.
“ Oughhh… Ssss… ahhh… Ustazah Lisa udah lama aku pengen bercumbu sama kau. kau sungguh montok sekali… ”, jawabnya tanpa memperdulikan permohonan perempuan berhijab itu.
Dan tiba tiba terasa oleh Lisa pria hal yang demikian mulai bergerak menyeruak masuk membelah bibir kewanitaan miliknya. Panik, Lisa sekuat kekuatan mencoba melawan dengan sisa-sisa harapannya. Tapi bukannya terlepas tetapi malahan sebab gerakan tubuh Lisa kejantanan pria itu malahan makin terbenam masuk ke dalam lubang kewanitaan miliknya.“ Aaaah tidaaak… ”, jeritnya dalam hati saat menikmati batang kejantanan pria itu membenam memenuhi kewanitaannya.
Ekspresi wajah indah terbungkus hijab hitam itu menonjol berkeinginan menangis sembari menggigit bibirnya. Sungguh , kewanitaan Lisa yang telah berair saat bermasturbasi tadi malahan mempermudah batang kejantanan Jaka itu masuk. Kejantanan yang besar itu malahan masuk pelan menggesek dinding lubang kewanitaan Lisa dengan gerakan perlahan tetapi pasti.

“ Uugghh… eummm… Lisa, memek kau nikmat banget… oughhh… aghhh… ”, racau Jaka ke alat pendengar Lisa yang tertutupi hijab saat kejantanan-nya dibenamkan kedalam rahim Lisa.
“ Eghhh… eummmh… ”, desah Lisa seolah membalas racauan sedap Jaka.

Wajah indah yang terbungkus hijab hitam itu menonjol sedikit mengernyit seakan membendung perih sebab mungkin belum pernah ada benda sebesar itu masuk ke dalam kewanitaannya. Dikala batangan itu amblas, Lisa terdiam, antara kebingungan, takut, takjub, sedap dan terkejut. Semuanya itu berkecamuk dikepalanya. Lisa cuma pasrah, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Seakan ia tak menduga bahwa akan menerima fantasi sex untuk bercumbu di kamar mandi sekolah dan disetubuhi dari belakang kesampaian juga. Tetapi bedanya persetubuhan ini bukan dengan sosok pria yang ada dalam fantasinya selama ini. Tetapi kenyataannya, malahan seorang penjaga sekolah yang sedang mendesah-desah dibelakang Lisa, dan yang sedang membenamkan kejantanan-nya di kewanitaan Lisa.

Kenyataan yang semestinya diterima Lisa kala Jakalah yang sedang asyik merasakan dan memompa kejantanan-nya keluar masuk di lubang kewanitaan miliknya.

“ Oughhh… sayang… oughhh… sedap rasanya ”, desah Jaka sambil meracau berkali kali.

“ Sshh… ngghh… emmm… ”, desah Lisa kecil seakan mulai menikmati nikmatnya genjotan Jaka.

Guru Olah raga itu terus menyodok dan memompa kejantanan miliknya sedalam-dalamnya tanpa henti. Kedua tangan Lisa masih dibendung oleh tangannya yang kekar di dinding kamar mandi. Makin lama perempuan indah berhijab ini hanyut oleh getaran libido yang mulai menebarkan rasa sedap yang menjalar keseluruh tubuhnya.
“ Sss… ahhh… emmm… Ough… ”, desah Lisa perlahan dengan tubuh yang terguncang-guncang mendapatkan sodokan kejantanan Jaka dari belakang.
“ Hemmm… Sedap-kan sayang… ? ”, tanya Jaka tiba tiba.

Dikala itu Lisa cuma terdiam malu, ia tak berani berkomentar sembari menundukkan wajahnya yang terbungkus hijab itu sembari mencoba menghindari usaha bibir Jaka yang berkeinginan mencium pipi kanannya.




“ Ayo tunggingin dikit dong sayang bokong kau… ”, pinta Jaka sembari menarik bongkahan bokong guru berhijab itu keatas.
Tanpa menjawab, lalu Lisa-malahan menunggingkan bokongnya sedikit seperti permintaan Jaka.

“ Eumm… bokong kau memang montok banget sayang, nggak salah apa yang saya khayalkan selama ini ”, ujar Jaka sembari meremas remas pantat Lisa dengan gemas dan bernafsu.
Sambil tangan kirinya membendung pinggul guru indah berhijab itu, Jaka kembali menyodokkan kejantanan-nya kembali.

“ Sss… Aghhh… pak perlahan-perlahan… Oughhh… ”, pinta Lisa kala menikmati penetrasinya terasa lebih dalam dari sebelumnya.
Mungkin sebab perempuan berhijab itu menunggingkan bokongnya sehingga posisi kewanitaan itu benar-benar bebas hambatan. Jaka tak memperlambat sodokannya malahan dipercepat, membikin Lisa mulai mendesah perlahan penuh sedap.

“ Ssss…. Aghhhh… ”, desah Lisa perlahan kala menikmati friksi kejantanan Jaka di liang kewanitaannya.
Sebab mengamati tubuh Lisa yang terdorong dorong ke depan, Jaka dengan sengaja melepaskan kedua tangan Lisa sehingga dia bisa membendung tekanan tubuh pria itu dengan kedua tangan Lisa bergantung pada tembok.

“ Ssss… ahhh… gilakkk… sungguh kenikmatan yag luar lazim… ouhhh… ” sebut Jaka.

Jaka yang merasakan kewanitaan lisa, kedua-tangannya-malahan meremas remas pantat bulat padat milik guru indah berhijab itu sambil tak stop menyodok-nyodokkan kejantanan-nya “ Oughhh… .… sayyangghh… oughhh… . ”, desah Jaka kian pesat. “ Ohh… ngghh… pp… pak… ja… jangan bising pak… ”, pinta Lisa sebab takut desahannya didengar orang.
“ I… i… iyahh… Innhh… emhh abis memek kau nikmat banget… aghhh… ”, katanya perlahan dengan napas menderu.

Sodokan demi sodokan pria hal yang demikian kian pesat. Kurang puas meremas-remas pantat guru indah berhijab itu, Jaka menguakkan belahan bokong Lisa. Dan satu jari pria itu mulai membelai anus Lisa. Kontan Lisa menggeliat sembari menggoyang bokongnya kekanan dan kekiri sebab kegelian.

“ Oughhh… Ustad Jaka… oughhh… .” ,
Lisa tak lagi mendesah melainkan mendesah sebab rasa sedap yang tercipta dari sodokan kejantanan Jaka ditambah friksi jarinya yang membelai anus milik gadis berhijab itu. Segala seperti racikan yang ideal membikin guru SD berhijab itu lupa diri membuatnya tak bisa menahan desahan sedap yang keluar dari bibirnya.

“ Ooghh… Oughhh… .hh… ngghh… ”, desah Lisa menggila ketika jari Jaka menikam-nusuk didalam anus guru berhijab itu, dan secara spontan bokong Lisa-malahan kian menungging.
Tiap-tiap kali pria itu menarik kejantanan-nya jari ditusukkan kedalam anus Lisa. Gerakan dua insan yang berlainan tipe itu kian panas. Bokong guru indah berhijab itu menonjol bergetar-getar hebat kala kejantanan dan selangkangan Jaka membentur-bentur keras pantat Lisa. Kepala Lisa yang terbalut oleh hijab hitam itu menonjol mengangguk-angguk kepayahan mendapatkan sodokan Jaka sedari tadi.

Desahan dan racauan dari mulut kedua mahluk lain tipe ini juga kian tak karuan. Pakaian seragam GURU yang berwarana cokelat muda serta hijab yang dikenakan Lisa menonjol berair kuyup imbas peluh serta temperatur lembab dan panasnya persetubuhan itu.
“ Aghhh… a… saya… ingin keluar… uohhh… Lisa… ”, desah Jaka yang akan menempuh klimaksnya.

“ Oughhh… . eummm… Ahhh… ”, desah Lisa keras sembari merapatkan tubuhnya ke dinding yang dicontoh Jaka dengan menyodokkan kejantanan-nya dalam-dalam. Malahan Jaka juga menusukkan jarinya hingga amblas kedalam lubang anus Lisa.

“ Ouhhh… uhhhh… . ”, desah panjang Lisa yang terbendung pedoman ia sudah menempuh Klimaks-nya. (walau kenyataannya guru berhijab itu habis diperkosa).

Ditelannya air liurnya sendiri sembari merasakan sisa kenikmatan puncak orgasme tadi, sedang kejantanan Jaka terbukti masih sibuk memompa liang kewanitaan Lisa. Kedua tangannya memcengkeram bokong yang bulat dan padat itu sambil memompa kejantanan-nya dengan ganas. Dan,
“ Oughhh … Lisaa… Ssss… . ahhh… ”, erang Jaka sembari menghentakkan kejantanan-nya rapat-rapat ke bokong Lisa sambil menekan tubuh guru berhijab itu sampai tersudut pada dinding kamar mandi.

Ekspresi wajah indah terbungkus hijab itu menonjol terkejut kala menyadari kejantanan Jaka menyemburkan air mani hangat memenuhi rahim miliknya. Berkali-kali pria itu menghentakkan kejantanan-nya dalam-dalam membikin tubuh Lisa terdorong ke tembok.

“ Oughhh… eummm… ahhh… ”, desah Lisa sang guru berhijab itu tanpa sadar turut merasakan sensasi Jaka menjelajahi di dalam liang kewanitaan Lisa.

Denyutan serta semburan air maninya yang masih hangat berhamburan membasahi rahim Lisa. Sekilas raut wajah guru indah berhijab itu seakan tersadar kembali. Lalu Dirapatkan tubuhnya kedinding dan menarik napas sembari teringat bila ia memang telah ingin menstruasi. Dalam hati Lisa cuma dapat ingin air maninya tak membuahi telor dirahimnya.
“ Ouhhh… Lisa … eumm… ”, desah pria itu sembari mencoba mengecup pipi Lisa.

Guru berhijab itu menolak sembari mensupport Jaka dengan mata melotot. Memandang Lisa yang protes, Jaka lantas membenahi bajunya tanpa membersihkan kejantanan-nya yang masih dilumuri cairan kewanitaan guru berhijab itu.

“ Kencang keluar pak ”, bentak Lisa dengan bunyi lantang sambil membenahi rok panjangnya.
Jaka tanpa berkata apa-apa segera keluar dari kamar mandi. Guru berhijab itu lalu segera membersihkan alat kelaminnya dari air mani Jaka yang mengalir keluar.
“ Hihhh… banyak seklai air mani ia… huhhh… ”, sebut Lisa dalam hati.

Singkat crita sesudah Lisa membenahi pakaian seragamnya, dengan sistem mengendap endap Lisa-malahan keluar dari kamar mandi dengan hati berdegub yang bercampur takut jika hingga ada orang yang mengenal apa yang terjadi tadi di kamar mandi tadi. Lalu Lisa-malahan pulang dengan perasaan kecewa sebab ia ia baru saja berkaitan sex secara paksa oleh Pria yang tak pantas dengan yang diharapkannya.



Agen Playtech-Sesudah kami berkenalan, lalu kami berdialog sejenak di kantin SMA, Sesudah tak berapa lama, tiba-tiba ia berbisik di alat pendengar aku, katanya, “Kau menawan sekali deh Shinta..”, sambil matanya tertuju pada belahan dada aku. Muka aku segera merah, terkejut dan dadaku berdenyut cepat. Tiba-tiba terdengar bunyi “Pritt…!”, petunjuk bahwa babak ke-2 akan diawali, aku segera mengajaknya balik ke lapangan.

Dalam perjalanan ke lapangan, kami lewat kelas-kelas kosong. Tiba-tiba ia menarik tanganku masuk ke dalam kelas 3 Fis 1, lalu ia segera menutup pintu. Aku segera bertanya padanya, ” Ada apa Indera…, babak ke-2 telah berharap mulai nih…, kau tak takut dicariin pelatih kau?”.
Ia tak membalas pertanyaanku, tetapi segera memelukku dari belakang, dan ia berbisik lagi padaku, “Badan kau baik sekali ya Shin..”.
Aku tak dapat berperilaku apa-apa kecuali berbalik badan dan menatap matanya serta tersenyum padanya.


Agen Slot-Ia segera mengecup bibirku dan aku yang belum pernah berkecupan dengan cowok, tak dapat berperilaku apa-apa kecuali memperbolehkan lidahnya masuk ke dalam mulutku. Sesudah kaprah-kaprah 5 menit bercinta, mulai tangannya menyentuh dan meremas dadaku. Aku pasrah saja padanya, sebab terus jelas aku belum pernah menikmati kenikmatan seperti ini. Tangannya masuk ke dalam pakaian cheers no.3-ku, dan mulai memainkan puting payudaraku, lalu ia menyingkapkan bajuku dan melepaskan rokku sampai aku tinggal mengenakan BH dan celana dalam saja.

Lalu dia membuka pakaian basket dan celananya, sehingga dia cuma mengenakan celana dalam saja. Menonjol terang di depanku bahwa “penis”-nya telah tegang di balik celana dalamnya. Dia mengendalikan tanganku dan memberi nasehat tanganku ke dalam celana dalamnya. Aku menikmati “penis”-nya yang besar dan tegang itu dan dia memintaku untuk meremas-remas penisnya. Dia memaksaku untuk membuka celana dalamnya, sesudah aku membuka celana dalamnya, nampak terang penisnya yang telah ereksi. Besar juga pikirku, hampir sejengkal tanganku kaprah-kaprah panjangnya.

Di Baca Juga : terbuai sex akibat pelet

Baru kali ini aku memandang alat kelamin cowok secara segera, umumnya aku cuma memandang dari film biru saja jika aku diajak nonton oleh sahabat-sahabat dekatku. Dikala aku masih terpana memandang penisnya, ia melepas BH dan celana dalamku, tentu saja dengan sedikit bantuanku. Sesudah dia menyingkirkan baju dalamku, badannya yang tinggi dan atletis layaknya sebagai seorang pemain basket itu, menindih badanku di atas meja kelas dan dia mulai menjilati puting payudaraku hingga aku benar-benar menggeliat keenakan, kurasakan berair pada bibir kemaluanku, aku baru tahu bahwa inilah yang akan terjadi padaku jika aku benar-benar terstimulasi.

Lalu tangannya yang kekar itu mulai menyentuh bibir kemaluanku dan mulai memainkan clitorisku sambil kadang kala mencubitnya. Aku yang benar-benar terstimulasi tak dapat berperilaku apa-apa kecuali mendesah dan menggeliat di atas meja. Cukup lama dia memainkan tangannya di kemaluanku, lalu dia mulai menjilati bibir komponen bawah kemaluanku dengan nafsunya, tangan kanannya masih memainkan clitorisku. Tak lama aku bertahan pada permainannya itu, kaprah-kaprah 5 menit kemudian, aku menikmati darahku naik ke ubun-ubun dan aku menikmati sesuatu kenikmatan yang amat luar awam, badanku meregang dan aku menikmati cairan hangat mengalir dari liang kemaluanku, Indera tanpa ragu menjilati cairan yang keluar sedikit demi sedikit itu dengan nafsunya hingga cuma air liurnya saja yang membasahi kemaluanku. Badanku terasa lemas sekali, lalu Indera duduk di pinggir meja dan memandangi wajahku yang telah berair bermandikan peluh.
Dia berkata padaku sambil tersenyum, “Kau menonjol capek banget ya Shin…”. Aku cuma tersenyum.

Ia mengambil pakaian basketnya dan mengelap cucuran peluh pada wajahku, aku benar-benar terkagum padanya, “Bagus banget nih cowo”, pikirku. Seperti telah paham, aku jongkok di hadapannya, lalu mulai mengelus-ngelus penisnya, sambil kadang kala menjilati dan menciuminya, aku juga tak tahu bagaimana aku dapat bereaksi seperti itu, yang ada di pikiranku cuma membalas perbuatannya padaku, dan sistem yang kulakukan ini pernah kulihat dari salah satu film yang pernah kutonton.
Indera cuma meregangkan badannya ke belakang sambil mengeluarkan bunyi-bunyi yang malahan makin membuatku mau memasukkan penisnya ke dalam mulutku, tak berapa lama kemudian aku mengendalikan pangkal genitalianya itu dan mulai membimbingnya masuk ke dalam mulutku, terasa benar ujung penisnya itu meraba dinding tenggorokanku dikala hampir segala komponen batang genitalianya masuk ke dalam mulutku, lalu aku mulai memainkan penisnya di dalam mulutku, terasa benar kemaluanku mulai mengeluarkan cairan berair lagi, petunjuk jika aku telah benar-benar terstimulasi padanya.

Kaprah-kaprah 5 menit aku menjalankan oral seks pada Indera, tiba-tiba badan Indera yang telah berair dengan peluh itu mulai bergoyang-goyang keras sambil dia berkata, “aarghh…, Aku udah gak bendung lagi nih Shin…, Aku berharap keluarr…”.
Aku yang tak benar-benar memerhatikan omongannya itu masih saja terus memainkan penisnya, hingga kurasakan cairan hangat kental putih dan agak asin keluar dari lubang alat kelamin Indera, aku segera mengeluarkan penisnya itu dan seperti kesetanan, aku malahan menelan cairan spermanya, dan malahan menghisap penisnya hingga cairan spermanya benar-benar habis. Aku duduk sejenak di kursi kelas, dan kuperhatikan Indera yang tiduran di meja sambil mencoba memelankan ritme napasnya yang terengah-engah.

Aku cuma tersenyum padanya, lalu Indera bangun dan menghampiriku, Ia juga cuma tersenyum padaku. Cukup lama kami berpandangan dengan situasi bugil dan berair berkeringat.
“Kau menawan dan bagus banget Shin”, katanya tiba-tiba. Aku cuma ngakak kecil dan mulai mengecup bibirnya. Indera membalas dengan nafsu sambil memasukkan tangannya ke dalam lubang kemaluanku. Cukup lama kami bercinta, lalu dia berkata, “Shin…, boleh nggak Aku emm…, itumu…”.
“Itu apa Ndra?”, tanya aku.
“Itu…, masa kau gak tahu sih?”, balasnya lagi.
sebelun aku menjawab, aku menikmati kepala batang genitalianya telah meraba bibir kemaluanku. “Crestt.., creest”, terasa ada yang robek dalam kemaluanku dan sedikit darah keluar.
Kemudian Indera berkata, “Shin kau rupanya masih perawan!”, aku cuma dapat tersenyum dan menikmati sedikit perih di kemaluanku terasa agak serat waktu separo genitalianya masuk ke vaginaku. Digerak-gerakan pelan batang genitalianya yang besar melainkan sesudah agak lama entah kenapa rasa sakit itu sirna dan yang ada cuma ada rasa geli, sedap dan sedap dikala Indera menggoyangkan badannya maju mundur perlahan-perlahan aku tak bendung lagi seraya mendesah kecil keenakan. Kemudian kian kencang saja Indera memainkan jurusnya yang maju mundur kadang kala menggoyangnya ke kiri ke kanan, dan dipuntir-puntir putingku yang pink yang kian membuatku menggelepar-gelepar seperti ikan yang dilempar ke daratan.

Peluh telah membasahi badan kita berdua. Aku sadari jika ketika itu perbuatan kita berdua dapat saja dipergoki orang, melainkan aku rasa kemungkinanya kecil sebab kelas itu agak terpencil. “Ahh…, ahh…, ahh”, aku mendesah dengan bunyi kecil sebab takut kedengaran orang lain. Kulihat wajah Indera yang menutup matanya dan terenggah-engah napasnya.

Cukup lama juga Indera bermain denganku, memang benar kata orang jika atlet itu kuat dalam bersenggama. “Ahh…, aww…, aww”, geli dalam lubang kemaluanku tak tertahankan. Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang lain yang belum pernah kurasakan, cairan hangat kurasakan keluar dari dalam vaginaku.
Oh, itu mungkin yang kata orang orgasme pikirku. Badanku terasa rileks sekali dan mengejang. Mulutku ditutup oleh Indera mungkin dia takut jika aku mendesah terlalu keras. Meja kelas yang agak tua itu bergoyang-goyang sebab ulah kita berdua. Aku masih menikmati bagaimana Indera berupaya untuk menempuh puncak orgasmenya, lalu dia duduk di kursi dan menyuruhku untuk duduk di genitalianya. Aku berdasarkan saja dan perlahan-perlahan aku duduk di genitalianya. Indera mengendalikan pinggulku dan menaik-turunkan diriku. Aku belum pernah aku menikmati kenikmatan yang seperti ini. Aku mendesah-desah dan Indera kian motivasi menaik-turunkan diriku. Lalu badan Indera mengejang dan berkata, “Shin aku berharap keluarr”, kini malahan giliranku yang motivasi mengasah gerakan tubuhku supaya Indera dapat juga menempuh klimaksnya, melainkan lama Indera mengeluarkan penisnya dan terdengar dia mendesah panjang, “Ahh Shin…, Aku keluar”. Kulihat air maninya berceceran di lantai dan beberapa ada yang di meja. Lalu kami berdua duduk lemas dengan saling berpandangan. Dia berkata, “Kau nyesel yah Shin?”, aku menggeleng sambil berkata, “Nggak kok Ndra…, sekaligus buat pengalaman bagiku.”

Lalu tangannya yang kekar itu mulai menyentuh bibir kemaluanku dan mulai memainkan clitorisku sambil kadang kala mencubitnya. Aku yang benar-benar terstimulasi tak dapat berperilaku apa-apa kecuali mendesah dan menggeliat di atas meja. Cukup lama dia memainkan tangannya di kemaluanku, lalu dia mulai menjilati bibir komponen bawah kemaluanku dengan nafsunya, tangan kanannya masih memainkan clitorisku. Tak lama aku bertahan pada permainannya itu, kaprah-kaprah 5 menit kemudian, aku menikmati darahku naik ke ubun-ubun dan aku menikmati sesuatu kenikmatan yang amat luar awam, badanku meregang dan aku menikmati cairan hangat mengalir dari liang kemaluanku, Indera tanpa ragu menjilati cairan yang keluar sedikit demi sedikit itu dengan nafsunya hingga cuma air liurnya saja yang membasahi kemaluanku. Badanku terasa lemas sekali, lalu Indera duduk di pinggir meja dan memandangi wajahku yang telah berair bermandikan peluh.
Dia berkata padaku sambil tersenyum, “Kau menonjol capek banget ya Shin…”. Aku cuma tersenyum.

Ia mengambil pakaian basketnya dan mengelap cucuran peluh pada wajahku, aku benar-benar terkagum padanya, “Bagus banget nih cowo”, pikirku. Seperti telah paham, aku jongkok di hadapannya, lalu mulai mengelus-ngelus penisnya, sambil kadang kala menjilati dan menciuminya, aku juga tak tahu bagaimana aku dapat bereaksi seperti itu, yang ada di pikiranku cuma membalas perbuatannya padaku, dan sistem yang kulakukan ini pernah kulihat dari salah satu film yang pernah kutonton.
Indera cuma meregangkan badannya ke belakang sambil mengeluarkan bunyi-bunyi yang malahan makin membuatku mau memasukkan penisnya ke dalam mulutku, tak berapa lama kemudian aku mengendalikan pangkal genitalianya itu dan mulai membimbingnya masuk ke dalam mulutku, terasa benar ujung penisnya itu meraba dinding tenggorokanku dikala hampir segala komponen batang genitalianya masuk ke dalam mulutku, lalu aku mulai memainkan penisnya di dalam mulutku, terasa benar kemaluanku mulai mengeluarkan cairan berair lagi, petunjuk jika aku telah benar-benar terstimulasi padanya.

Kaprah-kaprah 5 menit aku menjalankan oral seks pada Indera, tiba-tiba badan Indera yang telah berair dengan peluh itu mulai bergoyang-goyang keras sambil dia berkata, “aarghh…, Aku udah gak bendung lagi nih Shin…, Aku berharap keluarr…”.
Aku yang tak benar-benar memerhatikan omongannya itu masih saja terus memainkan penisnya, hingga kurasakan cairan hangat kental putih dan agak asin keluar dari lubang alat kelamin Indera, aku segera mengeluarkan penisnya itu dan seperti kesetanan, aku malahan menelan cairan spermanya, dan malahan menghisap penisnya hingga cairan spermanya benar-benar habis. Aku duduk sejenak di kursi kelas, dan kuperhatikan Indera yang tiduran di meja sambil mencoba memelankan ritme napasnya yang terengah-engah.

Aku cuma tersenyum padanya, lalu Indera bangun dan menghampiriku, Ia juga cuma tersenyum padaku. Cukup lama kami berpandangan dengan situasi bugil dan berair berkeringat.
“Kau menawan dan bagus banget Shin”, katanya tiba-tiba. Aku cuma ngakak kecil dan mulai mengecup bibirnya. Indera membalas dengan nafsu sambil memasukkan tangannya ke dalam lubang kemaluanku. Cukup lama kami bercinta, lalu dia berkata, “Shin…, boleh nggak Aku emm…, itumu…”.
“Itu apa Ndra?”, tanya aku.
“Itu…, masa kau gak tahu sih?”, balasnya lagi.
sebelun aku menjawab, aku menikmati kepala batang genitalianya telah meraba bibir kemaluanku. “Crestt.., creest”, terasa ada yang robek dalam kemaluanku dan sedikit darah keluar.
Kemudian Indera berkata, “Shin kau rupanya masih perawan!”, aku cuma dapat tersenyum dan menikmati sedikit perih di kemaluanku terasa agak serat waktu separo genitalianya masuk ke vaginaku. Digerak-gerakan pelan batang genitalianya yang besar melainkan sesudah agak lama entah kenapa rasa sakit itu sirna dan yang ada cuma ada rasa geli, sedap dan sedap dikala Indera menggoyangkan badannya maju mundur perlahan-perlahan aku tak bendung lagi seraya mendesah kecil keenakan. Kemudian kian kencang saja Indera memainkan jurusnya yang maju mundur kadang kala menggoyangnya ke kiri ke kanan, dan dipuntir-puntir putingku yang pink yang kian membuatku menggelepar-gelepar seperti ikan yang dilempar ke daratan.

Peluh telah membasahi badan kita berdua. Aku sadari jika ketika itu perbuatan kita berdua dapat saja dipergoki orang, melainkan aku rasa kemungkinanya kecil sebab kelas itu agak terpencil. “Ahh…, ahh…, ahh”, aku mendesah dengan bunyi kecil sebab takut kedengaran orang lain. Kulihat wajah Indera yang menutup matanya dan terenggah-engah napasnya.

Cukup lama juga Indera bermain denganku, memang benar kata orang jika atlet itu kuat dalam bersenggama. “Ahh…, aww…, aww”, geli dalam lubang kemaluanku tak tertahankan. Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang lain yang belum pernah kurasakan, cairan hangat kurasakan keluar dari dalam vaginaku.
Oh, itu mungkin yang kata orang orgasme pikirku. Badanku terasa rileks sekali dan mengejang. Mulutku ditutup oleh Indera mungkin dia takut jika aku mendesah terlalu keras. Meja kelas yang agak tua itu bergoyang-goyang sebab ulah kita berdua. Aku masih menikmati bagaimana Indera berupaya untuk menempuh puncak orgasmenya, lalu dia duduk di kursi dan menyuruhku untuk duduk di genitalianya. Aku berdasarkan saja dan perlahan-perlahan aku duduk di genitalianya. Indera mengendalikan pinggulku dan menaik-turunkan diriku. Aku belum pernah aku menikmati kenikmatan yang seperti ini. Aku mendesah-desah dan Indera kian motivasi menaik-turunkan diriku. Lalu badan Indera mengejang dan berkata, “Shin aku berharap keluarr”, kini malahan giliranku yang motivasi mengasah gerakan tubuhku supaya Indera dapat juga menempuh klimaksnya, melainkan lama Indera mengeluarkan penisnya dan terdengar dia mendesah panjang, “Ahh Shin…, Aku keluar”. Kulihat air maninya berceceran di lantai dan beberapa ada yang di meja. Lalu kami berdua duduk lemas dengan saling berpandangan. Dia berkata, “Kau nyesel yah Shin?”, aku menggeleng sambil berkata, “Nggak kok Ndra…, sekaligus buat pengalaman bagiku.”


Agen Slot-Hai, perkenalkan namaku Andrew xx, si kecil bungsu pasangan Ronny xx dan Widya xx (samaran), Keduanya pengusaha-pengusaha senior di Indonesia. Sedangkan terlalu kecil untuk berkompetisi dengan Liem Sioe Liong atau Prajogo Pangestu, melainkan kami masih cukup punya namalah di Jakarta. Apalagi kalo di lokasi pabrik Papa di Semarang atau konveksi Mama di Tangerang.. Eh, saya lupa. Saya umum dipanggil Andru, melainkan di rumah saya dipanggil A Bee atau Abi. By the way, sesungguhnya ini yaitu kisah tahun 1990. Ya, ini yaitu kisah 13 tahun yang lalu..

Tahun itu, saya baru naik kelas 2 SMP. Umurku ketika itu masih 13 tahun dan akan 14 Desember nanti. Mm.. SMP-ku dahulu lumayan ngetop, kini ngga terlalu.. kini hanya tinggal ngetop mahal dan borjunya aja. Saya sendiri termasuk yang ‘miskin’ di sana, abis saya hanya didampingi jemput sama ciecie-ku aja sedang yang laen kadang dianter jemput sama sopir pake kendaraan beroda empat sendiri (baca: yang diberi ortunya buat ia)
Kakak perempuanku yang sulung, Sinta, melainkan dipanggilnya Sian buat temen sekolah/kuliahnya. Cie Sian baru-baru aja mulai kuliah. Usianya waktu itu 18 tahun. Sedang kakak perempuanku yang kedua, Sandra, yang umum dipanggil Sandra atau Apin, baru masuk SMA dan usianya 15. Hehehe.. kalo berangkat saya dan Cie Pin menyukai nebeng Cie Sian. Namun kalo pulang, Cie Pin naik bus sedang saya dijemput Cie Sian. Namun mulai kelas 2 ini saya telah bertekat pulang naik metro mini atau bajaj sama temen-temen. Cie Sian cuman tersenyum aja saya bilang gitu..
Agen Playtect-Hanya gara-gara naik bus itu, Tante Vi, sekretaris Mama khusus buat di rumah âۉ€Å“dan gara-gara kekhususannya itu kami menyukai ejek ia butler alias “kepala pelayan” hehehe- jadi sedikit sewot. Namun pantasnya, uang sakuku jadi bertambah. Katanya sih buat naik taksi atau makan di jalan kalo laper. Ya, lumayanlah. Buat ukuran si kecil SMP tahun 1990, yang walaupun di sekolahan termasuk yang miskin, melainkan uang sakuku yang duaratus ribu sehari mungkin ngga kebayang sama temen-temenku yang sok kaya. Lagian saya buat apa bilang-bilang.. kalo gini kan ketauan mana yang temen mana yang bukan.. soalnya si kecil SMP ku itu dari dulunya, juga pada waktu itu, malahan hingga kini. Tenar matre.

Well, dan gara-gara kata matre itu pula yang bikin saya dapat ngeseks sama Vonny, si kecil kelas 3 yang benar-benar menawan melainkan benar-benar memilih pasangan jalannya itu. Juga sama Mbak Maya, temen SMA nya Cie Pin. Hehehe, untung aja Ci Pin ngga pernah tau sampe kini.. pasti heboh waktu itu kalo ia tahu.

Eh, melainkan.. saya pertama kali ngerasain yang namanya ‘ngentot’ bukan sama mereka ini loh.. Pasti kalian ngga pernah kebayang deh sama siapa saya pertama kali ngerasain badan cewek. Oh, bukan sama Tante Vi tadi.. apalagi sama perek atau pelacur (itu sih jijay!hii..) Berharap tahu? Sama seorang sales promotion girl bernama Marlena.

Di Baca Juga : Perselingkuhanku Dengan Jonas

Ceritanya, siang-siang pulang sekolah kami iseng pengen tau seperti apa sih yang namanya Pameran Produk Indonesia (PPI) di silang Monas. Well, kami liat-liat di sana terbukti sepi-sepi aja selain di sebagian stand/gedung pameran seperti kendaraan beroda empat. Dan di stand itulah ketika itu saya tersadar telah terpisah sendirian dari temen-temenku.. Rese’ nih pada ngga bilang-bilang kalo kehilangan..

“Siang, Ko.. pulang sekolah ya?” seorang dara putih manis berlesung pipit dan berbulu ikal sepundak menegurku dengan senyum yang paaling cantik cantik yang pernah kusaksikan seumur hidupku. Saya balas tersenyum pada SPG yang ramah melainkan agak sok akrab itu, “Iya Cie..”, Saya panggil ia Cie karena terang-terang usianya lebih tua ketimbang saya, mungkin 21 atau 22 tahunan. Saya kan masih 13 tahun dan pasti keliatan sebab saya kurus, kecil, pendek, dan masi pake celana SMP..

Ciecie itu ngakak sumringah, “Ih, kau ini pasti lantas kemari abis sekolah.. nakal, ya?!” candanya dengan senyum menarik hati. Saya terkekeh juga, sedangkan rada keki dibilang nakal, “Emang iya. Namun saya kan udah bilang Cie Sian berkeinginan kemari..”, Ciecie itu tersenyum ramah, “Ciecie kau usia berapa?”, “18..”, jawabnya.

Ia tersenyum, “Mmh ya bolehlah.. berarti kau ngga kelayapan..”
Saya ngakak, “Hehehe ciecie dapat aja.. ”
Lalu saya menudingnya, “Ciecie ini namanya siapa?”
Dengan gaya bak peragawati, ia membenarkan posisi nametag-nya yang miring sehingga bisa terang kubaca, “M-a-r-l-e-n-a.. Namanya menawan, Cie..”
Ia tersenyum, “Aduh makasih banget, tapinya ngga ada recehan nih.. pake brosur aja ya?”
Saya tersenyum dan mengambil juga brosur yang dia tawarkan.
“Wow, ni kendaraan beroda empat keren juga, nih..” saya hingga bersiul kagum-terkagum pada barang dagangannya.. (well, ketika itu teknologi DOHC baru pertama kali timbul di Indonesia.. wajar dong kalo saya ketika itu terkagum berat..)
“Iya, dong.. siapa dahulu yang jualan” katanya tersenyum sambil menepuk dada.

Dan ketika itulah saya mulai memandang pakaian kausnya ketatnya yang menampilkan buah dadanya yang lumayan besar.. hmm.. dan rok mininya yang ketat tipis sepaha itu, seolah-olah sekiranya kakinya terbuka sedikit lebih lebar karenanya saya bisa memandang celana dalamnya.. Karenanya tak usah ditunggu lagi, saya langsung mencontoh kemanapun dia bergerak menjelaskan presisi dan kesanggupan kendaraan beroda empat itu, sambil berterima kasih jadi orang pendek.

Hehehee.. Beneran deh, dengan tinggiku ketika itu yang 134 cm, kalian seolah-olah dapat mengintip isi rok mini Cie Lena yang tingginya 170 cm lebih dan pake sepatu hak tinggi pula. Makanya saya tak menyia-nyiakan kans untuk duduk di dalam kendaraan beroda empat sementara ciecie itu membeberkan dari luar dengan sebelah kaki menginjak sandaran kaki..
Namun saya yakin mukaku menjadi kemerah-merahan, karena ciecie ini dari tadi bagaikan ngakak maklum dan betul-betul sapuan matanya menyapu wajahku terus-menerus.. hingga tiba-tiba saya bagai tersadar dari lamunan..

“..gimana? udah keliatan belon?”
saya terkaget-terkejut di daerah duduk menatap wajahnya yang tersenyum manis, “apanya, nih?”
ia tersenyum lalu gerakan matanya menunjuk arah diantara kedua kakinya yang membuka sambil berkata perlahan, “..celana dalemnya ciecie..”

nah, kebayang kan gimana malunya dan merahnya mukaku ketika itu ditembak lantas semacam itu.. untung ia ngomongnya ngga kenceng. Lalu ia mendekatkan diri padaku dan berkata, “dari tadi ciecie liat kau berupaya liat dalemannya ciecie, jadi tadi ciecie sengaja angkat kaki sedikit biar kau engga penasaran.. udah liat, kan? Ciecie pake warna cokelat muda..”. Saya yakin mukaku semerah kepiting rebus. Namun Cie Lena tersenyum maklum dan membimbingku bangkit dari daerah duduk sopir dan berkata keras, “Turut Ciecie ya Ko kecil.. Ciecie akan kasi liat kesanggupan ini kendaraan beroda empat agar dapat bilang-bilang sama Papa, ya?”

Dan seorang pria muda berdasi yang berdiri tak jauh dari kami tersenyum lebar mendengar ucapannya itu sambil mengacungkan ibu jari. Namun kulihat Cie Lena cuek aja, pun mengerdipkan sebelah matanya padaku.
Kami menuju pekarangan parkir luar dimana sebuah kendaraan beroda empat serupa dipamerkan âۉ€Å“dan nampaknya dapat dicoba. Cie Lena memintaku duduk di depan sedang ia sendiri menyetir.

Gugup juga saya waktu liat ia di bangku sopir duduk agak mekangkang sehingga dengan rok mini super pendeknya saya tahu pasti terdapat celah terbuka yang sekiranya saya duduknya maju sedikit pasti saya dapat memandang.. ehmm.. anunya.. yang katanya cokelat muda itu..

Cie Lena ngakak geli melihatku rada panik. Melajukan kendaraan beroda empat keluar rumit silang Monas, dia berkata, “Nah kini kau dapat liat celana dalam Ciecie puas-puas tanpa perlu takut ketauan..”
Saya benar-benar malu. Namun saya tak dapat membendung diriku untuk menyandarkan kepalaku ke dashboard sehingga dapat mengintip sesuatu diantara kedua paha mulus ciecie ini..

Ia tersenyum, “Namamu siapa sih, Say?”
“A Bee.”
Ia tersenyum, “Nama yang baik.”
Lalu ia menoleh menatapku sejenak, “Kau belum pernah liat cewek telanjang ya, Say?”
Saya menggeleng perlahan.
“Pengen tau, ya?” ia tersenyum, “Pasti pernah nyoba ngintipin ciecie-mu ya?”
Kali ini saya mengangguk perlahan.
Ia ngakak.
“Berharap liat Ciecie telanjang ngga, Say?”
Saya hanya dapat menelan air liur gugup. Ciecie seseksi ini berkeinginan telanjang di depanku?
Ia tersenyum, “Namun Say, Ciecie boleh meminta duit kau sedikit ya? Ciecie perlu bayar uang kuliah sama beli buku nih..”
Saya masih terdiam membayangkan ia telanjang di depanku.. Waah, pasti di antara kakinya itu ada..
“Kau boleh liat badan Ciecie semuanya, Say..” katanya memutus lamunanku, “Ciecie sayang sama kau, abis kau mungil sih..”
“Ciecie emang butuhnya berapa duit?” saya memberanikan diri bertanya.
Ia tersenyum dan jarinya menunjuk angka 1..
“I Pay..”
Hanya segitu? Yah, kalo hanya segitu sih.. uang sakuku sehari juga lebih dari itu.. Aduh, dengan uang segitu, ia berkeinginan telanjang di depanku agar ia dapat kuliah..
“Cie..” kataku nekat, gejolak di kepalaku telah memuncak di nafas dan kontolku nih..
“..tapinya saya boleh kecup Ciecie, ya?”
Cie Lena agak terkejut, saya terlalu polos atau kurang didik, ya?
Namun ia tersenyum.
“Makasih, A Bee Sayang..”

Lalu, Cie Lena menuntun kendaraan beroda empat model itu ke sebuah daerah di Kota (saya ngga tau namanya, waktu itu kami kan tinggalnya di Pondok Cantik sedang sejauh-jauhnya saya main kan hanya di Blok M). Dia memasukkan kendaraan beroda empat ke garasi sebuah rumah kecil di pemukiman yang padat dan jalannya ampun deh jeleknyaa..

Lalu Cie Lena menyilakan saya keluar. Sempat kulihat dia tersenyum pada seorang Empeh-empeh yang via, Kudengar dia membahasakan saya ini adik sepupu yang hari ini dititip sebab orang tuanya sedang pergi. Wah, jikalau sampe sebegitu-begitunya, ini pasti beneran daerah tinggalnya.. Lalu saya menirunya masuk ke dalam rumah itu. (Hihihi saya amati dia mengambil si kecil kunci pintu depan dari balik keset.. Kalo saya maling, habis telah isi rumah ini..)

“Ini kontrakan Ciecie..” katanya sambil menunjuk ke ruangan dalam, “Ciecie tinggal berempat di sini.”
“Yang lainnya kalo ngga kerja ya kuliah..” katanya ketika saya bertanya mana yang lain.

Dia membuka kamarnya dan menyilakan saya masuk sementara dia ke ruangan lain âۉ€Å“mungkin mengambil minuman. Saya amati kamarnya benar-benar rapi, mirip seperti kamarnya Ci Sian. Bedanya cuma buku-buku kuliahannya benar-benar sedikit sedang di kamarnya Ci Sian kemanapun kita mengamati isinya buku.. Ah, Ciecie ini memang butuh bantuan banyak.

Lalu Cie Lena datang membawa minuman. Tersenyum ramah. Meletakkan gelas di meja belajarnya lalu mengunci pintu dan berdiri bersandar di pintu sambil memandangiku. Saya duduk di bangku belajarnya, separuh gugup. Habis ini, saya akan memandang cewek bugil autentik-aslian di depanku.. Nampaknya ia benar-benar paham kegugupanku sebab dia lalu berjongkok di sampingku dan memelukku erat-erat. Menciumku perlahan. Lalu berkata, “Udah siap liat bodi Ciecie?”, Saya mengangguk pelan. Ia tersenyum dan berdiri sambil membelai pipiku. Dia mulai berdiri menjaga sedikit jarak supaya saya dapat memandang segala dengan terang.

Sebenarnya kalo dipikir-pikir ketika itu dia menjalankannya dengan pesat, kok.. Namun dalam tegangku, segala gerakannya jadi slow motion. Dia mulai dengan membuka kaus ketat tipisnya. Melemparnya ke daerah tidur. Tersenyum lebar, dia menepuk perutnya yang putih kecoklatan itu sambil membikin gerakan menciumku.. Lalu dia menarik sesuatu di belakang rok mininya sehingga terjatuh dia menutupi jemari-jemari kakinya memperlihatkan celana dalam cokelat muda yang tadi dia katakan..

Hingga di sini, saya tak kuat duduk.. batang kontolku menegang dan sakit kalo saya konsisten duduk. Dia pun mendekat dan memelukku. Mmmhh.. sedangkan jadi sedikit sesak nafas, melainkan saya benar-benar bahagia.. wajahku sekarang terbenam di antara belahan buah dadanya.. sedang perutnya melekat pada dadaku.. Oh, saya tentu saja balas memeluknya.. dan terpeluk olehku pinggul dan bokongnya yang sekel itu.. Dan ketika terpegang olehku celana dalamnya, spontan saya masukkan jari-jariku ke dalamnya, membuatnya menjerit kecil.. “Aih.. ngga sabaran banget sih Ko kecilku ini..”

Spontan dia melucuti celana dalamnya lalu mengangkat kaki kirinya memeluk pantatku sehingga rambut tipis jembutnya menggesek-gesek perutku.. Aduh ciecie ini.. saya kan pengin liat.. Namun dia menciumku di pipi dan membimbingku ke cermin yang tertempel di lemarinya menampakkan segala badan telanjangnya selain di sekitar tetek itu.. Saya paham. Saya ke belakangnya dan membuka kaitan BH nya sehingga menonjol juga kesudahannya puncak gunung yang cokelat muda cantik itu.. membuatku langsung menarik tubuhnya menghadapku.. dan mulai meremasinya buah dada itu.. Dia sedikit melenguh dan terduduk di bangku.. Menyandarkan punggungnya di sandaran bangku sehingga dadanya membusung sedang posisi pinggul dan otomatis memeknya tersodor bagai mau disampaikan.. Saya ciumi teteknya itu lalu saya hisap kuat-kuat membuatnya menggelinjang hingga kesudahannya dengan satu sentakan dia mendorongku jatuh ke daerah tidurrnya..
Dia bangkit berdiri separuh membuka pahanya sambil bertolak pinggang menampilkan dadanya yang masih mancung dan ranum itu..

Aduh saya ngga kuat lagi. Saya buka celana ku sehingga batang kontolku mencuat keluar dengan bebas mengambil posisi tempur.. kucopot juga bajuku sehingga tinggal singletku. Sementara itu dia cuma tersenyum saja.
Lalu dia membatasi kontolku, yang langsung saja kian tegang dan membesar..
“Aduh si Ko kecil ini..” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala, “Udah kerangsang, ya?”
“Iya, cie.. ”
Ia hanya tercekikik, dengan genggamannya membendung kulit kulup ku supaya tak menutupi kepala kontolku, dia menotol-notolkan telunjuknya pada kepala kontolku.. dan tiap kali jarinya meraba kulit kepala kontolku, tiap kali itu saya merasa tersetrum oleh rasa geli-geli yang aneh..
“Hhh..,” saya hingga mendesah kenikmatan, “Cie, ‘maen’ yuk?”
Ia menatapku geli..
“Maen petak umpet?”
Saya menggeleng tidak tabah, “Bukaan. Kayak yang di film-film..”
“Film apa? Donald Duck?”

“Be Ef, Cie.. Ngentot..” kesudahannya keluar juga kata itu dari mulutku..
Namun ia pun menowel hidungku, “Kecil nakal, ya? Kau-kecil udah nonton BF. Kau udah pernah ‘maen’, ya? sama siapa?”
Saya menggeleng perlahan, “Nonton doang. Pengen sama Ciecie..”
“Namun ciecie mana puas ‘maen’ sama kau. Kau kan masih si kecil kecil..”
Lalu ia menunjuk burung-ku
“Punya kau itu kekecilan. Lagian kau orang kan belum pernah ‘maen’, belon tau patut ngapain..”
Adduuh.. saya udah kepengen banget niih..
“Cie Len.. boleh dong, ya? saya kasi Ciecie tiga ratus deh..” saya merengek..
Ia pun ngakak, “Kau ini patut si kecil orang super kaya.. membuang duit kayak membuang sampah..”
Adduuh.. bantu Cie.. cepet dong..
Ia lalu mengecup bibirku sehingga batang kontolku tidak urung meraba tempat sekitar pangkal pahanya..

“Duit segitu itu setengah uang kuliah Ciecie satu semester, tau nggak?!”
Adduuh Ciecie ini gimana sii.. saya udah ngga bendung nii..
“Cie Len.. ayo dong Cie..”
Cie Lena menghela nafas panjang, lalu menatapku sambil menggigit-gigit bibirnya sebelum kesudahannya berkata “Sebenarnya Ciecie ngga pengen semacam ini. Tadinya niat Ciecie sama kau tuh hanya telanjang aja..”
“Namun Ciecie memang butuh uangnya..”
Lalu dia menghela nafas panjang lagi, “Namun kau ini masih si kecil kecil. Ciecie ngga berkeinginan ngerusak kau..”

Saya menatapnya protes. Dia pasti memandang tatapan protesku, melainkan dia menonjol berdaya upaya keras. Namun kesudahannya dia menggelengkan kepala lalu mengecup bibirku. Lalu tubuh telanjangnya itu menengkurap menindih tubuh telanjangku..Dia menciumiku sementara tangan kirinya meraba-sentuh kepala kontolku dan ampun deh rasanya luar umum.. (terbukti butuh sebagian tahun kemudian baru saya sadar kalo orang belum pernah kepegang cewek, cukup diraba kepala kontolnya rasanya telah selangit..)

Saya meronta, menggelinjang keenakan.. sekalian tak puas.. saya mau ngentot! Dan akhirmya dia memenuhi keinginanku.. dia menapakkan kaki kirinya di atas ranjang sedang kaki kanannya di lantai, dalam posisi separuh berlutut sehingga kepala kontolku (yang mungkin masi terlalu kecil buat ia sebab usiaku toh juga masi kecil) sedikit melesak di antara dua bukit berhutan jarang itu.. Lalu.. dia menekan bokongnya sedang dia membusungkan dadanya dan mendongak sehingga pandanganku cuma berisi payudara dan puting susu kecoklatannya itu.. plus bonus ujung hidungnya..

Slepp.. nampaknya kepala kontolku telah mulai melesak masuk.. Dia lalu mengambil posisi berlutut, kedua lututnya tertekuk di atas kasur dan pinggulnya menindihku.. Lalu dia sekali lagi mendesakkan pinggulnya.. Bless.. kesudahannya masuk juga.. Saya terpikat menikmati friksi kontolku dengan dinding dalam memeknya.. Dia tersenyum lagi. Lalu mulai menggoyang-goyangkan bokongnya.. membikin sensasi luar umum pada tiap gerakannya yang membikin kontolku bergesekan dengan dinding memeknya.. Ohh.. hh.. Badanku rasanya perlahan-perlahan terbakar oleh perasaan geli-geli yang menjalar yang dingin..

Lalu dia kian mempercepat gerakannya. Sedap jalaran geli tadi kian melebar ke segala permukaan kulit tubuhku dan pada ketika nampaknya tidak tertahankan lagi.. tiba-tiba..
Srr.. srr.. srr.. kurasakan saya ‘kencing’ dan perasaan geli itu mulai menguap meninggalkan bekas bergetar dingin pada sekujur badanku.. Gerakan Cie Lena stop.. Kontolku telah terlalu lemas sehingga tak bisa bertahan lebih lama dalam liang memeknya.. Cie Lena memelukku sekali lagi.. Menciumku..

“Gimana, Bee..? Kesampaian, ya..?” katanya dengan senyum menarik hati..
“Aku kan ‘maen’ sama Ciecie..?”
Saya.. saya tak bisa menjawab. Saya menutup mataku saja sambil tersenyum lebar..
Dan saya pikir ia puas dengan jawaban itu. Soalnya ia mulai menciumku dan memainkan burungku sekali lagi dengan jemari lentiknya..

Ah.. Cie Lena.

Tetapi ini, 13 tahun kemudian, ia masih belum menikah dan sekarang berprofesi sebagai karyawanku di sebuah wilayah perkantoran di xx.. Ya tentu saja kami masih sering kali menjalankannya. Namun mungkin tak terlalu sering kali sebab kami masing-masing telah punya pacar.  saja, dikala kenangan atau gairah itu datang, sedang pacarku tak ada di daerah, saya tahu ke mana saya dapat menyalurkan hasratku..

Agen Playtech-Cerita ini dimulai dari ingatanku waktu dahulu masih sekolah, pasti ada saja salah satu guru yang menjadi unggulan. Inilah yang melatar belakangi Cerita Sex Panas yang akan aku ceritakan untuk anda segala. Mungkin banyak juga yang menjagokan ibu guru, apalagi ibu guru indah, dan menyukai berpenampilan seksi, jadi pengen ngentot ibu guru kan, dari mulanya menghayal sampailah pada onani , okelah ini yakni cerita dewasa seputar pengalaman murid yang dapat bercumbu dengan ibu guru nya sendiri, cerita sex hot dan mungkin akan membikin anda senat senut. Mungkin . bukan cerita seks ibu dosen, melainkan cerita seks ibu guru.

Sebagai siswa sebuah SMU Swasta, saya bukanlah murid yang mahir melainkan juga tak bodoh-bodoh benar-benar. Lazim-lazim saja. Tak dapat dibanggakan. Yang dapat saya banggakan yakni wajahku yang tampan dengan format tubuh yang atletis. Tinggi jangkung dan berat yang berimbang. Dan paling saya banggakan yakni ukuran kemaluanku yang luar lazim besarnya, panjangnya 22 cm dengan diameter 5 cm. Membikin dengki sahabat laki-lakiku.

AGEN SLOT-Namaku Doni, cukup familiar di sekolahku. Mungkin sebab saya jahil dan tak jarang berganti-ganti cewek. Banyak sahabat sekolahku yang pernah saya tiduri. Mereka tergila-sinting sesudah merasakan jalan tolku yang luar lazim dan bendung lama jika bersetubuh.

Petang itu, sesudah segala pembelajaran selesai saya bergegas pulang kerumah. Segala buku-buku telah kumasukkan kedalam ransel. Kustart sepeda motorku menuju jalan raya. Tetapi di tengah perjalanan saya baru ingat, pulpenku ketinggalan di dalam kelas. Dengan tergesa-gesa saya balik lagi ke sekolahku. Sesudah mengambil kembali pulpenku, saya berjalan lagi menuju parkir sepeda motorku. Untuk menempuh daerah parkir, saya sepatutnya via ruangan guru.
Dikala via ruangan guru-guru, saya mendengan bunyi mendesah-desah disertai rintihan-rintihan kecil. Saya penasaran dengan bunyi-bunyi itu. Saya mendekati pintu ruangan, bunyi-bunyi itu kian keras. Saya kian penasaran dibuatnya. Kubuka pintu ruangan, dengan berjalan mengendap-endap, saya mencari tahu darimana datangnya bunyi-bunyi itu. Seperti mendekati ruangan Bu siska, saya kaget. Disana kulihat Bu Siska, guru bahasa Inggrisku yang sudah setahun menjanda, sedang bercinta dengan Pak Rio, guru olahragaku, dalam posisi berdiri.


Bibir mereka saling cium. Lidah mereka saling sedot. Tangan Pak Rio meremas-remas bokong Bu Siska yang padat, padahal tangan Bu Siska melingkar dipinggang Pak Rio. Mereka yang sedang asik tidak tahu akan kehadiranku. Saya mendekati arah mereka. Saya membungkukkan badan dan ngumpet dibalik meja, mengintip mereka dari jarak yang amat dekat.

Mereka menyudahi bercinta, kemudian Pak Rio duduk dipinggir meja, kakinya menjuntai kelantai. Bu Sisca berdiri didepannya. Bu siska mendekati Pak Rio, dengan buasnya ia menarik celana panjang Pak Rio. Tidak tertinggal celana dalam Pak Rio juga diembatnya. Sampai Pak Rio separuh telanjang. Bu Siska menguru-urut jalan tol Pak Rio. jalan tolnya yang tak seperti itu besar, sedikit demi sedikit menegang. Bu Siska membungkukkan tubuhnya, sampai wajahnya ideal diatas selangkangan Pak Rio. jalan tol Pak Rio diciuminya.

“Isep.. sayang.. isep.. jalan tolku” suruh Pak Rio.
Bu Siska tersenyum mengangguk. Ia mulai menjilati kepala jalan tol Pak Rio. Terus turun kearah pangkalnya. Bu Siska amat mahir memainkan lidahnya dijalan tol Pak Rio.
“Oohh.. enakk.. sayang.., truss.., truss”.

Pak Rio mengerang saat Bu Siska mengulum jalan tolnya. Segala batang jalan tol Pak Rio masuk kemulutnya. jalan tol Pak Rio maju mundur didalam mulut Bu Siska. Tangan Bu Siska mengurut-urut buah pelirnya. Pak Rio menikmati sedap yang luar lazim. Matanya merem melek. Bokongnya diangkat-angkat. Saya amat terstimulasi mengamati panorama itu. Kuraba-raba jalan tolku yang menegang. Kubuka retsleting celanaku.Kukocok-kocok jalan tolku dengan tanganku. Birahiku memuncak. Mau rasanya saya bergabung dengan mereka, melainkan harapan itu kutahan, menunggu ketika yang ideal.

Lima belas menit berlalu, Pak Rio menarik dan menjambak kepala Bu Siska.
“Akhh.., akuu.. mauu.., ke.. keluar sayang” Pak Rio menjerit histeris.
“Keluarin aja sayang, saya berharap meminumnya” sahut Bu Siska.
Bu Siska tidak mempedulikannya. Kian pesat dikulumnya jalan tol Pak Rio dan tangan kanannya mengocok-ngocok pangkal jalan tol Pak Rio seirama kocokan mulutnya. jalan tol Pak Rio berkedut-kedut, otot-ototnya menegang.

Dan crott! crott! crott! Pak Rio menumpahkan spermanya didalam mulut Bu Siska. Bu Siska meminum cairan air mani itu. jalan tol Pak Rio terus dijilatinya, sampai semua sisa-sisa air mani Pak Rio bersih. jalan tol Pak Rio kemudian mengecil didalam mulutnya.

Pak Rio yang telah menempuh orgasme kemudian turun dari meja.
“Kau puas sayang dengan serviceku” tanya Bu siska.
“Puas sekali, kau pitar sayang” puji Pak Rio sambil tersenyum.
“Gantian sayang, kini giliranmu memberiku kepuasan” pinta Bu Siska.
Bu Siska melepaskan gaunnya, juga baju atasnya, sampai ia telanjang bulat. Astaga terbukti Bu Siska tidak mengaplikasikan apa-apa dibalik gaunnya. Saya bisa mengamati dengan terang lekuk tubuh mulusnya, putih bersih, ramping dan sexy dengan buah dada yang besar dan padat, juga format tempenya yang cantik dihiasi bulu-bulu yang dicukur tipis dan rapi.

Bu Siska kemudian naik keatas meja, kakinya diselonjorkan kelantai. Pak Rio mendekatinya. tempe Bu Siska diusap-usp dengan tangannya. Jari-jarinya dimasukkan, mencucuk-cucuk tempe Bu Siska. Bu Siska menjerit sedap.
“Isep sayang, isep tempeku sayang” pinta Bu Siska menghiba.
Pak Rio menurunkan wajahnya mendekati selangkangan Bu Siska. Lidahnya dijulurkan ketempe Bu Siska. Disibaknya bibir tempe Bu Siska dengan lidahnya. Pak Rio mulai menjilati tempe Bu Siska.
“Oohh.. truss.. sayang.., jilatin terus.., akhh” Bu Siska mendesah.
Pak Rio dengan lihainya memainkan lidahnya dibibir tempe Bu Siska. Dihisapnya tempe Bu Siska dari komponen luar kedalam. tempe Bu Siska yang merah dan berair dicucuk-cucuknya. Kelentitnya disedot-sedot dengan mulutnya.
“Oohh.., enakk.., truss.., truss.., sayang” jerit Bu Siska.

Hampir semua komponen tempe Bu Siska dijilati Pak Rio. Tanpa sejengkalpun dilaluinya.
“Akkhh.., akuu.. mauu.. ke.. keluar.. sayang” erang Bu Siska.
tempenya berkedut-kedut. Otot-otot tempenya menegang. Dijambaknya rambut Pak Rio, dibenamkannya keselangkangannya.
“A.. akuu.., keluarr.., sayang” Bu Siska menjerit histeris saat menempuh orgasme. tempenya amat berair oleh cairan spermanya. Pak Rio menjilati tempenya sampai bersih.

“Kau puas Sis?” tanya Pak Rio ********
“Belum! Entot saya sayang, saya berharap menikmati jalan tolmu” pinta Bu Siska.
“Maaf Sis! Saya tidak dapat, saya sepatutnya pulang”.
“Nanti istriku curiga, saya pulang petang” sahut Pak Rio menolak.
“Kau penakut Rio! Diberikan nikmat aja takut!” kata Bu Siska sebal.
Matanya meredup, memohon pada Pak Rio. Pak Rio tidak mempedulikannya. Ia mengenakan celananya, kemudian berlalu meninggalkan Bu Siska yang menatapnya sambil memohon.

Ini kesempatanku! Pikirku dalam hati. Nafsu birahiku yang telah memuncak mengamati mereka saling isap, berharap disalurkan. Sesudah Pak Rio berlalu, kudekati Bu Siska yang masih rebahan diatas meja. Kakinya menggantung ditepi meja. Dengan hati-hati saya berjalan mendekat. Kulepaskan pakaian seragamku, juga celanaku sampai saya telanjang bulat. jalan tolku yang telah menegang, mengacung dengan bebasnya. Hingga didepan selangkangan Bu siska, tanganku menyentuh-raba paha mulusnya. Rabaanku terus keatas kebibir tempenya. Ia melenguh. Kusibakkan bibir tempenya dengan tanganku. Kuusap-usap bulu tempenya. Kudekatkan mulutku keselangkangannya. Kujilati bibir tempenya dengan lidahku.

“Si.. siapa.., kau” hardik Bu Siska saat tahu tempenya kujilati.
“Hening Bu! Aku Doni murid Ibu! Aku Mau memberi Ibu kepuasan seperti Pak Rio” sahutku penuh nafsu.
Bu Siska tak menyahut. Merasa memperoleh angin segar. Saya kian berani saja. Nafsu daya seksualitas Bu Siska yang belum tuntas oleh Pak Rio membuatnya mendapatkan kehadiaranku.

Saya melanjutkan aktivitasku menjilati tempe Bu Siska. Lubang tempenya kucucuk dengan lidahku. Kelentitnya kusedot-sedot.
“Oohh.., truss.. Don.., truss.. isep.. sayang” pintanya memohon.
Hampir tiap-tiap jengkal dari tempe Bu siska kujilati. Bu Siska mengerang membendung nafsu daya seksualitasnya. Kedua kakinya terangkat tinggi, menjepit kepalaku.

Lima belas menit berlalu saya menyudahi aktivitasku. Saya naik keatas meja. Saya berlutu diatas tubuhnya. jalan tolku kuarahkan kemulutnya. Kepalanya telentang. Mulut terbuka menyambut ketidakhadiran jalan tolku yang tegang penuh.
“Wow! Gede sekali jalan tolmu!” katanya sedikit kaget.
“Isep Bu! Isep jalan tolku!” pintaku.

Bu Siska mulai menjilati kepala jalan tolku, terus kepangkalnya. Trampil sekali ia memainkan lidahnya.
“Truss.. Buu.. teruss.., isepp” saya mengerang menikmati sedap.
Bu Siska menghisap-isap jalan tolku. jalan tolku keluar masuk didalam mulutnya yang penuh sesak.

“Akuu.. tidak.., tahann.., sayang! Entot saya sayang” pintanya.
“Ya.., ya.. Buu” sahutku.
Saya turun dari meja, berdiri diantara kedua pahanya. Kugenggam jalan tolku, mendekati lubang tempenya. Bu Siska melebarkan kedua pahanya, menyambut jalan tolku. Sedikit demi sedikit jalan tolku menjelang lubang tempenya. Kian lama kian dalam. Sampai seluruhnya amblas dan terbenam. tempenya penuh sesak oleh jalan tolku.
Saya mulai mengerakkan pantatku maju mundur. Klecot!Klecot! Bunyi jalan tolku saat bertarung dengan tempenya.
“Ooh.., nik.. matt.., sayang.., truss” Bu Siska mendesah.

Kuangkat kedua kakinya kebahuku. Saya bisa mengamati dengan terang jalan tolku yang bergerak-gerak maju mundur.
“Ooh.., Buu.., enakk.. banget.., tempemu.., hangat” desahku.

Sekitar tiga puluh menit saya menggenjotnya, kurasakan tempenya berkedut-kedut, otot-ototnya menegang.
“Akuu.., tidak.. bendung.., Don, saya.. berharap.. keluarr” jeritnya.
“Bendung.. Buu.., saya.. masih tegang” sahutku.
Ia bangun duduk dimeja mengatur pinggangku erat-erat, mencakar punggungku.
“Akkhh.., akuu.. keluar” Bu Siska menjerit histeris.
Napasnya memburu. Dan kurasakan tempenya amat berair, Bu siska menempuh orgasmenya. Ibu guruku yang telah berumur 37 tahun menggelepar menikmati nikmatnya kusetubuhi.

Saya yang masih belum keluar, tidak berharap rugi. Kucabut jalan tolku yang masih tegang. Kuarahkan kelubang duburnya. Kedua pahanya kupegang erat.
“Ja,.jangan.., Don” teriaknya saat kepala jalan tolku meraba lubang duburnya.
Saya tidak memperdulikannya. Kudorong pantatku sampai separuh batang jalan tolku masuk kelubang duburnya yang sempit.
“Aow! Sakitt.. cabutt.., Don.., saya.. sakitt.. jangan” teriaknya keras.
Kusodok terus sampai semua batang jalan tolku amblas. Kemudian dengan pelan melainkan pasti kugerakkan pantatku maju mundur.

Teriakan Bu Siska mengendor. Berganti dengan desahan-desahan dan rintihan kecil. Bu Siska telah dapat merasakan sentuhan jalan tolku dianusnya.
“Jadi dicabut ngga Bu” candaku.
“Jangan sayang, nikmat banget” katanya sambil tersenyum.

Kusodok terus lubang duburnya, kian lama kian pesat. Bu Siska menjerit-jerit. Kata-kata kumal keluar dari mulutnya. Saya kian mempercepat sodokanku saat kurasakan akan menempuh orgasme.
“Buu.., akuu.. mauu.. ke.. keluarr” saya melolong panjang.
“Akhh.. akuu juga sayang” sahutnya.

Crott! Crott! Crott! Saya menumpahkan air mani yang amat banyak dilubang duburnya. Kutarik jalan tolku. Kuminta ia turun dari meja untuk menjilati jalan tolku. Bu Siska menurutinya. Ia turun dari meja dan berlutut dihadapanku. jalan tolku dikulumnya. Sisa-sisa spermaku dijilatinya hingga bersih.

“Kau hebat Don, saya puas sekali” pujinya.
“Saya juga Bu” sahutku.
“Baru kali ini tempeku disusupi jalan tol yang amat besar” katanya.
“Ibu berharap khan terus menikmatinya” kataku.
“Tentu sayang” jawabnya sambil berdiri dan mencium bibirku.

Kami beristirahat sehabis merengkuh kenikmatan. Kenikmatan berikutnya kudapatkan dirumahnya. Bu Siska, guruku terbukti hyperseks. Ia kuat sekali ngentot. Satu malam dapat hingga empat kali



AgenPlaytech-Papah dan mamahku sesudah menikah sekitar 20 tahun mereka cuma dikaruniai seorang si kecil ialah saya, Saya merupakan si kecil tunggal. Mamahku merupakan seorang perempuan yang disiplin dan keras walaupun papahku kebalikannya malahan dapat dikatakan bahwa papah berada dibawah kekuasaan mamah. Dapat dikatakan mamah lah yang lebih berkuasa dan mengontrol semua-galanya dalam keluargaku. Melainkan, meski mamah keras, diluar rumah saya termasuk ABG yang jahil dan sering kali gonta-ganti pacar, tentunya tanpa sepengetahuan mamahku.

Melainkan suatu dikala, saat itu saya kelas 3 SMU, mamahku pergi menjenguk nenekku yang sakit didesa. Mamah akan didesa kurang lebih seminggunan. Hatiku bersorak bergembira. Saya dapat bebas dirumah, gak akan ada yang maksa untuk belajar. Saya juga bebas pulang petang. Sekiranya papah…yah.. ia senantiasa kerja sampai tiap-tiap hari pulang larut malam.Pulang sekolah, kuajak cowokku Galuh kerumahku. Saya udah sebagian kali mengerjakan kekerabatan intim dengan Galug. Melainkan kekerabatan hal yang demikian gak pernah bener-bener sedap. Senantiasa dikerjakan secara terburu-buru sampai saya gak pernah meraskaan yang namanya orgasme. Dan saya sungguh-sungguh penasaran, bagaimana sih nikmatnya saat orgasme?

Di Baca Juga :nikmatnya-ngentot-dengan-pacar-kakakku

Singkat cerita, saya dan Galuh udah berada diruang tengah. Kami merasa bebas. Waktu masih menampilkan jam tiga, walaupun papah senantiasa pulang jam 6 lebih. Jadi, kami punya banyak waktu untuk memuaskan berahi kami. Kami duduk disofa. Galuh dengan langsung menggilas bibir tipisku. Kurasakan hangatnya bibirnya. “Aaagghhh..” kurangkulkan tanganku kelehernya. Kecupan Galuh makin dalam. Kini lidahnya yang mempermainkan lidahku. Tangannya-malah mulai bermain dikedua payudaraku. Saya sungguh-sungguh terstimulus dengan perlakuan Galuh. Saya udah bisa menikmati jikalau memekku udah mulai berair. Langsung kujulurkan tanganku keperut bawahnya. Kurasakan jikalau burung Galuh juga udah sembab dan sungguh-sungguh keras. Saya mencoba membuka resleting celananya tapi agak sulit. Dengan langsung Galuh membukakannya untukku. Bagai gak berkeinginan buang waktu, secara beriringan, saya-malah membuka kemeja sekolahku sekalian Bra-ku tapi tanpa mengalihkan perhatianku pada Galuh. Kulihat langsung sesudah CD Galuh terlepas, burungnya telah sungguh-sungguh tegang dan siap perang.



Kami berpelukan lagi. Kini, tanganku bebas mengatur k0ntolnya. Gak seperti itu besar, tapi cukup keras dan berdiri dengan tegangnya. Kuelus-elus sebentar. Kedua telornya yang dibungkus kulit yang sungguh-sungguh lembut, sungguh memunculkan sensasi tersendiri saat kuelus dengan lembut. K0ntolnya kemerahan. Diujungnya berlubang. Kubuka lubang kecil itu, kemudian kujulurkan ujung lidahku kedalam. Galuh melenguh. Expresi wajahnya membuatku makin bergairah. “Aaahhhhh..”. Lalu kumasukkan k0ntol Galuh kedalam mulutku. Galuh melepaskan CD-ku kemudian mempermainkan memekku dengan jarinya. Terasa sentuhan jarinya diantara kedua bibir memekku. Dimainkannya clitorisku yang membuatku kian bernafsu. Kuhisap burungnya. Kujilati kepala k0ntolnya, sambil tanganku mempermainkan buah pelirnya dengan lembut. Kala kugigit buah pelirnya dengan lembut
Yank…Pindah kelantai aja yook, biar lebih bebas…” ujar Galuh

AgenSlot-Tanpa menunggu jawabanku, Galuh seketika menggendongku dan membaringkanku dilantai berkarpet tebal dan bersih. Dibukanya rok seragamku, yang tinggal satu-satunya melekat dibadanku, demikian juga pakaiannya. Sekarang saya dan Galuh telah telanjang bulat. Saya kian menyenangi suasana ini. Kutunggu, apa yang akan dikerjakan Galuh berikutnya. Terbukti Galuh naik keatas badanku dengan posisi terbalik, 69. Dibukanya pahaku lebar-lebar, berikutnya yang kurasakan merupakan jilatan-jilatan lidahnya yang panas dipermukaan memekku. Bukan itu aja, clitorisku dihisapnya, kadang-kadang lidahnya ditenggelamkannya masuk kedalam memekku. Sementara k0ntolnya konsisten kuhisap. Saya udah gak dapat membendung lagi.

“Gal…Ayo masukin aja” pintaku

“Bentar lagi Yank…” jawab Galuh

“Aaaahhh.. Saya gak bendung lagi, saya berkeinginan burungmu…Please!” mohonku

Lalu Galuh memutar haluan. Digosok-gosokannya kepala k0ntolnya sejenak kemudian “Bleeeeess..” k0ntol Galuh masuk dengan mantap. Gak perlu diolesi air liur untuk memperlancar, memekku udah banjir. Amboy, sedap sekali. Disodok-sodok, maju mundur.. maju mundur. Saya gak tinggal membisu. Kugoyang-goyang juga pantatku. Adakalanya kakiku kulingkarkan kepinggang Galuh.

Tiba-tiba, “Aaaahhhh.. saya keluar..” Dicabutnya k0ntolnya dan spermanya berceceran diatas perutku. “Shit! Sama saja, saya belum puas, ia telah muntah,” gerutuku dalam hati. Melainkan kurasa, “Aaahhh…Gak papa, babak kedua pasti ada.” Melainkan dugaanku meleset. Galuh berpakaian.

“Yank…maaf yah.. saya baru ingat jikalau hari ini terbukti saya wajib latihan basket, telah terlambat nih” Galuh berpakaian dengan buru-buru dan membuatku sungguh-sungguh kecewa

“Kurang didik si kecil ini. Dasar egois, memangnya saya perek, cuman memuaskan kau aja”

Saya sungguh-sungguh kecewa dan bermufakat dalam hati gak akan berkeinginan ngesex lagi dengan Galuh. Sebab sebal, kubiarkan Galuh pergi. Saya terbaring aja disofa, tanpa mempedulikan kepergiannya, malahan saya terbaring dengan membelakanginya, wajahku kuarahkan kesandaran sofa.

Lalu kudengar bunyi langkah mendekat.

“Ngapain lagi sikurang didik ini balik” pikirku

Melainkan saya memasang gaya cuek. Kurasakan pundakku dicolek. Saya konsisten saja cuek.

“Dinda”

Oh.. ini bukan bunyi Galuh. Saya bagai disambar petir. Saya masih dalam kondisi bugil.

“Papah!” saya sungguh-sungguh ketakutan, malu, kuatir, pokoknya hampir mati

“Dasar bedebah, terbukti kau udah umum berkaitan sex yaaaa. Jangan menentang. Papah tadi lihat kau berkaitan sex dengan sahabat laki-lakimu itu. Biar kau tau, ini wajib dilaporkan sama mamahmu”

Saya kian ketakutan, kupeluk lutut ayahku,

“Paaah.. jangan ya Pah, saya berkeinginan dihukum apa aja, asal jangan diberitahu sama orang lain secara khusus Mamah” saya menangis memohon

Tiba-tiba, papah mengangkatku kesofa. Kulihat wajahnya kian melembut.

“Din, papah tau kau gak puas barusan. Waktu papah masuk, papah dengar bunyi-bunyi desahan aneh, jadi papah jalan perlahan-perlahan aja dan papah lihat dari balik pintu, kau sedang dientot sahabat laki-lakimu itu, jadi papah intip saja hingga siap mainnya”

Saya membisu aja tidak menyahut.

“Din, jikalau kau berkeinginan papah puasin, karenanya rahasiamu gak akan terkuak”

“Sungguh?”

Papah gak menjawab, tapi mulutnya udah mengecup toketku. Dijilatinya permukaan toketku, digigitnya pelan putting susuku. Sementara tangannya udah menjelajahi komponen bawahku yang masih berair. Papah dengan langsung membuka pakaiannya. Seketika seluruhnya. Saya kaget. Kulihat k0ntol papahku jauh lebih besar, jauh lebih panjang dari k0ntol Galuh. Saya gak tau berapa panjangnya, yang terang panjang, besar, mendongak, keras, hitam, berurat, berjembut lebat. Malah antara pusar dan k0ntolnya juga berambut halus. Beda benar dengan Galuh. Memandang ini aja saya udah bergetar.

Lalu didudukkannya saya disofa. Pahaku dibuka papah lebar-lebar. Papah berlutut dihadapanku kemudian kepalanya berada diantara selakanganku. Tiba-tiba lidah hangat telah menggesek kedalam memekku. Aduh, lidah papahku menjilati memekku. Papah menjilat lebih lihai, lebih lembut. Jilatannya dari bawah keatas berulang-ulang. Enak cuma clitorisku aja yang dijilatinya. Dihisapinya, malahan digigit-gigit kecil. Dijilati lagi. Dijilati lagi. “Ooohhhh.. Oooohhh.. Nikmat…Pah di situ Pah…Nikmat…Aku…Pah,” tanpa sadar, saya gak malu lagi mendesah didepan papahku. Ayah menggilas memekku cukup lama. Tiba-tiba, kurasakan sedap yang sungguh-sungguh dahsyat, yang tidak pernah kudapat sebelumnya.

“Oooohhhhh.. jadi demikian ini ini yang namanya orgasme, nikmatnya sungguh terasa” Saya tiba-tiba merasa lemas. Papah mungkin tau jikalau saya telah orgasme, karenanya dihentikannya menjilat lubang senggamaku. Kini papah berdiri ideal didepan hidungku, k0ntolnya yang besar itu menelentang. Dengan posisi, papah berdiri dan saya duduk disofa, kumasukkan k0ntol papahku kedalam mulutku. Kuhisap, kujilat dan kugigit perlahan. Kusedot dan kuhisap lagi. Aku kulakukan berulang-ulang. Papah turut menggoyangkan bokongnya, sampai k0ntolnya kadang masuk terlalu dalam, sampai saya bisa menikmati kepala k0ntolnya meraba kerongkonganku. Saya kembali sungguh-sungguh bergairah menikmati keras dan besarnya k0ntol papah didalam mulutku. Saya berkeinginan langsung papah menjelang vaginaku, tapi saya malu memintanya. Vaginaku udah bener-bener berkeinginan menikmati k0ntol papah yang besar dan panjang itu.



Tiba-tiba papah menyeruhku berdiri. “Ternyata main berdiri niiih” pikirku. Terbukti gak. Papah terbaring disofa dan mengangkatku keatasnya.

“Masukkan Din!” kata papah

Lalu kuraih k0ntol papah kemudian kuarahkan ke memekku. Aaaahhh.. sedikit sakit dan agak sulit masuknya, tapi ayah menyodokkan bokongnya kedepan.

“Aduh perlahan-perlahan Pah”

Kemudian stop sebentar, tapi k0ntol papah telah karam separuh dampak sodokan papah tadi. Kugoyang pelan. Dengan pelan pula k0ntol papah makin masuk dan makin masuk. Ajaibnya kian masuk, kian sedap. Lubang memekku bener-bener terasa penuh. Aku rasanya. Sebab dikontrol nafsu, rasa maluku udah sirna. Kusetubuhi papahku dengan rakus. Ekspresi papahku kian menambah nafsuku. Remasan tangan papah dikedua toketku makin memunculkan rasa yang sungguh-sungguh sedap sekali. Kogoyang pantatku dengan melodi keras dan kencang.

Tiba-tiba, saya berkeinginan orgasme, tapi ayah berkata,

“Kau! Kita ganti posisi. Berharap nungging dahulu”

“Ternyata apa ini?” pikirku

Tiba-tiba kurasakan friksi kepala k0ntol papah dipermukaan vaginaku dan.. “Bleeeeess..” kontol papah masuk kedalam vaginaku. Aku demikian ini yang belum pernah kurasakan. Galuh gak pernah memperlakukanku demikian ini, seperti itu juga Rangga, cowok yang mengambil perawanku. Melainkan yang demikian ini ini rasanya selangit. Gak terkatakan nikmatnya. Hujaman-hujaman kontol papah terasa menggesek semua lubang vaginaku, malahan hantaman kepala kontol papah-malah terasa membentur dasar memekku, yang membuatku merasa makin sedap. Saya menikmati sodokan papah kian keras dan kian kencang. Perasaan yang kudapat-malah kian lama kian sedap. Aku sedap, kian sedap dan kian sedap.

Tiba-tiba, “Aaaauuhhhhh..Ooooohhhh.. Ooohhhh..!” kenikmatan itu meladak. Saya orgasme untuk yang kedua kalinya. Hentakan papah kian kencang aja, tiba-tiba kudengar desahan panjangnya. Seiring dengan itu dicabutnya k0ntol appah dari lubang senggamaku. Dengan gerakan kencang, papah udah berada didepanku. Disodorkannya penisnya kemulutku. Dengan kencang kutangkap, kukulum dan kumaju-mundurkan mulutku dengan kencang. Tiba-tiba saya menikmati semburan lahar panas didalam mulutku. Saya gak peduli. Terus kuhisap dan kuhisap. Setelah pejuh papah tertelan olehku, beberapa lagi kukeluarkan, kemudian jatuh dan meleleh memenuhi daguku. Papah memelukku dan menciumku,

“Din, kapan-kapan, jikalau gak ada mamah, kita main lagi yaaaa”

Saya Gak menjawab. Sebagai jawaban, saya menggelayut dalam pelukan papahku. Aku terang saya pasti berkeinginan. Dengan pacarku saya gak pernah menikmati orgasme. Dengan ayah, sekali main saya orgasme 2 kali. Siapa yang nolak????

 itu asal ada kans, kami menjalankannya lagi. Sementara mamah masih sering kali berang, dengan nada tinggi, berupaya mengajari disiplin.  saya membisu aja, pura-pura tunduk.  suaminya, yang menjadi papahku itu, sering kali kugeluti dan kunikmati. Beginilah kisah permainanku dengan papahku yang pendiam, tapi sungguh-sungguh lihai diatas ranjang.

SLOT Online Terpercaya
-Bonus New Member Deposit 80%
-Bonus second deposit 20% tiap hari
-Bonus Cashback 5% Setiap Seminggu
Minimal Deposit Rp.10,000,-
Minimal withdraw RP.50.000-
-Line :+6281397014667
-WhatsApp :+6281397014667
#gameslot #slotgameindonesia #jokergaming #kingkongslot #agenslotindonesia
#AGENSLOT
#BANDARSLOT
#AGENSLOTONLINE
#JUDISLOTONLINETERPERCAYA

#SLOTGAMEONLINETERPERCAYA

Aku selingkuhi istri sahabat ku yang butuh kepuasan sex



Agenslot-Saya memiliki teman sedari kecil, kami tumbuh bersama, kenakalan kecil, belajar mabuk, melamar profesi, pun main cewek malah kami berangkat bersama. Robert memang tampan dan lumayan playboy. Yang saya tahu pasti, ia termasuk hiper. Two in one senantiasa menjadi menu harus kalo kami mampir ke jl Mayjen Sungkono, Surabaya.

Ia juga memiliki banyak sahabat mahasiswi yang ‘siap gunakan’ dan lucunya ia acap kali menawari saya bercumbu dengan gadis mahasiswinya di depan hidungnya. Sekali-sekali ia mengajak threesome. Saya sih ok ok saja, why not… nikmat kok. Dan lagi, dikala itu saya hanya karyawan swasta yang bergaji kecil, sedang Robert telah mempunyai usaha sendiri yang cukup berhasil.

Sayang sekali di usia 35, sahabatku ini mengalami kecelakaan yang membikin ia terpaksa menerapkan bangku roda. Meskipun ia baru 2 tahun menikah dan dikaruniai satu buah hati laki-laki yang cukup lucu.

Momen ini benar-benar membanting dirinya, untunglah Arini merupakan istri yang loyal dan senantiasa memompa motivasi hidupnya supaya Robert tak menyerah. Sebagai teman, akupun tidak bosan-bosannya menghibur supaya ia berharap mencoba mencontoh terapi.
Seperti lazim, di malam pekan, saya main ke rumahnya, ketimbang ngluyur nggak karuan, maklum setua ini saya masih membujang.

“Ron, elo masih ingat jaman kita edan dahulu? Minimal gue senantiasa ambil dua cewek, hahaha… dan mereka senantiasa ampun-ampun kalo gue ajak lembur.” Robert tersenyum-senyum sendiri. Saya memahami, terbukti Robert terguncang sebab kecakapan sex yang dibanggakannya mendadak tercerabut dari dirinya.

“Ron, gue patut sampaikan sesuatu ke elo… mengapa gue senantiasa bicara perihal sex ke elo. Ehm… gini, gue kesian sama Arini… ia istri yang bagus dan loyal, tapi gue tak mungkin memaksa ia untuk terus menerus memandu gue. Ia punya hak untuk bersuka ria. Dan lagi… Ehh… dan lagi…” Robert terdiam cukup lama.

“Istriku masih muda, 25 tahun… gue nggak berharap ia nanti menyeleweng. Lebih bagus kami berpisah bagus-bagus, ia dapat menerima suami yang lebih bagus.” matanya menerawang.

Agen Playtech-”Melainkan Arini konsisten bersikukuh tak berharap. Baginya menikah hanya sekali dalam hidupnya. Melainkan gue cemas, Ron… gue cemas… sebab… Ehhh, sebab… Arini nafsunya besar. Dapat kau bayangkan alangkah tersiksanya ia. Kami dahulu hampir tiap hari bercumbu.” Robert terdiam lagi, lama.

“Kemarin ia bicara: ‘mas, saya nggak akan menyeleweng, sebab cintaku telah totaliter. Kalo kau memaksa untuk berpisah, saya tak dapat. Memang jika bicara sex, benar-benar berat bagiku. Namun kita dapat mencoba gunakan tangan kan, mas? Mas dapat puasin gunakan tangan mas, pake lidah juga masih dapat… kita coba dahulu, mas…’”

”Kami mencobanya, tapi sebab lumpuhku, jari dan lidahku tak dapat optimal, dan ia tak sanggup orgasme. Sempat juga gunakan dildo. Itupun juga gagal. Saya lebih disebabkan posisi tubuhku yang tak mendorong. Alhasil saya mengatakan bahwa bagaimana jika kau mencoba gunakan cowok beneran. Kita dapat gunakan gigolo, asal kau bercumbu di depanku, jangan di belakangku. Saya bilang bahwa ini cuma murni untuk menyenangkan dirinya. Kau tahu… istriku cuma menangis, dalam hatinya sesungguhnya ia mungkin berharap, melainkan entahlah…” Robert telah tak berloe gue lagi.

”Hhh… sesungguhnya saya berharap meminta bantu kau… pertama, kau temanku, telah seperti saudara sendiri, kau belum menikah, kau kini juga telah nggak segila dahulu… mungkin udah stop ya? Jadi saya meminta bantu… bener-bener meminta bantu… puaskan istriku…” kata Robert, suranya sedikit tercekat.

“No.. no.. no.. nggak, Rob. Saya nggak berharap. Maaf, saya gak dapat tolong yang seperti itu. Arini wanita bagus-bagus, saya memandangnya seperti malaikat. Dan saya sungguh menghormatinya. Sorry, saya pulang dahulu, Rob… bantu diskusi ini jangan diteruskan.” saya menghindar.

Arini merupakan wanita total, menawan, hatinya lembut, loyal ke suami, tak neko-neko, dan tubuhnya benar-benar total. Robert benar-benar edan kalo saya dipinta meniduri istrinya.

Dibaca Juga : 

Nikmatnya Ngentot Dengan Pacar Kakakku


Tiga pekan kemudian, pagi-pagi saya mampir lagi ke rumahnya, saya pikir ia telah tak berharap mendiskusikan itu lagi, terbukti saya salah. Saya ini ia memintaku sambil memohon, pun matanya bercermin-kaca. “Ron, please, tolong saya, kau tak kasihan lihat istriku? Kami telah setuju jika kau dan ia tak perlu ML. Mungkin memuaskan dengan tangan atau lidah?”

Saya sungguh tak sepakat dengan rencananya, melainkan mengamati permintaannya, hatiku trenyuh. “Ok, Rob, saya coba tolong, melainkan saya perlu bicara dahulu dengan Arini…”

“Bicaralah dengannya, ia ada di beranda belakang, bicaralah…” desak Robert.

Dulu saya melangkah ke komponen belakang rumahnya yang besar, saya lihat Arini sedang menyirami bunga, cahaya sang surya pagi ikut serta menyinari wajahnya yang lembut, kimononya yang berwarna merah kontras sekali dengan kulitnya yang putih bersih, sungguh anggun… Mungkin Robert telah memberi tahu sebab ia seperti telah menunggu kedatanganku.

“Hai, Rin… mana si kecil Ardi, masih tidur ya?” tanyaku basa-basi.

“Hai, mas. Iya, Ardi masih bobok… tumben datang pagi demikian ini, udah sarapan belum?” Arini tersenyum lembut. Wajahnya cuma ber make-up tipis, seperti itu total.

”Mmm, udah kok… Uum, saya tolong potongin anggrek ya? Ia saya menyukai tolong ibuku merawat anggrek… ah, ini sepertinya kepanjangan, Rin… coba deh dipotong lebih pendek lagi, agar lebih pesat berbunga.” kataku sok serius.

“Mas, saya benar-benar mencintai mas Robert. Akupun tahu ia sungguh mencintaiku. Ia merupakan suami yang pertama dan terakhir…” suaranya tercekat, wajahnya menunduk. Kusangka Arini bicara segera ke pokok problem. Saya lebih bagus, sebab kian lama disini, saya kian canggung.

“Saya sungguh ingin, mas Ronny tak menganggapku wanita murahan. Mas Robert bilang bahwa jika mengamati saya bersuka ria karenanya ia juga bersuka ria. Jadi nanti apa yang kita lakukan patut masih dalam koridor saling menghormati ya, mas…” sekarang matanya bercermin-kaca.

“Rin, saya ikuti apa maumu, jika nanti kau meminta stop, saya stop. No hurt feeling… jangan cemas saya tersinggung, kau merupakan wanita yang paling saya hormati sesudah ibuku. Saya… saya akan memperlakukanmu dengan terhormat.“ bisikku.

Dulu Arini menarik tanganku menuju lantai dua, mungkin ini kamar tetamu. Interior kamar sungguh nyaman, warna warna soft mendominasi, mulai dari warna bedcover, bantal dan gorden terkomposisi dengan bagus, benar-benar mendapatkan sentuhan wanita.

“Ummm… bagaimana dengan Robert, ia pernah bilang kalo patut sepengetahuan ia.” tanyaku cemas, saya tak berharap dituduh mengkhianati teman sendiri.

“Mas Robert nanti datang sesudah ia rasa kita ada kekerabatan chemistry yang lebih jauh.Saya juga keberatan kalo mas menyentuhku di depan mas Robert terlalu terus jelas. Saya tak berharap hatinya sakit. Dan ditahap permulaan ini saya sungguh ingin kita tak terlalu jauh. Mungkin saya belum terlalu siap… dan maaf kalo tiba-tiba saya meminta stop, mas ngerti kan perasaanku?” Arini berkata dengan wajah menunduk. Tangannya kelihatan gemetar dikala pelan-lahan membuka bedcover. Saya cuma mengangguk tanpa bicara.

Lalu Arini berjalan menuju meja rias, membelakangiku, pelan dilepas cincin kawin di jarinya, “Saya tak dapat bercumbu dengan orang lain dengan konsisten menerapkan cincin ini…” katanya berbisik.

“Maafkan saya, Rin… saya akan meperlakukan kau dengan bagus.” bisikku dalam hati.

Dulu ia berbalik menghadapku sambil membuka gaunnya, terbukti di balik kimononya, Rini cuma menerapkan lingerie warna pink, G string plus stocking putih berenda. “ Saya tak berharap sembarangan untuk mengawalinya. Saya saya gunakan juga untuk menghormati mas Ronny.” Arini berjalan pelan ke arahku. Saya cuma dapat membendung napas, dadaku sesak bergemuruh, rasanya susah untuk bernapas, rasanya saya tak akan dapat merabanya, ia terlalu cantik, Arini terlalu cantik untukku… kakiku lemas.

Dengan pelan Arini membuka kancing bajuku, sedikit mengelus dadaku yang berambut, wajahnya masih menunduk. Tanganku meraba rambutnya lembut, kemudian saya kecup pelan keningnya. Dengan bertelanjang dada, tanpa melepas celana panjangku, kutuntun Arini ke daerah tidur. Saya peluk lembut, saya ciumi keningnya berulang kali. Turun ke pelipis, lama saya kecup di situ. Saya patut membuatnya rileks.

Matanya yang cantik terlihat bercermin-kaca. Saya napasnya masih memburu, bergetar. Saya paham, Arini masih belum siap.

Saya bisikkan kata-kata lembut ke alat pendengarnya, ”Rin, kau santai saja, saya nggak akan meraba yang nggak seharusnya kok. Jangan cemas, kita tak terlalu jauh, ini cuma semacam perkenalan saja. Ok?“

Arini mengangguk sambil memejamkan matanya, mencoba menghayati.

Kemudian bibirku meraba pipinya, harum Kenzo di lehernya, menuntunku ke arah sana. Lehernya sungguh cantik, bibirku menyelusuri leher levelnya sambil sekilas menciumi belakang alat pendengarnya.

“Ahhhhhh… mas… ahhhh…” napasnya dihembuskan panjang, terbukti tadi ia terlalu tegang. Saya konsisten mengecup, tak beranjak dari sekitaran pipi, kening, leher dan kuping. Sengaja tak kucium bibirnya, takut membikin moodnya jadi sirna. Melainkan terbukti Arini sendiri yang mencari bibirku, dan mengecup lembut pelan. Badanku merasa meremang.

Kemudian kami berpandangan dekat, matanya lekat menghunjam mataku, seperti mencari kepercayaan disitu. Saya merupakan spot kritis, stop atau lanjut…

Dulu, Arini memejamkan matanya, bibirnya sedikit terbuka, saya paham jika ini seluruh dapat berlanjut lebih jauh. Kucium lama dan lembut bibirnya yang cantik itu.

Dulu bibirku turun ke leher, sedikit ke bawah. Turun… turun ke belahan dadanya yang ranum. Wanginya sungguh beralkohol. Arini cuma melenguh perlahan, “Eehhhhh… mas…”

Tanganku mulai mengelus pahanya, saya gosok pelan, tanganku stop dikala jemari Arini meraba tanganku. Ah, mungkin saya terlalu jauh… terbukti jemari Arini menggosok permukaan lenganku. Kulanjutkan lagi gosokan tanganku ke pangkal pahanya.

Kusentuh miss V-nya yang hangat. Saya tak membikin gerakan yang tiba- tiba, seluruh patut mengalir lembut. Cukup lama jemariku meraba bulu- bulunya. Bibirnya terasa dingin, Arini telah mulai terstimulus… sambil masih mengecup lembut bibirnya, jemariku mulai meraba klitorisnya. Saya tersentuh, Arini segera merintih, napasnya memburu.

”Mas… uffff, mas… fiiuhhh…” pesat sekali vaginanya berair. Saya memahami, mungkin telah satu tahun Arini tak diraba Robert.

Bibirku pelan mulai mengecup dari belahan dada menuju bukit menawannya. Belum pernah kulihat payudara seranum ini. Lidahku berdansa-nari di ujung putingnya yang merah muda. Saya sentuh dengan ujung lidah, kemudian sedikit saya sedot, lalu saya lepas lagi, seperti itu berulang-ulang. Saya sekali.

Saya lirik wajah Arini, telah merah padam, napasnya tersengal-sengal. “Geliii… aaahhhh… geli, mas… jangan lama-lama… geliii… aduuuuhhh…” rintihnya.

Sengaja saya teruskan jilatanku, dengan sedikit mengeluarkan erangan, supaya Arini paham kalo saya sendiri juga super terstimulus. Eranganku dengan erangannya sekarang bersahut-sahutan. Kepala Arini bolak-balik terbangun, mungkin sebab ia tak bendung dengan gelinya. Jemariku bertambah pesat menggosok klitorisnya. Tiba-tiba jemari Arini meremas rambutku dan kedua tangannya malah menekan kepalaku, sehingga saya susah bernapas sebab terbenam di buah dadanya. Pinggul Arini terangkat tinggi sambil merintih panjang.

“Masssssss… ahhhhh…” wanita menawan itu Orgasme!

Pinggulnya kembali terlempar ke daerah tidur yang segera terayun-ayun, badannya melemas, tangannya lunglai ke bawah, sambil berkali-kali menelan ludahnya Arini mulai menangis memalingkan wajahnya.

Saya ciumi lembut kepalanya, kucium air matanya di pipi, kemudian kucium tipis bibirnya.

Dulu kepalaku turun ke leher, dada, perut, pusar dan stop di bulu-bulu genitalianya. Lidahku mulai berdansa di klitorisnya yang super berair. Arini cuma terdiam.

Saya masih sibuk menjilati vaginanya yang wangi. Arini mulai recovery lagi… jemari lentiknya meremas rambutku. Dagunya terangkat ke atas, napasnya terputus-putus memburu. Dulu kuturunkan celanaku… bibirku kembali ke atas, mengecup pusarnya, mencium putingnya kemudian meraba bibirnya. Mataku bertarung dengan matanya. Pandangan mataku bertanya, haruskah kuteruskan…

Arini paham jika batangku tengah melekat di genitalianya. Dulu kakinya melingkar ke pahaku. Mata kami konsisten berpandangan. Kugesekkan batangku pelan-lahan, Arini sedikit merintih, bibirnya terbuka.

Kepala batangku mulai menekan, menekan… sedikit masuk, masuk lagi pelan, lalu kaki Arini menekan pinggulku sehingga batangku lebih dalam masuk. Masuk seluruhnya… badanku meremang, batangku terasa hangat. Mata kami masih bertarung pandang… tiba-tiba di sudut matanya timbul air jernih yang mengalir pelan ke pipinya. Arini kembali menangis…

Kembali saya kecup lembut bibirnya. Pinggulku tak segera saya gerakkan, supaya ia merasa nyaman dahulu dengan batangku di dalam sana. Lalu pelan saya mulai gerakkan pinggulku sedikit demi sedikit, perlahan-perlahan… Arini merintih, ”Mas… aghhhhh…”

Gerakan lebih kupercepat. Saya rasakan batangku masuk sepenuhnya ke dalam vaginanya. Saya tidur mulai berguncang, suara geritan besi daerah tidur mulai keras terdengar.

Tiba-tiba Arini memelukku erat, bibirnya mendekat ke telingaku dan berbisik, ”Kok besar sekali, mas? Terima beri… sedap sekali, mas… ooohhh… sedap!”

Arini sekarang lebih agresif menciumku, lidahnya mulai berani masuk ke mulutku. Tubuh kami berguling, sekarang ia di atasku. Otomatis batangku lebih menghunjam ke dalam, posisi ini favoritku sebab saya dapat sepenuhnya mengamati kecantikannya, mengamati lekuk tubuhnya, meremas dada dan pinggulnya lebih leluasa.

Gerakan tubuh Arini mulai liar, wajahnya telentang ke atas dengan mata terpejam.Gerakannya bahkan lebih pesat dari gerakanku. Tubuhnya mulai menggigil dipenuhi keringat yang berderai deras di jeda belahan buah dadanya, panorama ini membikin tubuhnya terlihat sensual, kujilati seluruh peluhnya dengan sedap. Arini mendekati puncak… sementara saya sulit payah bertahan supaya tak ejakulasi duluan.

”Aaaaaa… aaaaaaahhhh… aahh!” ia mulai tak malu mengeluarkan rintihan dan erangan suaranya lebih keras. Tiba-tiba tubuhnya menghentak keras, lenguhannya memanjang, kemudian tubuhnya lunglai runtuh di tubuhku. Kamu kupeluk erat dan kucium lembut keningnya. Saya lega… gembira dapat memuaskannya.

”Terima kasih, mas… terima kasih… saya belum pernah merasa sedap seperti ini, dua kali orgasme.” bisik Arini.

”Saya dapat teruskan kalo kau berharap, Rin.” bisikku sambil menciumi pelipisnya.

”Terima kasih… may be next time… kini giliran mas Ronny, mas belum puas kan?”

Saya tersenyum dan kugelengkan kepalaku. ”No, tak perlu… itu tak penting. Kau dapat merasakan, itu lebih penting. Hakekatnya saya ikut serta mencari kepuasan, artinya saya tak menghargai kau. Mengapa ini untuk kau, Rin… cuma untuk kau.” dalam hati kumaki-maki diriku, kenapa saya sok suci. Melainkan tidak dapat kumaafkan diriku jika saya ikut serta merasakan peluang emas ini, Arini bersedia bercumbu denganku artinya ia telah menghempaskan seluruh harga dirinya dihadapanku. Saya menghargai dan menghormatinya.

”Mas, kau bagus sekali? Sungguh kau baiiiikk sekali.” Arini memelukku erat lama sekali hingga saya terengah-engah sebab kepalaku terbenam di belahan payudaranya. Saya saya berharap meneruskan dengan melibas dan mengigit gigit putingnya, melainkan saya tak berharap merusak suasana syahdu ini.

”Sayang Robert tak kemari, bukankah ia meminta kita bercumbu di depannya. Saya tak berharap dikatakan mengkhianati sahabat…”

”Mas Robert mungkin telah mengamati kita dari tadi, ia ada di ruangan di balik kaca meja rias, itu kaca tembus pandang, mas.” Arini membeberkan dikala mengamati mataku memperhatikan pintu.

”Umm… mas gak bersih-bersih badan? Saya tolong di kamar mandi yuk…“ katanya sambil menarik tanganku.

Kami saling menggosok badan, saya remas lembut buah dadanya dari belakang dan mengecup lembut punggungnya. Arini kembali merintih, tubuhnya berbalik kemudian melibas bibirku, benar-benar agresif. Tiba-tiba Arini jongkok dan pesat menggenggam batangku, sedetik kemudian mulutnya mengulum milikku yang makin mengeras penuh.Saya benar-benar tak menyangka Arini melaksanakan itu. Tindakannya membikin kakiku lumpuh.

”Jangan, Rin… jangan… nanti saya keluar. Aahhh… Rin… telah… please…” rintihku.

Arini langsung berdiri lagi lalu berbalik menghadap shower dinding. Saya paham, ia berharap saya masuk dari belakang. Dengan guyuran air hangat, saya masukkan batangku pesat, saya telah tak bendung lagi, nafsuku telah memuncak, Arini malah mengerakkan tubuhnya mengimbangi tusukanku.

”Aaahhh… mas… saya… saya… ahhh… saya…” tubuhnya kembali menggeliat dan mengejang, jemarinya kuat meremas tangkai shower, sementara saya benar-benar tak bisa merajai diriku. Spermaku yang terbendung dari tadi alhasil berharap tidak berharap menyembur keluar, masuk jauh ke relung vaginanya.

”****! Saya saya tak dapat membendungnya?” Arini kembali jongkok dan sekarang membersihkan lelehan spremaku dengan lidahnya. Aduh, saya merasa geli sekali. Ia kocok-kocok lagi supaya seluruh spermaku keluar. Kemudian mengakhirinya dengan sedotan panjang di ujung batangku.

”Ahhh… Arini… mengapa saya patut ejakulasi?”

Selesai bebersih diri dan menerapkan pakaian, kami keluar kamar. Saya Robert telah menunggu di depan Saya, ia tersenyum dari kejauhan. Saya merasa jengah, merasa tak nikmat. Sementara Arini menunduk dan berjalan ragu ke sebelah suaminya.

Dari bangku rodanya, Robert memeluk pinggang istrinya. ”Terima kasih, Ron, kau teman yang bagus. Saya telah mengamati mengamati kalian tadi. Saya ingin kau tak keberatan untuk meneruskan nanti.”

Saya cuma mengangguk perlahan. Bisakah saya cuma bertahan murni bercumbu tanpa melibatkan perasaan? Saya tak yakin dengan diriku. Saya tak yakin nanti tak jatuh cinta pada Arini… dan saya yakin Arini malah memiliki perasaan yang sama. Sorot matanya dikala bercumbu tadi bercumbu itu.

Game SLOT Online Terpercaya
-Bonus New Member Deposit 80%
-Bonus second deposit 20% tiap hari
-Bonus Cashback 5% Setiap Seminggu
Minimal Deposit Rp.10,000,-
Minimal withdraw RP.50.000-
-Line :+6281397014667
-WhatsApp :+6281397014667
#gameslot #slotgameindonesia #jokergaming #kingkongslot #agenslotindonesia
#AGENSLOT
#BANDARSLOT
#AGENSLOTONLINE
#JUDISLOTONLINETERPERCAYA

#SLOTGAMEONLINETERPERCAYA

- Copyright © cerita sex - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -