Popular Post

Popular Posts

Recent post

Tampilkan postingan dengan label slotgameonlineterpercaya. Tampilkan semua postingan



Agen Playtech-Sesudah kami berkenalan, lalu kami berdialog sejenak di kantin SMA, Sesudah tak berapa lama, tiba-tiba ia berbisik di alat pendengar aku, katanya, “Kau menawan sekali deh Shinta..”, sambil matanya tertuju pada belahan dada aku. Muka aku segera merah, terkejut dan dadaku berdenyut cepat. Tiba-tiba terdengar bunyi “Pritt…!”, petunjuk bahwa babak ke-2 akan diawali, aku segera mengajaknya balik ke lapangan.

Dalam perjalanan ke lapangan, kami lewat kelas-kelas kosong. Tiba-tiba ia menarik tanganku masuk ke dalam kelas 3 Fis 1, lalu ia segera menutup pintu. Aku segera bertanya padanya, ” Ada apa Indera…, babak ke-2 telah berharap mulai nih…, kau tak takut dicariin pelatih kau?”.
Ia tak membalas pertanyaanku, tetapi segera memelukku dari belakang, dan ia berbisik lagi padaku, “Badan kau baik sekali ya Shin..”.
Aku tak dapat berperilaku apa-apa kecuali berbalik badan dan menatap matanya serta tersenyum padanya.


Agen Slot-Ia segera mengecup bibirku dan aku yang belum pernah berkecupan dengan cowok, tak dapat berperilaku apa-apa kecuali memperbolehkan lidahnya masuk ke dalam mulutku. Sesudah kaprah-kaprah 5 menit bercinta, mulai tangannya menyentuh dan meremas dadaku. Aku pasrah saja padanya, sebab terus jelas aku belum pernah menikmati kenikmatan seperti ini. Tangannya masuk ke dalam pakaian cheers no.3-ku, dan mulai memainkan puting payudaraku, lalu ia menyingkapkan bajuku dan melepaskan rokku sampai aku tinggal mengenakan BH dan celana dalam saja.

Lalu dia membuka pakaian basket dan celananya, sehingga dia cuma mengenakan celana dalam saja. Menonjol terang di depanku bahwa “penis”-nya telah tegang di balik celana dalamnya. Dia mengendalikan tanganku dan memberi nasehat tanganku ke dalam celana dalamnya. Aku menikmati “penis”-nya yang besar dan tegang itu dan dia memintaku untuk meremas-remas penisnya. Dia memaksaku untuk membuka celana dalamnya, sesudah aku membuka celana dalamnya, nampak terang penisnya yang telah ereksi. Besar juga pikirku, hampir sejengkal tanganku kaprah-kaprah panjangnya.

Di Baca Juga : terbuai sex akibat pelet

Baru kali ini aku memandang alat kelamin cowok secara segera, umumnya aku cuma memandang dari film biru saja jika aku diajak nonton oleh sahabat-sahabat dekatku. Dikala aku masih terpana memandang penisnya, ia melepas BH dan celana dalamku, tentu saja dengan sedikit bantuanku. Sesudah dia menyingkirkan baju dalamku, badannya yang tinggi dan atletis layaknya sebagai seorang pemain basket itu, menindih badanku di atas meja kelas dan dia mulai menjilati puting payudaraku hingga aku benar-benar menggeliat keenakan, kurasakan berair pada bibir kemaluanku, aku baru tahu bahwa inilah yang akan terjadi padaku jika aku benar-benar terstimulasi.

Lalu tangannya yang kekar itu mulai menyentuh bibir kemaluanku dan mulai memainkan clitorisku sambil kadang kala mencubitnya. Aku yang benar-benar terstimulasi tak dapat berperilaku apa-apa kecuali mendesah dan menggeliat di atas meja. Cukup lama dia memainkan tangannya di kemaluanku, lalu dia mulai menjilati bibir komponen bawah kemaluanku dengan nafsunya, tangan kanannya masih memainkan clitorisku. Tak lama aku bertahan pada permainannya itu, kaprah-kaprah 5 menit kemudian, aku menikmati darahku naik ke ubun-ubun dan aku menikmati sesuatu kenikmatan yang amat luar awam, badanku meregang dan aku menikmati cairan hangat mengalir dari liang kemaluanku, Indera tanpa ragu menjilati cairan yang keluar sedikit demi sedikit itu dengan nafsunya hingga cuma air liurnya saja yang membasahi kemaluanku. Badanku terasa lemas sekali, lalu Indera duduk di pinggir meja dan memandangi wajahku yang telah berair bermandikan peluh.
Dia berkata padaku sambil tersenyum, “Kau menonjol capek banget ya Shin…”. Aku cuma tersenyum.

Ia mengambil pakaian basketnya dan mengelap cucuran peluh pada wajahku, aku benar-benar terkagum padanya, “Bagus banget nih cowo”, pikirku. Seperti telah paham, aku jongkok di hadapannya, lalu mulai mengelus-ngelus penisnya, sambil kadang kala menjilati dan menciuminya, aku juga tak tahu bagaimana aku dapat bereaksi seperti itu, yang ada di pikiranku cuma membalas perbuatannya padaku, dan sistem yang kulakukan ini pernah kulihat dari salah satu film yang pernah kutonton.
Indera cuma meregangkan badannya ke belakang sambil mengeluarkan bunyi-bunyi yang malahan makin membuatku mau memasukkan penisnya ke dalam mulutku, tak berapa lama kemudian aku mengendalikan pangkal genitalianya itu dan mulai membimbingnya masuk ke dalam mulutku, terasa benar ujung penisnya itu meraba dinding tenggorokanku dikala hampir segala komponen batang genitalianya masuk ke dalam mulutku, lalu aku mulai memainkan penisnya di dalam mulutku, terasa benar kemaluanku mulai mengeluarkan cairan berair lagi, petunjuk jika aku telah benar-benar terstimulasi padanya.

Kaprah-kaprah 5 menit aku menjalankan oral seks pada Indera, tiba-tiba badan Indera yang telah berair dengan peluh itu mulai bergoyang-goyang keras sambil dia berkata, “aarghh…, Aku udah gak bendung lagi nih Shin…, Aku berharap keluarr…”.
Aku yang tak benar-benar memerhatikan omongannya itu masih saja terus memainkan penisnya, hingga kurasakan cairan hangat kental putih dan agak asin keluar dari lubang alat kelamin Indera, aku segera mengeluarkan penisnya itu dan seperti kesetanan, aku malahan menelan cairan spermanya, dan malahan menghisap penisnya hingga cairan spermanya benar-benar habis. Aku duduk sejenak di kursi kelas, dan kuperhatikan Indera yang tiduran di meja sambil mencoba memelankan ritme napasnya yang terengah-engah.

Aku cuma tersenyum padanya, lalu Indera bangun dan menghampiriku, Ia juga cuma tersenyum padaku. Cukup lama kami berpandangan dengan situasi bugil dan berair berkeringat.
“Kau menawan dan bagus banget Shin”, katanya tiba-tiba. Aku cuma ngakak kecil dan mulai mengecup bibirnya. Indera membalas dengan nafsu sambil memasukkan tangannya ke dalam lubang kemaluanku. Cukup lama kami bercinta, lalu dia berkata, “Shin…, boleh nggak Aku emm…, itumu…”.
“Itu apa Ndra?”, tanya aku.
“Itu…, masa kau gak tahu sih?”, balasnya lagi.
sebelun aku menjawab, aku menikmati kepala batang genitalianya telah meraba bibir kemaluanku. “Crestt.., creest”, terasa ada yang robek dalam kemaluanku dan sedikit darah keluar.
Kemudian Indera berkata, “Shin kau rupanya masih perawan!”, aku cuma dapat tersenyum dan menikmati sedikit perih di kemaluanku terasa agak serat waktu separo genitalianya masuk ke vaginaku. Digerak-gerakan pelan batang genitalianya yang besar melainkan sesudah agak lama entah kenapa rasa sakit itu sirna dan yang ada cuma ada rasa geli, sedap dan sedap dikala Indera menggoyangkan badannya maju mundur perlahan-perlahan aku tak bendung lagi seraya mendesah kecil keenakan. Kemudian kian kencang saja Indera memainkan jurusnya yang maju mundur kadang kala menggoyangnya ke kiri ke kanan, dan dipuntir-puntir putingku yang pink yang kian membuatku menggelepar-gelepar seperti ikan yang dilempar ke daratan.

Peluh telah membasahi badan kita berdua. Aku sadari jika ketika itu perbuatan kita berdua dapat saja dipergoki orang, melainkan aku rasa kemungkinanya kecil sebab kelas itu agak terpencil. “Ahh…, ahh…, ahh”, aku mendesah dengan bunyi kecil sebab takut kedengaran orang lain. Kulihat wajah Indera yang menutup matanya dan terenggah-engah napasnya.

Cukup lama juga Indera bermain denganku, memang benar kata orang jika atlet itu kuat dalam bersenggama. “Ahh…, aww…, aww”, geli dalam lubang kemaluanku tak tertahankan. Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang lain yang belum pernah kurasakan, cairan hangat kurasakan keluar dari dalam vaginaku.
Oh, itu mungkin yang kata orang orgasme pikirku. Badanku terasa rileks sekali dan mengejang. Mulutku ditutup oleh Indera mungkin dia takut jika aku mendesah terlalu keras. Meja kelas yang agak tua itu bergoyang-goyang sebab ulah kita berdua. Aku masih menikmati bagaimana Indera berupaya untuk menempuh puncak orgasmenya, lalu dia duduk di kursi dan menyuruhku untuk duduk di genitalianya. Aku berdasarkan saja dan perlahan-perlahan aku duduk di genitalianya. Indera mengendalikan pinggulku dan menaik-turunkan diriku. Aku belum pernah aku menikmati kenikmatan yang seperti ini. Aku mendesah-desah dan Indera kian motivasi menaik-turunkan diriku. Lalu badan Indera mengejang dan berkata, “Shin aku berharap keluarr”, kini malahan giliranku yang motivasi mengasah gerakan tubuhku supaya Indera dapat juga menempuh klimaksnya, melainkan lama Indera mengeluarkan penisnya dan terdengar dia mendesah panjang, “Ahh Shin…, Aku keluar”. Kulihat air maninya berceceran di lantai dan beberapa ada yang di meja. Lalu kami berdua duduk lemas dengan saling berpandangan. Dia berkata, “Kau nyesel yah Shin?”, aku menggeleng sambil berkata, “Nggak kok Ndra…, sekaligus buat pengalaman bagiku.”

Lalu tangannya yang kekar itu mulai menyentuh bibir kemaluanku dan mulai memainkan clitorisku sambil kadang kala mencubitnya. Aku yang benar-benar terstimulasi tak dapat berperilaku apa-apa kecuali mendesah dan menggeliat di atas meja. Cukup lama dia memainkan tangannya di kemaluanku, lalu dia mulai menjilati bibir komponen bawah kemaluanku dengan nafsunya, tangan kanannya masih memainkan clitorisku. Tak lama aku bertahan pada permainannya itu, kaprah-kaprah 5 menit kemudian, aku menikmati darahku naik ke ubun-ubun dan aku menikmati sesuatu kenikmatan yang amat luar awam, badanku meregang dan aku menikmati cairan hangat mengalir dari liang kemaluanku, Indera tanpa ragu menjilati cairan yang keluar sedikit demi sedikit itu dengan nafsunya hingga cuma air liurnya saja yang membasahi kemaluanku. Badanku terasa lemas sekali, lalu Indera duduk di pinggir meja dan memandangi wajahku yang telah berair bermandikan peluh.
Dia berkata padaku sambil tersenyum, “Kau menonjol capek banget ya Shin…”. Aku cuma tersenyum.

Ia mengambil pakaian basketnya dan mengelap cucuran peluh pada wajahku, aku benar-benar terkagum padanya, “Bagus banget nih cowo”, pikirku. Seperti telah paham, aku jongkok di hadapannya, lalu mulai mengelus-ngelus penisnya, sambil kadang kala menjilati dan menciuminya, aku juga tak tahu bagaimana aku dapat bereaksi seperti itu, yang ada di pikiranku cuma membalas perbuatannya padaku, dan sistem yang kulakukan ini pernah kulihat dari salah satu film yang pernah kutonton.
Indera cuma meregangkan badannya ke belakang sambil mengeluarkan bunyi-bunyi yang malahan makin membuatku mau memasukkan penisnya ke dalam mulutku, tak berapa lama kemudian aku mengendalikan pangkal genitalianya itu dan mulai membimbingnya masuk ke dalam mulutku, terasa benar ujung penisnya itu meraba dinding tenggorokanku dikala hampir segala komponen batang genitalianya masuk ke dalam mulutku, lalu aku mulai memainkan penisnya di dalam mulutku, terasa benar kemaluanku mulai mengeluarkan cairan berair lagi, petunjuk jika aku telah benar-benar terstimulasi padanya.

Kaprah-kaprah 5 menit aku menjalankan oral seks pada Indera, tiba-tiba badan Indera yang telah berair dengan peluh itu mulai bergoyang-goyang keras sambil dia berkata, “aarghh…, Aku udah gak bendung lagi nih Shin…, Aku berharap keluarr…”.
Aku yang tak benar-benar memerhatikan omongannya itu masih saja terus memainkan penisnya, hingga kurasakan cairan hangat kental putih dan agak asin keluar dari lubang alat kelamin Indera, aku segera mengeluarkan penisnya itu dan seperti kesetanan, aku malahan menelan cairan spermanya, dan malahan menghisap penisnya hingga cairan spermanya benar-benar habis. Aku duduk sejenak di kursi kelas, dan kuperhatikan Indera yang tiduran di meja sambil mencoba memelankan ritme napasnya yang terengah-engah.

Aku cuma tersenyum padanya, lalu Indera bangun dan menghampiriku, Ia juga cuma tersenyum padaku. Cukup lama kami berpandangan dengan situasi bugil dan berair berkeringat.
“Kau menawan dan bagus banget Shin”, katanya tiba-tiba. Aku cuma ngakak kecil dan mulai mengecup bibirnya. Indera membalas dengan nafsu sambil memasukkan tangannya ke dalam lubang kemaluanku. Cukup lama kami bercinta, lalu dia berkata, “Shin…, boleh nggak Aku emm…, itumu…”.
“Itu apa Ndra?”, tanya aku.
“Itu…, masa kau gak tahu sih?”, balasnya lagi.
sebelun aku menjawab, aku menikmati kepala batang genitalianya telah meraba bibir kemaluanku. “Crestt.., creest”, terasa ada yang robek dalam kemaluanku dan sedikit darah keluar.
Kemudian Indera berkata, “Shin kau rupanya masih perawan!”, aku cuma dapat tersenyum dan menikmati sedikit perih di kemaluanku terasa agak serat waktu separo genitalianya masuk ke vaginaku. Digerak-gerakan pelan batang genitalianya yang besar melainkan sesudah agak lama entah kenapa rasa sakit itu sirna dan yang ada cuma ada rasa geli, sedap dan sedap dikala Indera menggoyangkan badannya maju mundur perlahan-perlahan aku tak bendung lagi seraya mendesah kecil keenakan. Kemudian kian kencang saja Indera memainkan jurusnya yang maju mundur kadang kala menggoyangnya ke kiri ke kanan, dan dipuntir-puntir putingku yang pink yang kian membuatku menggelepar-gelepar seperti ikan yang dilempar ke daratan.

Peluh telah membasahi badan kita berdua. Aku sadari jika ketika itu perbuatan kita berdua dapat saja dipergoki orang, melainkan aku rasa kemungkinanya kecil sebab kelas itu agak terpencil. “Ahh…, ahh…, ahh”, aku mendesah dengan bunyi kecil sebab takut kedengaran orang lain. Kulihat wajah Indera yang menutup matanya dan terenggah-engah napasnya.

Cukup lama juga Indera bermain denganku, memang benar kata orang jika atlet itu kuat dalam bersenggama. “Ahh…, aww…, aww”, geli dalam lubang kemaluanku tak tertahankan. Tiba-tiba kurasakan sesuatu yang lain yang belum pernah kurasakan, cairan hangat kurasakan keluar dari dalam vaginaku.
Oh, itu mungkin yang kata orang orgasme pikirku. Badanku terasa rileks sekali dan mengejang. Mulutku ditutup oleh Indera mungkin dia takut jika aku mendesah terlalu keras. Meja kelas yang agak tua itu bergoyang-goyang sebab ulah kita berdua. Aku masih menikmati bagaimana Indera berupaya untuk menempuh puncak orgasmenya, lalu dia duduk di kursi dan menyuruhku untuk duduk di genitalianya. Aku berdasarkan saja dan perlahan-perlahan aku duduk di genitalianya. Indera mengendalikan pinggulku dan menaik-turunkan diriku. Aku belum pernah aku menikmati kenikmatan yang seperti ini. Aku mendesah-desah dan Indera kian motivasi menaik-turunkan diriku. Lalu badan Indera mengejang dan berkata, “Shin aku berharap keluarr”, kini malahan giliranku yang motivasi mengasah gerakan tubuhku supaya Indera dapat juga menempuh klimaksnya, melainkan lama Indera mengeluarkan penisnya dan terdengar dia mendesah panjang, “Ahh Shin…, Aku keluar”. Kulihat air maninya berceceran di lantai dan beberapa ada yang di meja. Lalu kami berdua duduk lemas dengan saling berpandangan. Dia berkata, “Kau nyesel yah Shin?”, aku menggeleng sambil berkata, “Nggak kok Ndra…, sekaligus buat pengalaman bagiku.”


Agen Slot-Hai, perkenalkan namaku Andrew xx, si kecil bungsu pasangan Ronny xx dan Widya xx (samaran), Keduanya pengusaha-pengusaha senior di Indonesia. Sedangkan terlalu kecil untuk berkompetisi dengan Liem Sioe Liong atau Prajogo Pangestu, melainkan kami masih cukup punya namalah di Jakarta. Apalagi kalo di lokasi pabrik Papa di Semarang atau konveksi Mama di Tangerang.. Eh, saya lupa. Saya umum dipanggil Andru, melainkan di rumah saya dipanggil A Bee atau Abi. By the way, sesungguhnya ini yaitu kisah tahun 1990. Ya, ini yaitu kisah 13 tahun yang lalu..

Tahun itu, saya baru naik kelas 2 SMP. Umurku ketika itu masih 13 tahun dan akan 14 Desember nanti. Mm.. SMP-ku dahulu lumayan ngetop, kini ngga terlalu.. kini hanya tinggal ngetop mahal dan borjunya aja. Saya sendiri termasuk yang ‘miskin’ di sana, abis saya hanya didampingi jemput sama ciecie-ku aja sedang yang laen kadang dianter jemput sama sopir pake kendaraan beroda empat sendiri (baca: yang diberi ortunya buat ia)
Kakak perempuanku yang sulung, Sinta, melainkan dipanggilnya Sian buat temen sekolah/kuliahnya. Cie Sian baru-baru aja mulai kuliah. Usianya waktu itu 18 tahun. Sedang kakak perempuanku yang kedua, Sandra, yang umum dipanggil Sandra atau Apin, baru masuk SMA dan usianya 15. Hehehe.. kalo berangkat saya dan Cie Pin menyukai nebeng Cie Sian. Namun kalo pulang, Cie Pin naik bus sedang saya dijemput Cie Sian. Namun mulai kelas 2 ini saya telah bertekat pulang naik metro mini atau bajaj sama temen-temen. Cie Sian cuman tersenyum aja saya bilang gitu..
Agen Playtect-Hanya gara-gara naik bus itu, Tante Vi, sekretaris Mama khusus buat di rumah âۉ€Å“dan gara-gara kekhususannya itu kami menyukai ejek ia butler alias “kepala pelayan” hehehe- jadi sedikit sewot. Namun pantasnya, uang sakuku jadi bertambah. Katanya sih buat naik taksi atau makan di jalan kalo laper. Ya, lumayanlah. Buat ukuran si kecil SMP tahun 1990, yang walaupun di sekolahan termasuk yang miskin, melainkan uang sakuku yang duaratus ribu sehari mungkin ngga kebayang sama temen-temenku yang sok kaya. Lagian saya buat apa bilang-bilang.. kalo gini kan ketauan mana yang temen mana yang bukan.. soalnya si kecil SMP ku itu dari dulunya, juga pada waktu itu, malahan hingga kini. Tenar matre.

Well, dan gara-gara kata matre itu pula yang bikin saya dapat ngeseks sama Vonny, si kecil kelas 3 yang benar-benar menawan melainkan benar-benar memilih pasangan jalannya itu. Juga sama Mbak Maya, temen SMA nya Cie Pin. Hehehe, untung aja Ci Pin ngga pernah tau sampe kini.. pasti heboh waktu itu kalo ia tahu.

Eh, melainkan.. saya pertama kali ngerasain yang namanya ‘ngentot’ bukan sama mereka ini loh.. Pasti kalian ngga pernah kebayang deh sama siapa saya pertama kali ngerasain badan cewek. Oh, bukan sama Tante Vi tadi.. apalagi sama perek atau pelacur (itu sih jijay!hii..) Berharap tahu? Sama seorang sales promotion girl bernama Marlena.

Di Baca Juga : Perselingkuhanku Dengan Jonas

Ceritanya, siang-siang pulang sekolah kami iseng pengen tau seperti apa sih yang namanya Pameran Produk Indonesia (PPI) di silang Monas. Well, kami liat-liat di sana terbukti sepi-sepi aja selain di sebagian stand/gedung pameran seperti kendaraan beroda empat. Dan di stand itulah ketika itu saya tersadar telah terpisah sendirian dari temen-temenku.. Rese’ nih pada ngga bilang-bilang kalo kehilangan..

“Siang, Ko.. pulang sekolah ya?” seorang dara putih manis berlesung pipit dan berbulu ikal sepundak menegurku dengan senyum yang paaling cantik cantik yang pernah kusaksikan seumur hidupku. Saya balas tersenyum pada SPG yang ramah melainkan agak sok akrab itu, “Iya Cie..”, Saya panggil ia Cie karena terang-terang usianya lebih tua ketimbang saya, mungkin 21 atau 22 tahunan. Saya kan masih 13 tahun dan pasti keliatan sebab saya kurus, kecil, pendek, dan masi pake celana SMP..

Ciecie itu ngakak sumringah, “Ih, kau ini pasti lantas kemari abis sekolah.. nakal, ya?!” candanya dengan senyum menarik hati. Saya terkekeh juga, sedangkan rada keki dibilang nakal, “Emang iya. Namun saya kan udah bilang Cie Sian berkeinginan kemari..”, Ciecie itu tersenyum ramah, “Ciecie kau usia berapa?”, “18..”, jawabnya.

Ia tersenyum, “Mmh ya bolehlah.. berarti kau ngga kelayapan..”
Saya ngakak, “Hehehe ciecie dapat aja.. ”
Lalu saya menudingnya, “Ciecie ini namanya siapa?”
Dengan gaya bak peragawati, ia membenarkan posisi nametag-nya yang miring sehingga bisa terang kubaca, “M-a-r-l-e-n-a.. Namanya menawan, Cie..”
Ia tersenyum, “Aduh makasih banget, tapinya ngga ada recehan nih.. pake brosur aja ya?”
Saya tersenyum dan mengambil juga brosur yang dia tawarkan.
“Wow, ni kendaraan beroda empat keren juga, nih..” saya hingga bersiul kagum-terkagum pada barang dagangannya.. (well, ketika itu teknologi DOHC baru pertama kali timbul di Indonesia.. wajar dong kalo saya ketika itu terkagum berat..)
“Iya, dong.. siapa dahulu yang jualan” katanya tersenyum sambil menepuk dada.

Dan ketika itulah saya mulai memandang pakaian kausnya ketatnya yang menampilkan buah dadanya yang lumayan besar.. hmm.. dan rok mininya yang ketat tipis sepaha itu, seolah-olah sekiranya kakinya terbuka sedikit lebih lebar karenanya saya bisa memandang celana dalamnya.. Karenanya tak usah ditunggu lagi, saya langsung mencontoh kemanapun dia bergerak menjelaskan presisi dan kesanggupan kendaraan beroda empat itu, sambil berterima kasih jadi orang pendek.

Hehehee.. Beneran deh, dengan tinggiku ketika itu yang 134 cm, kalian seolah-olah dapat mengintip isi rok mini Cie Lena yang tingginya 170 cm lebih dan pake sepatu hak tinggi pula. Makanya saya tak menyia-nyiakan kans untuk duduk di dalam kendaraan beroda empat sementara ciecie itu membeberkan dari luar dengan sebelah kaki menginjak sandaran kaki..
Namun saya yakin mukaku menjadi kemerah-merahan, karena ciecie ini dari tadi bagaikan ngakak maklum dan betul-betul sapuan matanya menyapu wajahku terus-menerus.. hingga tiba-tiba saya bagai tersadar dari lamunan..

“..gimana? udah keliatan belon?”
saya terkaget-terkejut di daerah duduk menatap wajahnya yang tersenyum manis, “apanya, nih?”
ia tersenyum lalu gerakan matanya menunjuk arah diantara kedua kakinya yang membuka sambil berkata perlahan, “..celana dalemnya ciecie..”

nah, kebayang kan gimana malunya dan merahnya mukaku ketika itu ditembak lantas semacam itu.. untung ia ngomongnya ngga kenceng. Lalu ia mendekatkan diri padaku dan berkata, “dari tadi ciecie liat kau berupaya liat dalemannya ciecie, jadi tadi ciecie sengaja angkat kaki sedikit biar kau engga penasaran.. udah liat, kan? Ciecie pake warna cokelat muda..”. Saya yakin mukaku semerah kepiting rebus. Namun Cie Lena tersenyum maklum dan membimbingku bangkit dari daerah duduk sopir dan berkata keras, “Turut Ciecie ya Ko kecil.. Ciecie akan kasi liat kesanggupan ini kendaraan beroda empat agar dapat bilang-bilang sama Papa, ya?”

Dan seorang pria muda berdasi yang berdiri tak jauh dari kami tersenyum lebar mendengar ucapannya itu sambil mengacungkan ibu jari. Namun kulihat Cie Lena cuek aja, pun mengerdipkan sebelah matanya padaku.
Kami menuju pekarangan parkir luar dimana sebuah kendaraan beroda empat serupa dipamerkan âۉ€Å“dan nampaknya dapat dicoba. Cie Lena memintaku duduk di depan sedang ia sendiri menyetir.

Gugup juga saya waktu liat ia di bangku sopir duduk agak mekangkang sehingga dengan rok mini super pendeknya saya tahu pasti terdapat celah terbuka yang sekiranya saya duduknya maju sedikit pasti saya dapat memandang.. ehmm.. anunya.. yang katanya cokelat muda itu..

Cie Lena ngakak geli melihatku rada panik. Melajukan kendaraan beroda empat keluar rumit silang Monas, dia berkata, “Nah kini kau dapat liat celana dalam Ciecie puas-puas tanpa perlu takut ketauan..”
Saya benar-benar malu. Namun saya tak dapat membendung diriku untuk menyandarkan kepalaku ke dashboard sehingga dapat mengintip sesuatu diantara kedua paha mulus ciecie ini..

Ia tersenyum, “Namamu siapa sih, Say?”
“A Bee.”
Ia tersenyum, “Nama yang baik.”
Lalu ia menoleh menatapku sejenak, “Kau belum pernah liat cewek telanjang ya, Say?”
Saya menggeleng perlahan.
“Pengen tau, ya?” ia tersenyum, “Pasti pernah nyoba ngintipin ciecie-mu ya?”
Kali ini saya mengangguk perlahan.
Ia ngakak.
“Berharap liat Ciecie telanjang ngga, Say?”
Saya hanya dapat menelan air liur gugup. Ciecie seseksi ini berkeinginan telanjang di depanku?
Ia tersenyum, “Namun Say, Ciecie boleh meminta duit kau sedikit ya? Ciecie perlu bayar uang kuliah sama beli buku nih..”
Saya masih terdiam membayangkan ia telanjang di depanku.. Waah, pasti di antara kakinya itu ada..
“Kau boleh liat badan Ciecie semuanya, Say..” katanya memutus lamunanku, “Ciecie sayang sama kau, abis kau mungil sih..”
“Ciecie emang butuhnya berapa duit?” saya memberanikan diri bertanya.
Ia tersenyum dan jarinya menunjuk angka 1..
“I Pay..”
Hanya segitu? Yah, kalo hanya segitu sih.. uang sakuku sehari juga lebih dari itu.. Aduh, dengan uang segitu, ia berkeinginan telanjang di depanku agar ia dapat kuliah..
“Cie..” kataku nekat, gejolak di kepalaku telah memuncak di nafas dan kontolku nih..
“..tapinya saya boleh kecup Ciecie, ya?”
Cie Lena agak terkejut, saya terlalu polos atau kurang didik, ya?
Namun ia tersenyum.
“Makasih, A Bee Sayang..”

Lalu, Cie Lena menuntun kendaraan beroda empat model itu ke sebuah daerah di Kota (saya ngga tau namanya, waktu itu kami kan tinggalnya di Pondok Cantik sedang sejauh-jauhnya saya main kan hanya di Blok M). Dia memasukkan kendaraan beroda empat ke garasi sebuah rumah kecil di pemukiman yang padat dan jalannya ampun deh jeleknyaa..

Lalu Cie Lena menyilakan saya keluar. Sempat kulihat dia tersenyum pada seorang Empeh-empeh yang via, Kudengar dia membahasakan saya ini adik sepupu yang hari ini dititip sebab orang tuanya sedang pergi. Wah, jikalau sampe sebegitu-begitunya, ini pasti beneran daerah tinggalnya.. Lalu saya menirunya masuk ke dalam rumah itu. (Hihihi saya amati dia mengambil si kecil kunci pintu depan dari balik keset.. Kalo saya maling, habis telah isi rumah ini..)

“Ini kontrakan Ciecie..” katanya sambil menunjuk ke ruangan dalam, “Ciecie tinggal berempat di sini.”
“Yang lainnya kalo ngga kerja ya kuliah..” katanya ketika saya bertanya mana yang lain.

Dia membuka kamarnya dan menyilakan saya masuk sementara dia ke ruangan lain âۉ€Å“mungkin mengambil minuman. Saya amati kamarnya benar-benar rapi, mirip seperti kamarnya Ci Sian. Bedanya cuma buku-buku kuliahannya benar-benar sedikit sedang di kamarnya Ci Sian kemanapun kita mengamati isinya buku.. Ah, Ciecie ini memang butuh bantuan banyak.

Lalu Cie Lena datang membawa minuman. Tersenyum ramah. Meletakkan gelas di meja belajarnya lalu mengunci pintu dan berdiri bersandar di pintu sambil memandangiku. Saya duduk di bangku belajarnya, separuh gugup. Habis ini, saya akan memandang cewek bugil autentik-aslian di depanku.. Nampaknya ia benar-benar paham kegugupanku sebab dia lalu berjongkok di sampingku dan memelukku erat-erat. Menciumku perlahan. Lalu berkata, “Udah siap liat bodi Ciecie?”, Saya mengangguk pelan. Ia tersenyum dan berdiri sambil membelai pipiku. Dia mulai berdiri menjaga sedikit jarak supaya saya dapat memandang segala dengan terang.

Sebenarnya kalo dipikir-pikir ketika itu dia menjalankannya dengan pesat, kok.. Namun dalam tegangku, segala gerakannya jadi slow motion. Dia mulai dengan membuka kaus ketat tipisnya. Melemparnya ke daerah tidur. Tersenyum lebar, dia menepuk perutnya yang putih kecoklatan itu sambil membikin gerakan menciumku.. Lalu dia menarik sesuatu di belakang rok mininya sehingga terjatuh dia menutupi jemari-jemari kakinya memperlihatkan celana dalam cokelat muda yang tadi dia katakan..

Hingga di sini, saya tak kuat duduk.. batang kontolku menegang dan sakit kalo saya konsisten duduk. Dia pun mendekat dan memelukku. Mmmhh.. sedangkan jadi sedikit sesak nafas, melainkan saya benar-benar bahagia.. wajahku sekarang terbenam di antara belahan buah dadanya.. sedang perutnya melekat pada dadaku.. Oh, saya tentu saja balas memeluknya.. dan terpeluk olehku pinggul dan bokongnya yang sekel itu.. Dan ketika terpegang olehku celana dalamnya, spontan saya masukkan jari-jariku ke dalamnya, membuatnya menjerit kecil.. “Aih.. ngga sabaran banget sih Ko kecilku ini..”

Spontan dia melucuti celana dalamnya lalu mengangkat kaki kirinya memeluk pantatku sehingga rambut tipis jembutnya menggesek-gesek perutku.. Aduh ciecie ini.. saya kan pengin liat.. Namun dia menciumku di pipi dan membimbingku ke cermin yang tertempel di lemarinya menampakkan segala badan telanjangnya selain di sekitar tetek itu.. Saya paham. Saya ke belakangnya dan membuka kaitan BH nya sehingga menonjol juga kesudahannya puncak gunung yang cokelat muda cantik itu.. membuatku langsung menarik tubuhnya menghadapku.. dan mulai meremasinya buah dada itu.. Dia sedikit melenguh dan terduduk di bangku.. Menyandarkan punggungnya di sandaran bangku sehingga dadanya membusung sedang posisi pinggul dan otomatis memeknya tersodor bagai mau disampaikan.. Saya ciumi teteknya itu lalu saya hisap kuat-kuat membuatnya menggelinjang hingga kesudahannya dengan satu sentakan dia mendorongku jatuh ke daerah tidurrnya..
Dia bangkit berdiri separuh membuka pahanya sambil bertolak pinggang menampilkan dadanya yang masih mancung dan ranum itu..

Aduh saya ngga kuat lagi. Saya buka celana ku sehingga batang kontolku mencuat keluar dengan bebas mengambil posisi tempur.. kucopot juga bajuku sehingga tinggal singletku. Sementara itu dia cuma tersenyum saja.
Lalu dia membatasi kontolku, yang langsung saja kian tegang dan membesar..
“Aduh si Ko kecil ini..” katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala, “Udah kerangsang, ya?”
“Iya, cie.. ”
Ia hanya tercekikik, dengan genggamannya membendung kulit kulup ku supaya tak menutupi kepala kontolku, dia menotol-notolkan telunjuknya pada kepala kontolku.. dan tiap kali jarinya meraba kulit kepala kontolku, tiap kali itu saya merasa tersetrum oleh rasa geli-geli yang aneh..
“Hhh..,” saya hingga mendesah kenikmatan, “Cie, ‘maen’ yuk?”
Ia menatapku geli..
“Maen petak umpet?”
Saya menggeleng tidak tabah, “Bukaan. Kayak yang di film-film..”
“Film apa? Donald Duck?”

“Be Ef, Cie.. Ngentot..” kesudahannya keluar juga kata itu dari mulutku..
Namun ia pun menowel hidungku, “Kecil nakal, ya? Kau-kecil udah nonton BF. Kau udah pernah ‘maen’, ya? sama siapa?”
Saya menggeleng perlahan, “Nonton doang. Pengen sama Ciecie..”
“Namun ciecie mana puas ‘maen’ sama kau. Kau kan masih si kecil kecil..”
Lalu ia menunjuk burung-ku
“Punya kau itu kekecilan. Lagian kau orang kan belum pernah ‘maen’, belon tau patut ngapain..”
Adduuh.. saya udah kepengen banget niih..
“Cie Len.. boleh dong, ya? saya kasi Ciecie tiga ratus deh..” saya merengek..
Ia pun ngakak, “Kau ini patut si kecil orang super kaya.. membuang duit kayak membuang sampah..”
Adduuh.. bantu Cie.. cepet dong..
Ia lalu mengecup bibirku sehingga batang kontolku tidak urung meraba tempat sekitar pangkal pahanya..

“Duit segitu itu setengah uang kuliah Ciecie satu semester, tau nggak?!”
Adduuh Ciecie ini gimana sii.. saya udah ngga bendung nii..
“Cie Len.. ayo dong Cie..”
Cie Lena menghela nafas panjang, lalu menatapku sambil menggigit-gigit bibirnya sebelum kesudahannya berkata “Sebenarnya Ciecie ngga pengen semacam ini. Tadinya niat Ciecie sama kau tuh hanya telanjang aja..”
“Namun Ciecie memang butuh uangnya..”
Lalu dia menghela nafas panjang lagi, “Namun kau ini masih si kecil kecil. Ciecie ngga berkeinginan ngerusak kau..”

Saya menatapnya protes. Dia pasti memandang tatapan protesku, melainkan dia menonjol berdaya upaya keras. Namun kesudahannya dia menggelengkan kepala lalu mengecup bibirku. Lalu tubuh telanjangnya itu menengkurap menindih tubuh telanjangku..Dia menciumiku sementara tangan kirinya meraba-sentuh kepala kontolku dan ampun deh rasanya luar umum.. (terbukti butuh sebagian tahun kemudian baru saya sadar kalo orang belum pernah kepegang cewek, cukup diraba kepala kontolnya rasanya telah selangit..)

Saya meronta, menggelinjang keenakan.. sekalian tak puas.. saya mau ngentot! Dan akhirmya dia memenuhi keinginanku.. dia menapakkan kaki kirinya di atas ranjang sedang kaki kanannya di lantai, dalam posisi separuh berlutut sehingga kepala kontolku (yang mungkin masi terlalu kecil buat ia sebab usiaku toh juga masi kecil) sedikit melesak di antara dua bukit berhutan jarang itu.. Lalu.. dia menekan bokongnya sedang dia membusungkan dadanya dan mendongak sehingga pandanganku cuma berisi payudara dan puting susu kecoklatannya itu.. plus bonus ujung hidungnya..

Slepp.. nampaknya kepala kontolku telah mulai melesak masuk.. Dia lalu mengambil posisi berlutut, kedua lututnya tertekuk di atas kasur dan pinggulnya menindihku.. Lalu dia sekali lagi mendesakkan pinggulnya.. Bless.. kesudahannya masuk juga.. Saya terpikat menikmati friksi kontolku dengan dinding dalam memeknya.. Dia tersenyum lagi. Lalu mulai menggoyang-goyangkan bokongnya.. membikin sensasi luar umum pada tiap gerakannya yang membikin kontolku bergesekan dengan dinding memeknya.. Ohh.. hh.. Badanku rasanya perlahan-perlahan terbakar oleh perasaan geli-geli yang menjalar yang dingin..

Lalu dia kian mempercepat gerakannya. Sedap jalaran geli tadi kian melebar ke segala permukaan kulit tubuhku dan pada ketika nampaknya tidak tertahankan lagi.. tiba-tiba..
Srr.. srr.. srr.. kurasakan saya ‘kencing’ dan perasaan geli itu mulai menguap meninggalkan bekas bergetar dingin pada sekujur badanku.. Gerakan Cie Lena stop.. Kontolku telah terlalu lemas sehingga tak bisa bertahan lebih lama dalam liang memeknya.. Cie Lena memelukku sekali lagi.. Menciumku..

“Gimana, Bee..? Kesampaian, ya..?” katanya dengan senyum menarik hati..
“Aku kan ‘maen’ sama Ciecie..?”
Saya.. saya tak bisa menjawab. Saya menutup mataku saja sambil tersenyum lebar..
Dan saya pikir ia puas dengan jawaban itu. Soalnya ia mulai menciumku dan memainkan burungku sekali lagi dengan jemari lentiknya..

Ah.. Cie Lena.

Tetapi ini, 13 tahun kemudian, ia masih belum menikah dan sekarang berprofesi sebagai karyawanku di sebuah wilayah perkantoran di xx.. Ya tentu saja kami masih sering kali menjalankannya. Namun mungkin tak terlalu sering kali sebab kami masing-masing telah punya pacar.  saja, dikala kenangan atau gairah itu datang, sedang pacarku tak ada di daerah, saya tahu ke mana saya dapat menyalurkan hasratku..

Agen Playtech-Cerita ini dimulai dari ingatanku waktu dahulu masih sekolah, pasti ada saja salah satu guru yang menjadi unggulan. Inilah yang melatar belakangi Cerita Sex Panas yang akan aku ceritakan untuk anda segala. Mungkin banyak juga yang menjagokan ibu guru, apalagi ibu guru indah, dan menyukai berpenampilan seksi, jadi pengen ngentot ibu guru kan, dari mulanya menghayal sampailah pada onani , okelah ini yakni cerita dewasa seputar pengalaman murid yang dapat bercumbu dengan ibu guru nya sendiri, cerita sex hot dan mungkin akan membikin anda senat senut. Mungkin . bukan cerita seks ibu dosen, melainkan cerita seks ibu guru.

Sebagai siswa sebuah SMU Swasta, saya bukanlah murid yang mahir melainkan juga tak bodoh-bodoh benar-benar. Lazim-lazim saja. Tak dapat dibanggakan. Yang dapat saya banggakan yakni wajahku yang tampan dengan format tubuh yang atletis. Tinggi jangkung dan berat yang berimbang. Dan paling saya banggakan yakni ukuran kemaluanku yang luar lazim besarnya, panjangnya 22 cm dengan diameter 5 cm. Membikin dengki sahabat laki-lakiku.

AGEN SLOT-Namaku Doni, cukup familiar di sekolahku. Mungkin sebab saya jahil dan tak jarang berganti-ganti cewek. Banyak sahabat sekolahku yang pernah saya tiduri. Mereka tergila-sinting sesudah merasakan jalan tolku yang luar lazim dan bendung lama jika bersetubuh.

Petang itu, sesudah segala pembelajaran selesai saya bergegas pulang kerumah. Segala buku-buku telah kumasukkan kedalam ransel. Kustart sepeda motorku menuju jalan raya. Tetapi di tengah perjalanan saya baru ingat, pulpenku ketinggalan di dalam kelas. Dengan tergesa-gesa saya balik lagi ke sekolahku. Sesudah mengambil kembali pulpenku, saya berjalan lagi menuju parkir sepeda motorku. Untuk menempuh daerah parkir, saya sepatutnya via ruangan guru.
Dikala via ruangan guru-guru, saya mendengan bunyi mendesah-desah disertai rintihan-rintihan kecil. Saya penasaran dengan bunyi-bunyi itu. Saya mendekati pintu ruangan, bunyi-bunyi itu kian keras. Saya kian penasaran dibuatnya. Kubuka pintu ruangan, dengan berjalan mengendap-endap, saya mencari tahu darimana datangnya bunyi-bunyi itu. Seperti mendekati ruangan Bu siska, saya kaget. Disana kulihat Bu Siska, guru bahasa Inggrisku yang sudah setahun menjanda, sedang bercinta dengan Pak Rio, guru olahragaku, dalam posisi berdiri.


Bibir mereka saling cium. Lidah mereka saling sedot. Tangan Pak Rio meremas-remas bokong Bu Siska yang padat, padahal tangan Bu Siska melingkar dipinggang Pak Rio. Mereka yang sedang asik tidak tahu akan kehadiranku. Saya mendekati arah mereka. Saya membungkukkan badan dan ngumpet dibalik meja, mengintip mereka dari jarak yang amat dekat.

Mereka menyudahi bercinta, kemudian Pak Rio duduk dipinggir meja, kakinya menjuntai kelantai. Bu Sisca berdiri didepannya. Bu siska mendekati Pak Rio, dengan buasnya ia menarik celana panjang Pak Rio. Tidak tertinggal celana dalam Pak Rio juga diembatnya. Sampai Pak Rio separuh telanjang. Bu Siska menguru-urut jalan tol Pak Rio. jalan tolnya yang tak seperti itu besar, sedikit demi sedikit menegang. Bu Siska membungkukkan tubuhnya, sampai wajahnya ideal diatas selangkangan Pak Rio. jalan tol Pak Rio diciuminya.

“Isep.. sayang.. isep.. jalan tolku” suruh Pak Rio.
Bu Siska tersenyum mengangguk. Ia mulai menjilati kepala jalan tol Pak Rio. Terus turun kearah pangkalnya. Bu Siska amat mahir memainkan lidahnya dijalan tol Pak Rio.
“Oohh.. enakk.. sayang.., truss.., truss”.

Pak Rio mengerang saat Bu Siska mengulum jalan tolnya. Segala batang jalan tol Pak Rio masuk kemulutnya. jalan tol Pak Rio maju mundur didalam mulut Bu Siska. Tangan Bu Siska mengurut-urut buah pelirnya. Pak Rio menikmati sedap yang luar lazim. Matanya merem melek. Bokongnya diangkat-angkat. Saya amat terstimulasi mengamati panorama itu. Kuraba-raba jalan tolku yang menegang. Kubuka retsleting celanaku.Kukocok-kocok jalan tolku dengan tanganku. Birahiku memuncak. Mau rasanya saya bergabung dengan mereka, melainkan harapan itu kutahan, menunggu ketika yang ideal.

Lima belas menit berlalu, Pak Rio menarik dan menjambak kepala Bu Siska.
“Akhh.., akuu.. mauu.., ke.. keluar sayang” Pak Rio menjerit histeris.
“Keluarin aja sayang, saya berharap meminumnya” sahut Bu Siska.
Bu Siska tidak mempedulikannya. Kian pesat dikulumnya jalan tol Pak Rio dan tangan kanannya mengocok-ngocok pangkal jalan tol Pak Rio seirama kocokan mulutnya. jalan tol Pak Rio berkedut-kedut, otot-ototnya menegang.

Dan crott! crott! crott! Pak Rio menumpahkan spermanya didalam mulut Bu Siska. Bu Siska meminum cairan air mani itu. jalan tol Pak Rio terus dijilatinya, sampai semua sisa-sisa air mani Pak Rio bersih. jalan tol Pak Rio kemudian mengecil didalam mulutnya.

Pak Rio yang telah menempuh orgasme kemudian turun dari meja.
“Kau puas sayang dengan serviceku” tanya Bu siska.
“Puas sekali, kau pitar sayang” puji Pak Rio sambil tersenyum.
“Gantian sayang, kini giliranmu memberiku kepuasan” pinta Bu Siska.
Bu Siska melepaskan gaunnya, juga baju atasnya, sampai ia telanjang bulat. Astaga terbukti Bu Siska tidak mengaplikasikan apa-apa dibalik gaunnya. Saya bisa mengamati dengan terang lekuk tubuh mulusnya, putih bersih, ramping dan sexy dengan buah dada yang besar dan padat, juga format tempenya yang cantik dihiasi bulu-bulu yang dicukur tipis dan rapi.

Bu Siska kemudian naik keatas meja, kakinya diselonjorkan kelantai. Pak Rio mendekatinya. tempe Bu Siska diusap-usp dengan tangannya. Jari-jarinya dimasukkan, mencucuk-cucuk tempe Bu Siska. Bu Siska menjerit sedap.
“Isep sayang, isep tempeku sayang” pinta Bu Siska menghiba.
Pak Rio menurunkan wajahnya mendekati selangkangan Bu Siska. Lidahnya dijulurkan ketempe Bu Siska. Disibaknya bibir tempe Bu Siska dengan lidahnya. Pak Rio mulai menjilati tempe Bu Siska.
“Oohh.. truss.. sayang.., jilatin terus.., akhh” Bu Siska mendesah.
Pak Rio dengan lihainya memainkan lidahnya dibibir tempe Bu Siska. Dihisapnya tempe Bu Siska dari komponen luar kedalam. tempe Bu Siska yang merah dan berair dicucuk-cucuknya. Kelentitnya disedot-sedot dengan mulutnya.
“Oohh.., enakk.., truss.., truss.., sayang” jerit Bu Siska.

Hampir semua komponen tempe Bu Siska dijilati Pak Rio. Tanpa sejengkalpun dilaluinya.
“Akkhh.., akuu.. mauu.. ke.. keluar.. sayang” erang Bu Siska.
tempenya berkedut-kedut. Otot-otot tempenya menegang. Dijambaknya rambut Pak Rio, dibenamkannya keselangkangannya.
“A.. akuu.., keluarr.., sayang” Bu Siska menjerit histeris saat menempuh orgasme. tempenya amat berair oleh cairan spermanya. Pak Rio menjilati tempenya sampai bersih.

“Kau puas Sis?” tanya Pak Rio ********
“Belum! Entot saya sayang, saya berharap menikmati jalan tolmu” pinta Bu Siska.
“Maaf Sis! Saya tidak dapat, saya sepatutnya pulang”.
“Nanti istriku curiga, saya pulang petang” sahut Pak Rio menolak.
“Kau penakut Rio! Diberikan nikmat aja takut!” kata Bu Siska sebal.
Matanya meredup, memohon pada Pak Rio. Pak Rio tidak mempedulikannya. Ia mengenakan celananya, kemudian berlalu meninggalkan Bu Siska yang menatapnya sambil memohon.

Ini kesempatanku! Pikirku dalam hati. Nafsu birahiku yang telah memuncak mengamati mereka saling isap, berharap disalurkan. Sesudah Pak Rio berlalu, kudekati Bu Siska yang masih rebahan diatas meja. Kakinya menggantung ditepi meja. Dengan hati-hati saya berjalan mendekat. Kulepaskan pakaian seragamku, juga celanaku sampai saya telanjang bulat. jalan tolku yang telah menegang, mengacung dengan bebasnya. Hingga didepan selangkangan Bu siska, tanganku menyentuh-raba paha mulusnya. Rabaanku terus keatas kebibir tempenya. Ia melenguh. Kusibakkan bibir tempenya dengan tanganku. Kuusap-usap bulu tempenya. Kudekatkan mulutku keselangkangannya. Kujilati bibir tempenya dengan lidahku.

“Si.. siapa.., kau” hardik Bu Siska saat tahu tempenya kujilati.
“Hening Bu! Aku Doni murid Ibu! Aku Mau memberi Ibu kepuasan seperti Pak Rio” sahutku penuh nafsu.
Bu Siska tak menyahut. Merasa memperoleh angin segar. Saya kian berani saja. Nafsu daya seksualitas Bu Siska yang belum tuntas oleh Pak Rio membuatnya mendapatkan kehadiaranku.

Saya melanjutkan aktivitasku menjilati tempe Bu Siska. Lubang tempenya kucucuk dengan lidahku. Kelentitnya kusedot-sedot.
“Oohh.., truss.. Don.., truss.. isep.. sayang” pintanya memohon.
Hampir tiap-tiap jengkal dari tempe Bu siska kujilati. Bu Siska mengerang membendung nafsu daya seksualitasnya. Kedua kakinya terangkat tinggi, menjepit kepalaku.

Lima belas menit berlalu saya menyudahi aktivitasku. Saya naik keatas meja. Saya berlutu diatas tubuhnya. jalan tolku kuarahkan kemulutnya. Kepalanya telentang. Mulut terbuka menyambut ketidakhadiran jalan tolku yang tegang penuh.
“Wow! Gede sekali jalan tolmu!” katanya sedikit kaget.
“Isep Bu! Isep jalan tolku!” pintaku.

Bu Siska mulai menjilati kepala jalan tolku, terus kepangkalnya. Trampil sekali ia memainkan lidahnya.
“Truss.. Buu.. teruss.., isepp” saya mengerang menikmati sedap.
Bu Siska menghisap-isap jalan tolku. jalan tolku keluar masuk didalam mulutnya yang penuh sesak.

“Akuu.. tidak.., tahann.., sayang! Entot saya sayang” pintanya.
“Ya.., ya.. Buu” sahutku.
Saya turun dari meja, berdiri diantara kedua pahanya. Kugenggam jalan tolku, mendekati lubang tempenya. Bu Siska melebarkan kedua pahanya, menyambut jalan tolku. Sedikit demi sedikit jalan tolku menjelang lubang tempenya. Kian lama kian dalam. Sampai seluruhnya amblas dan terbenam. tempenya penuh sesak oleh jalan tolku.
Saya mulai mengerakkan pantatku maju mundur. Klecot!Klecot! Bunyi jalan tolku saat bertarung dengan tempenya.
“Ooh.., nik.. matt.., sayang.., truss” Bu Siska mendesah.

Kuangkat kedua kakinya kebahuku. Saya bisa mengamati dengan terang jalan tolku yang bergerak-gerak maju mundur.
“Ooh.., Buu.., enakk.. banget.., tempemu.., hangat” desahku.

Sekitar tiga puluh menit saya menggenjotnya, kurasakan tempenya berkedut-kedut, otot-ototnya menegang.
“Akuu.., tidak.. bendung.., Don, saya.. berharap.. keluarr” jeritnya.
“Bendung.. Buu.., saya.. masih tegang” sahutku.
Ia bangun duduk dimeja mengatur pinggangku erat-erat, mencakar punggungku.
“Akkhh.., akuu.. keluar” Bu Siska menjerit histeris.
Napasnya memburu. Dan kurasakan tempenya amat berair, Bu siska menempuh orgasmenya. Ibu guruku yang telah berumur 37 tahun menggelepar menikmati nikmatnya kusetubuhi.

Saya yang masih belum keluar, tidak berharap rugi. Kucabut jalan tolku yang masih tegang. Kuarahkan kelubang duburnya. Kedua pahanya kupegang erat.
“Ja,.jangan.., Don” teriaknya saat kepala jalan tolku meraba lubang duburnya.
Saya tidak memperdulikannya. Kudorong pantatku sampai separuh batang jalan tolku masuk kelubang duburnya yang sempit.
“Aow! Sakitt.. cabutt.., Don.., saya.. sakitt.. jangan” teriaknya keras.
Kusodok terus sampai semua batang jalan tolku amblas. Kemudian dengan pelan melainkan pasti kugerakkan pantatku maju mundur.

Teriakan Bu Siska mengendor. Berganti dengan desahan-desahan dan rintihan kecil. Bu Siska telah dapat merasakan sentuhan jalan tolku dianusnya.
“Jadi dicabut ngga Bu” candaku.
“Jangan sayang, nikmat banget” katanya sambil tersenyum.

Kusodok terus lubang duburnya, kian lama kian pesat. Bu Siska menjerit-jerit. Kata-kata kumal keluar dari mulutnya. Saya kian mempercepat sodokanku saat kurasakan akan menempuh orgasme.
“Buu.., akuu.. mauu.. ke.. keluarr” saya melolong panjang.
“Akhh.. akuu juga sayang” sahutnya.

Crott! Crott! Crott! Saya menumpahkan air mani yang amat banyak dilubang duburnya. Kutarik jalan tolku. Kuminta ia turun dari meja untuk menjilati jalan tolku. Bu Siska menurutinya. Ia turun dari meja dan berlutut dihadapanku. jalan tolku dikulumnya. Sisa-sisa spermaku dijilatinya hingga bersih.

“Kau hebat Don, saya puas sekali” pujinya.
“Saya juga Bu” sahutku.
“Baru kali ini tempeku disusupi jalan tol yang amat besar” katanya.
“Ibu berharap khan terus menikmatinya” kataku.
“Tentu sayang” jawabnya sambil berdiri dan mencium bibirku.

Kami beristirahat sehabis merengkuh kenikmatan. Kenikmatan berikutnya kudapatkan dirumahnya. Bu Siska, guruku terbukti hyperseks. Ia kuat sekali ngentot. Satu malam dapat hingga empat kali




agenslot-Setelah tamat sekolah di kampung akupun bermigrasi ke rumah kakakku yang telah berumahtangga dan tinggal di bandar, Oleh kerana saya menyambung untuk mencari ilmu di kolej karenanya ibubapaku bersetuju saya tinggal bersama kakak dan abang iparku.

Saya gadis yang pemalu dan mengaplikasikan tudung , sembayang tidak pernah tinggal dan kakakku malah seperti itu juga. Abang iparku pula kuat bersedekah dan senantiasa sembahyang sunat pada tengahmalam dan permulaan pula bangun untuk mengaji dan sebagainya.

Di pendekkan cerita, mula-mula tidak ada apa-apa berlaku sampailah kakakku mengandung si kecilnya yang ke empat. Ia senantiasa saja penat dan tidur permulaan dan mungkin tidak bisa melayan kehendak abang iparku dikala kami sedang menonton Tv kakakku berkata ia mengantuk ia dan pergilah tidur, tinggalah kami bersama sangat-si kecilnya yang masih kecil 3-5 tahun. Oleh kerna budak-budakni dah anaknya tidur permulaan kerna sekolah esok karenanya terlelaplah pula mereka di depan tv.

Tiba-tiba rancangan tvtuh pula ada adegan yang mengairahkan. saya jadi malu dan terus mengatakan saya saya masuk tidur jadi abang iparku mengatakan untuk mengangkat sangat-sangat nya masuk kebilik anak kerana saya tidur bersama mereka. dahulu semuanya beres karenanya saya malah bersedialah untuk tidur tiba-tiba abang iparku menarik tanganku dan saya bibirku. Saya yang mencium menolaknya saya ia yang lebih bertenaga tetapi peduli terus menolak saya kekatil dan menindih saya sambil saya mulutku dengan ghairahnya. ia menarik skaf ku dan saya ke telingaku saya jadi ghairah dikala lidahnya bermain dalam cuping telingaku dan saya terus. Oleh kerana ia berpengalaman saya ia jadi longlai dan ia terus meramai buah dadaku sambil lidahnya bermain-main di leher, bibir dan telingaku. Saya makin ghairah dan rela di perlakukan sedemikian.


Abang iparku terus mengangkat saya bantu tidurku ke atas dan menyelak bra ku dari atas dan menghisap puting breastku. tanganya yang satu meramas-ramas kemaluanku dari atas kain. Saya yang kesedapan baju bisa mengeluh-geluh kenikmatan kerana inilah pertama kali saya di perlakukan demikian.

Sesudah kedua-dua belah putingku di hisap karenanya abang iparku dengan lebih berani mnyelak kain sarungku dan membuka seluar dalamku dan setelah saya membangkangkan kakiku, saya akur dan ia terus menjilap lubang kemaluanku. Saya rasa kelentitku di jilap dan di hisap, lidahnya pula mencucuk-cucuk ke dalam lubang kemaluanku saya yang telah tidak telah kerana telah 2 kali saya klimak terus mengatakan saya tidak telah dan abang iparku terus membuka kain pelekatnya dan memasukkan zakarnya ke dalam tidak saya.

Kami bersetubuh di dalm bilik yang gelap itu. Mula-mula sakit lepas itu alat vital dan selepas habis, abang iparku datang lagi tengah malam dan subuh untuk menyetubuhi saya. Sehinggalah ke hari ini saya masih lagi di setubuhi olehnya.

Saya yang telah anaknya bersetubuh kadang-kadang telah di setubuhi di mana saja dikala kakak tetapi ada kadang-kadang dikala saya berada di dapur atau dikala di tandas dan paling senantiasa ktiaka sangat-sangat tertidur depan tV kami akan bersetubuh di ruang anak dan Tvlah yang menyaksikan kami.

Kadang-kadang anak abang iparku penat melayan kakakku agaknya, ia baju menjilat kemaluanku dikala di dapur atau dikala saya pura-pula duduk menulis dan ia berada di bawa meja berselindung di dalam lapik meja dan menjilat dan mencucuk jarinya ke dalam kemaluanku. Si-si kecilnya asyik ia anak dan kemaluanku asyik di jilat dan buah dadaku asyik di ramas ayah mereka.



agenslot-Saya seorang pedagang usia 35 tahun, istriku 32 tahun guru SMA. kisah ini terjadi dua tahun lalu, tepatnya satu bulan sebelum puasa. Saya memiliki asisten namanya Dian. orangnya cukup tinggi hampir setinggi saya yakni kaprah-kaprah 165cm, semampai, badanya langsing dengan kedua tetek yang masih sekal dan mencuat dengan ukuran teteknya kira2 34.

Aku cuma kaprah-kaprah aja, sebab belum pernah memandangnya. Dian telah berprofesi di rumah semenjak empat tahun yang lalu, yakni semenjak buah hati kedua aku lahir. dia sungguh-sungguh sayang sama buah hati aku. istri aku malahan percaya sama ia. sebab istri aku berprofesi karenanya seluruh urusan pengurusan rumah tangga diserahkan terhadap si Dian. Dian ini cuma tamat SD kini umurnya telah 17 tahun. lagi segarnya memang. Kali Dian ini ketiduran di Sofa keluarga sambil mengendong buah hati aku sementara istri aku sudah tertidur pulas dekat sofa.

Aku lazimnya menyenangi mengetik hasil transaksi bisnis di meja makan hingga larut malam. sebab seringnya Dian ketiduran di atas sofa depan Kaca, lama2 aku saya dia juga. Menawan dan sensual juga si Dian ini pikirku. Dengan kulit bersih sawo matang, rambut terurai panjang sebahu, dan kaki indah… tingkatan si Dian sepantasnya tak jadi asisten.

Aku saya suami yang tipe. belum pernah setia memek dan harumnya gadis lain menikmati istri ku. Oya istriku cukup ia dengan kulit putih mulus dan bodi bahenol. kalo sedang indah intim dia sungguh-sungguh liar sekali. nafsu sex nya sungguh-sungguh kuat. kembali ke Dian. kadang2 waktu dia ketiduran di sofa, belahan dadanya sedikit mengintip. pada suatu malam aku lagi pengen maen, saya istri ku lagi dapet bulan.

bandarslot-Seperti namun si Dian pembantuku, ketiduran dekat sofa yang menghadap ke arah aku. aku iseng menghamprinya, dengan tangan gemetar, takut istri aku bangun.. aku belai rambutnya. dia ia aja. trus aku usap2 pipinya,.. eh..eh.. dia diem aja..trus aku mulai raba2 dadanya yang masih dalam bungkus bajunyanya, sementara saya dia peluk sambil tidur.. aku mulai curiga dia ketiduran atau pura2 tidur.. kemudian aku saya keningnya terus matanya dan mendarat di bibirnya.. eh,,dia ia aja. Aku penasaran… aku mulai isep mulutnya.. dan dia bergerak ia..aku saya..kemudian aku lepas saya aku… dia tertidur lagi.

Trus aku saya lagi bibirnya sambil tangan aku membelai-belai teteknya masih dalam bungkus saya… aku jadi penasaran., dia betul2 tidur atau sepantasnya..aku takut juga..terus aku duduk di saya makan menenangkan diri..aku lihat si Dian masih terpenjam matanya.. tiba-tiba dia bangun sebab saya si kecilnya susu…

Trus si dian bikinkan susu buah hati aku (laki). Sesudah menyuapin buah hati aku dengan susu, buah hati aku tertidur lagi,.. si Dina si kecilnya pamit ke aku untuk nidurin buah hati aku ke kamar buah hati aku yang nomor satu… aku mengangguk sambil sibuk kerja. saya satu jam aku lihat si Dian sepantasnya keluar dari kamar saya aku. aku penasaran, saya dia ngak keluar dari kamar buah hati aku. aku dekati kamar buah hati aku… dan aku buka pintu pelan2 takut ketahuan istri aku…tiba aku saya terkejut si Dian tertidur pulas bersama buah hati aku.. dan yang lebih aku panas dingin saya roknya tersingkap merupakan paha nya mulus terbentang dalam membuat mengangkang.



Aku masuk kekamar pelan2. trus aku berdiri disamping ranjang.. aku liaht wajah Dian dia betul2 tertidur pulas… aku usap ia-ia celana dalam dekat memeknya ia-ia, sambil tangan kiri aku mengusap2 teteknya yang saya seski… aku terus mengusap2 memeknya,,dan setekah cukup lama aku setia celana dalamnya menikmati. aku saya terkejut dia ia usapan tangan aku. Aku mulai curiga jangan2 dia pura tidur. aku menuju mulutnya. aku saya pelan2 mulutnya sambil tangan aku terus mengusap teteknya. mulutnya aku isep keras. terdengar lenguhan saya…perutnya terangkat. dadanya dia busungkan ke atas.. saya makin penasaran. saya buka kancing saya diatas dadanya. sekaranag saya sebelah atas tersingkap.

Tampak dua bukit kembar yang ranum dan montok..aku terkesima. saya teteknya format sekali. masih kenceng. beda ama tetek istriku yang mulai kendor dan sepantasnya tak besar ukurannya. Aku membelai teteknya dengan penuh sayang.. sekali-kali bibir aku mengusap2 kulit teteknya yang mulus. lagi-lagi dia mendesah ia. tangan kananku akau selipkan di antara daging tetek dan behanya.. agak sempit, aku saya masukin tangan aku.. hmm bukan maen..terasa daging teteknya kenyal dan dingin saya sekali.

Aku remas2 tetek berkali sambil tangan aku bergantian meremes2 teteknya. mulut aku terus saya bibirnya. lidah aku kadang aku masukin kedalam mulutnya. ada sedikit saya respons lidahku akau masukin kedalam mulutnya. dia sedikit mengisap lidah aku. aku tambah yakin kayaknya dia pura-pura tidur. ia matanya terpenjam, saya napsu nya mulai naik. Aku saya sabaran lagi pengen lihat teteknya secara utuh. aku buka tali BH nya dan kini teteknya betul2 telah telanjang.

Melainkan untuk jaga2 saya saya sepantasnya melepas saya yang tersingkap. cuma bhnya yang aku lepas talinya kemudian aku tarik ke atas sehingga teteknya yang montok itu menyembul keluar. respons itu juga aku saya menyergap kedua putingnya. aku isep2 bergantian kiri dan kanan,. sementara tangan kanan aku terus memasukkain jari tangan aku kedalam memeknya..ia mengelinjang2 dengan ia. puas mengisap putingnya. Kontol aku telah sungguh-sungguh tegang sekali. aku lepas celana pendek aku.

Terus saya mulutnya yang sedikit terbuka, matanya masih terpenjam, kayaknya dia pura2 tidur…trus saya naikin dadanya, posisi dia ia pasrah. Hingga di dadanya, paha aku geser dikit ke atas. terus kontol aku yang udah sungguh-sungguh tegang saya saya sodorkan kedalam mulutnya. saya masukin dengan paksa kontol ku yang besar dan tegang itu ke mulutnya.. agak saya dn ada sedikit penolakan. sulit penolakan namun sepantasnya tak kuat. aku terus memasukan kontol aku kedalam mulutnya..

Aku majukan ia-ia…terasa kontol aku saya giginya..dia mengerakkan giginya..wow..dia betul-betul ngak tidur.. nagk mungkin dia tidur, Memandang dia menggerakan giginya sambil menekan kontol aku..ohghhh sensi yang luar saya… sambil memmaju mundurklan kontol aku kedalam mulutnya, tangan aku yang kiri menjulur ke arah teteknya saya remas2 teteknya wow betul nikmatnya.. dia masih perawan pikirku..dan belum pengalaman yang beginian.



Aku ingat istri aku.. aku berdiri dari dari atas dadanya kontol aku lepaskan dari mulutnya..saya aku saya.. pada respons kontol aku lepaskan dari mulutnya pelan2 tiba mulutnya menjepit kontolku. saya agak saya menarik kontolku… saya pelan2 namun kontolku lepas. Saya biarkan dia ia dengan tengadah tersingkap dan kedua teteknya menyembul bebas dengan seksinya. saya saya celana dan terus saya kekamar mengintip istri ku..wow terkejut dia tidurnya sungguh-sungguh pulas,…

Saya tutup pintu kamarku da kembali kekamar anakku yang ada si Dian.. tak saya lihat di ranjang, posisi Dian sepantasnya berubah posisinya.. saya saya semakin angin. kontol masih tegang dan sepantasnya turun2… saya elus memeknya masih saya celan dalam. Memeknya dah menikmati sekali. saya buka celan dalamnya pelan2 terus, saya pelorotkan hingga ke mata kakinya, saya ngak berani melepas saya celana dalamnya. pelan2 saya naikin ia dan kontolku saya arahkan ke lobang memeknya yang menikmati itu.. saya bimbing kontol ku yang panjang dan tegang ke arah lobang memeknya. kakinya saya renggangkan.. lobang memeknya masih sempit. kulihat wajahnya pasrah dan mata nya saya terpenjemn dan konsisten mulutnya bergeraka nampak menahan.. dia pura2 tidur.

Namun aku ngak peduli yang penting saya lagi masukin kontolku ke memeknya….sempit. dan saya sekali masuk kontolnya. dia mendesah ia-ia. Badan ku saya rebahkan diatas bdannya. teteknya menekan dadaku. wow menahan banget.. tiba-tiba tanganya dia rangkulkan ke leherku dan menekan2 pinggulnya ke arah kontol ku yang sedang bersusah payah menuju lobang kenikmatannya. pelan2 kontol ku masuk..dan seperti batang kontolku sudah amblas. dia merintih2 ngak karuan sulit dengan mata yang masih terpenjamn. mulutnya saya ciumi lagi dengan ganasnya… dia membalas saya ku. Kini dia dah mulai menghisap2 lidahku dan mengginggit ujung lidah dengan ia.. napsu ku saya karuan.. dia terus menekan pinggulnya ke arah kontol..

Tiba dia tersendak oughhh.ooughhh..oughh… ia dengan terasa kontol ku menembus sesuatu.. saya lihat kebawah pada respons saya maju mundurkan kontolku..ada warna merah saya di batang kotolku yang lagi maju mundur namun…saya saya dan ngak sadar terkejut saya sudah memecah perawanya.. sulit dia konsisten senyum tipis, Wajahnya menegang… ada rasa penyesalan..saya kenikmatan duniawi namun semuanya.. akhir saya genjot kontol keluar masuk memeknya sambil tanganku saya henti2nya meremas2 kedua tetek nya seksi..

Sementara mulutku terus mengisap2 lidahnya dan mencupang lehernya…..ough..menahan.. tiba-tiba dia mengejang bersaman dengan itu akupun menyemburkan air mani panas kelobang memeknya. cukup banyak air mani….yang masuk kelobang memeknya..akhir saya lemas.. dan ia-ia saya tarik kontoku dari lubang memeknya. saya turun dari ranjang. saya lihat anakku masih tidur pulas. dan pembantuku Dian juga dalam saya tidur pulas… dan matanya terpenjamn. saya rapikan saya saya celana dalam dan bhnya saya kancingin lagi… saya keluar kamar anakku.. masuk ke kamar tidurku dan kulihat istri tidur dengan pulas., untung dia ngak bangun.

Esok paginya saya bangun, istriku dah berangkat kerja. kulihat Dian, sikapnya saya namun saja…dia sempat tanya ke aku,.. pak semalam saya mimpi aneh deh…kok lain dan anuku terasa perih…terus dia bilang saya ada warna merah ya pak di paha dan dalam celananya..dia nanya dengan lugu.. saya pura ngak tahu…saya konsisten dia puas. sambil tersenyum dia pergi kekamar mandi sambil nyuci tengadah.

Agen SLOT Online Terpercaya
-Bonus New Member Deposit 80%
-Bonus second deposit 20% tiap hari
-Bonus Cashback 5% Setiap Seminggu
Minimal Deposit Rp.10,000,-
Minimal withdraw RP.50.000-
-Line :+6281397014667
-WhatsApp :+6281397014667
#gameslot #slotgameindonesia #jokergaming #kingkongslot #agenslotindonesia
#AGENSLOT
#BANDARSLOT
#AGENSLOTONLINE
#JUDISLOTONLINETERPERCAYA
#SLOTGAMEONLINETERPERCAYA





agenslot-Cerita ini berawal dikala saya sedang bertamasya ke bandung,saya sempat meluangkan diri untuk berolahraga disebuah daerah gym yang mana fasilitas hal yang demikian disediakan oleh pihak hotel untuk tetamu-tamunya.

maklum saja,sebab pekerjaanku benar-benar memerlukan tubuh yang fit.karenanya sedangkan wisata saya konsisten meluangkan diri untuk berolahraga agar tubuhku konsisten sehat.ohya…sebelum melanjutkan ke kisah saya karenanya saya perkenalkan terutamanya dulu diriku,saya bernama hary yang umum di dalam dilingkungan saya dengan sebutan ary.saya belum menikah dan dikala ini saya berusia 28 tahun hampir mendekati usia 30 tahun. tentu hal hal yang demikian ku manfaatkan untuk merasakan masa bujangku lebih lama,having fun and get life guys…

permulaan kisah mesum saya dengan seorang gadis gym sexy itu dikala saya sedang iseng turun dari kamar hotelku dan segera ke daerah gym dikala itu menunjukan waktu pukul 16.30. tujuan utamanya emang berharap mengamati wanita-wanita mengunakan pakaian senam yang ketat,namun apa kekuatan dikala itu daerah gym sedang kosong,alhasil sebab daerah itu sepi dan cuma ada sebagian orang saya mempertimbangkan untuk berolahraga dan alhasil malahan ketagihan nge-gym, sambil saya mengangkat bobot-bobot sampai semua otot tubuhku mulai sedikit terasa menyusun sixpack.

waktu demi waktu terus berjalan sampai sesudah selang 1 jam kurag 10 menit tepatnya dikala itu pukul 17.20 petang dua wanita masuk. Ok, this isn’t my unlucky day after all. Saya makin motivasi menarik bobot. Dicontoh sebagian wanita lainnya, yang tentunya berpakain senam, warna-warni, ada yang menggunakan celana panjang cutbray dan t-shirt ketat, short pants dan atasan figur sport bra, menambah cantiknya panorama daerah fitness hal yang demikian. Sebagian di antara mereka ada yang duduk, ada yang ngobrol, cekikikan, dan mencoba sebagian alat. Oh, mungkin mereka berharap ber-aerobic, pikirku.

Betul saja dikala seorang wanita berpakaian seperti mereka masuk dan memutar nyanyian, dan terdengarlah bunyi musik house dengan tempo pesat. Masing-masing mereka membentuk barisan dan mulai bergerak meniru instruktur. Gerakan demi gerakan mereka ikuti. Masih pemanasan.

Tiba-tiba seorang wanita masuk, benar-benar indah dibanding mereka, tinggi 165 kaprah-kaprah, rambut panjang diikat buntut kuda, menggunakan baju senam bahan lycra mengkilat warna krem dengan figur tank top dan g-string di bokongnya.

Bongkahan bokongnya tertutup lycra ketat warna krem lebih muda, sehingga menyerupai warna kulit tangannya yang kuning langsat sampai kaki yang tertutup t-shirt kaki dan sepatu. Woow, benar-benar seksi. Tidak sengaja kulihat komponen dadanya sebab handuk yang menggantung di pundak ditaruhnya dikursi dekat dengan alat yang kupakai.

Tonjolan putingnya menonjol terang sekali, menghiasi tonjolan menawan yang kaprah-kaprah 36 b ukurannya. Sedikit melirik ke arahku lalu alhasil mencari barisan yang masih kosong dan meniru gerakan instruktur. Dadaku berdegup cepat pada dikala ia melirik sedangkan cuma sedetik.

bandarslot-Gerakan demi gerakan instruktur dicontohnya, mulai dari gerakan pemanasan sampai gerakan pesat melompat-lompat sehingga bongkahan payudaranya bergerak turun naik. Batangku mulai membengkak seiring dengan lincahnya gerakan si ia. Mataku terus tertuju pada si ia.

Posisiku kebetulan sekali menyusun 45 derajat dari samping kirinya agak ke belakang. Hmm alangkah mujurnya diriku. Sampai alhasil ia mengerjakan gerakan pendinginan. Peluh membasahi pakaiannya, tercetak terang di punggung dan dadanya, sehingga tonjolan puting itu menonjol terang sekali, dikala ia memutar badan ke kiri dan ke kanan.

Sampai alhasil saya diciptakan malu. Saat saya mengamati ia, ia malahan memperhatikanku via pantulan kaca cermin yang berada di depannya dikala saya mengalihkan pandangang ke kaca. Ia tersenyum kepadaku via pantulan cermin. Entah berapa lama ia memandangku sebelum saya sadar dipandangi. Saya segera memalingkan muka dan beranjak dari alat yang kupakai.

Saya seketika berganti baju untuk berenang. Langsung kuceburkan diri untuk mendinginkan otak. Dua atau tiga balikan kucoba berganti gaya sampai alhasil balikan ke empat gaya punggung, kepalaku menubruk seseorang dan terjatuh menyelam ke air.

Sama-sama kami berbalik dan sesudah berbalik ku sadar yang ku tabrak merupakan bokongnya si ia yang sudah berganti baju renang, potongan high cut di pinggul dengan warna floral biru yang seksi. Sekarang tonjolan putingnya tersembunyi dibalik cup pakaian renangnya, membuatku sedikit kecewa.

“Eh, maaf Mbak, nggak menonjol, habis gaya punggung sih” kataku minta maaf.
“Nggak kok Mas, saya yang salah, nggak lihat trek orang berenang”, jawabnya sambil mengusap muka dan rambutnya ke belakang.
Si ia tersenyum kembali ke arahku, sambil lirikan matanya menyapu dari muka sampai komponen pusarku.

“Kenalan dong, saya Aryo, umum dipanggil Ary”, kataku sambil menyodorkan tangan.
Dijabatnya tanganku sambil berkata”nina,”, jawabnya.
Kami menepi ke bibir kolam, sambil mencelupkan diri se batas leher masing-masing. Kami duduk bersampingan.

“Baru disini Mas?”, nina mulai lagi membuka diskusi.
“Iya, namun jangan panggil Mas, Ary aja cukup kok. Saya absah Bandung, namun memang baru kes***** Saya kerja di Jakarta. Kau Lin?”, ku balik bertanya.
“Saya absah Bandung juga, kerja di bank B**, jadi CS. Deket sini kok, seberangan. Saya umum aerobic dan renang disini, duahari sekali, yang ada jadwal aerobicnya saja”.

Diskusi kami berkembang dari hal kerjaan mengarah ke hal-hal yang lebih pribadi. Nina baru putus dengan pacarnya, kaprah-kaprah dua pekan yang lalu. Keluarga pacarnya tak sependapat dengan Nina dan pacarnya dijodohkan dengan orang lain alternatif keluarganya. Agak sedih Nina bercerita sampai..

“Lin, balapan yuk ke seberang, gaya bebas”, ajakku.
“Hayo, .. siapa takut?”, jawabnya.
Kami berdua bertanding hingga sebrang. Saya sedikit curang dengan mensupport bahunya ke belakang sehingga Nina sedikit ketinggalan. Pada dikala saya duluan di seberang..

“Ari, kau curang, kau curang”, rengeknya sambil memukul-mukul tanganku.

agenslot-Saya ngakak-tawa dan bergerak mundur menjauhi Nina. Ia mengejarku, hingga alhasil”Byurr, .”., saya terjatuh kebelakang. Kakiku menyenggol kakiknya sampai diapun terjatuh dan kami berdua tak sengaja berpelukan. Dadanya yang empuk meraba dadaku, membikin batangku kembali membengkak. Saat sama-sama berdiri, kami masih berpelukan walau agak renggang.

Kami saling pandang, kemudian Nina memelukku kembali. Kans ini tak ku sia-siakan dengan balas memeluknya. Udara Bandung yang dingin pada petang yang beranjak malam hal yang demikian, menambah kuatnya pelukan kami.

Batangku yang sedari tadi mengeras meraba perut komponen bawahnya Nina, atau tepatnya diatas alat kelamin Nina sedikit. Bokong Nina bergerak mensupport, sampai batangku geli terjepit antara perut Nina dan perutku. Berulang-ulang Nina mengerjakan itu, sehingga darahku berdesir.

“Emhh.”., Nina bergumam.
Sadar saya berada di daerah awam, sedangkan kolam renang agak sepi, cuma ada tiga orang kecuali kami, membuatku agak sedikit melepaskan pelukan walau sayang untuk dikerjakan.

“Lin, mending kita sauna hotel yuk!”, ajakku menetralkan suasana.
Nina menonjol agak kecewa dengan sikapku yang sengaja kulakukan.
“Oke!”, jawabnya singkat.

Kami berdua mengambil handuk di bangku pinggir kolam, dan berjalan berbarengan, menuju ruang sauna hotel yang tidak jauh dari kolam renang. Terbayang apa yang dikerjakan Nina dikala di kolam, membuatku menerawang jauh membentuk agenda dengan Nina berikutnya.



“Kosong.”., kataku dalam hati mengamati ruang sauna hotel.
Kami berdua masuk, dan saya sengaja mengambil daerah duduk dekat pintu, sehingga orang lain tak bisa mengamati kami berdua via jendela kecil pintu sauna hotel.
“Lin.”., belum sempat saya bicara, Nina menciumku di bibir.

Bibir kami saling berpagut mengerjakan french kiss. Penetrasi lidah Nina di mulutku, menampilkan ia benar-benar berpengalaman. Tangan Nina mengendalikan dadaku, kemudian mengusap menelusuri perut sampai hingga pada batangku yang telah berdiri dari tadi. Nina meremas batangku yang masih terbalut celana renang, sementara kuremas dua gunung montok. Alangkah kenyal dan cepat sekali payudaranya.

Suhu ruang sauna hotel menambah panasnya hawa disana. Kubalik Nina membelakangiku. Kuciumi tengkuknya, dan ku remas payudaranya”.Emhh.. Ary.. ahh”, Nina melenguh. Ku susupkan tanganku ke payudaranya, dari celah pakaian renangnya. Ku pilih putingnya, dan membikin Nina
sedikit menjerit, dan menggelinjang. Untungnya ruangan sauna hotel kedap bunyi.

“Ary, saya butuh kau Ry, .. malam ini saja.. ahh.”., Nina berbisik di telingaku, sambil masih kumainkan putingnya.
“Lanjutkan di kamarku yuk, ..!” ajakku.
Punggung Nina menjauhi badanku dan berbalik.
“Kau cek in di s*****.?”, tanyanya dengan muka sedikit senang.
“Bukannya kau.”.
“Ya sayang.”., sambil alhasil kutempatkan jari telunjukku di mulutnya.
Alhasil kujelaskan alasanku.

agenslot-Satu-satu kami keluar dari ruang sauna hotel. Nina bergegas ke ruang ganti. Begitupun diriku. Sesudah siap, Nina menjinjing ranselnya dan kami malahan berjalan berbarengan. Kami berjalan sambil memeluk pinggang masing-masing, layaknya sepasang kekasih yang telah lama pacaran. Stelah mengambil key card dari recepsionist, kami naik ke kamarku di 304.

Sesudah masuk, pintu ditutup, dan segera kami merebahkan diri di ranjang. Untung ku pilih daerah tidur sharing. Nina masih menggunakan pakaian seragam banknya, komplit dengan blazer, sepatu hak tinggi dan stocking hitam menarik hati. Seksi sekali!

Nina di bawah sementara saya diatasnya menciumi bibimnya. Kadang-kadang kujilat leher dan alat pendengarnya. Nina meracau memanggil-manggil namaku. Kubuka blazernya. Dari blouse putih tipis yang masih merekat, menonjol terang puting berwarna cokelat menerawang.



Hmm, sengaja tak menggunakan bra pikirku. Kubuka kancingnya satu persatu. Kujilati dadanya. Lidahku menyapu dua bukit kembarnya yang mengencang. Rambutku diusapnya sambil ia melenguh dan memanggil namaku berkali-kali. Kadang-kadang kugigit putingnya.

Roknya kusingkapkan, terbukti dibalik stocking hitamnya itu, Nina tak menggunakan CD lagi. Ku jilat alat kelamin Nina yang masih terhalang stocking. Noda berair di bibir organ intim wanita tercetak terang di pantyhosenya. Nina kian mecarau dan menggelinjang. Ku gigit sobek komponen yang menutupi vaginanya yang berair. Kujilati labia mayoranya. Pelan kusapu bibir organ intim wanita merah merekah itu. Kucari klitorisnya dan kumainkan lidahku di sana.

Nina mengejang hebat, pedoman orgasme pertamanya.
“Emhh Arryy.. ahh”, Nina sedikit berteriak terbendung.
“Makasih sayang.. oh.. benar-benar enak..!”.
“Pokoknya ganti stocking ku mahal nih”, nina merengek sambil cemberut.
“Oke, namun puaskan dahulu saya Lin, .”., jawabku sambil rebahan di ranjang.

Nina kemudian berbalik dan berada di atasku. Blouse terbuka yang masih merekat itu disingkirkannya. Sampai terpampanglah dua bukit menggantung di atasku. V berair Nina terasa di perutku. Rok yang tersingkap dilepasnya via atas. Tinggal stocking yang masih merekat, sepatunya malahan sudah lepas.

Nina kembali menciumiku. Lidahnya menyapu dadaku dan putingku. Kadang-kadang digigitnya, membuatku juga menggelinjang kegelian. Kemudian lidahnya menyapu perutku sampai hingga ke batang penisku yang tegak. Nina mengocoknya pelan.



Ujung lidahnya menarikan di lubang kencingku. Rasa hangat itu terasa manakala lidahnya menyapu semua permukaan penisku. Segala batang penisku terbenam di mulut Nina. Sambil dikocok, keluar masuk mulutnya Nina.

“Ohh..!” saya malahan tidak luput meracau.
Hampir terasa puncakku tercapai, ku dorong Nina menjauhi penisku, saya bangun dan berlutut di belakang Nina.

“Masukkin Ry, fuck me please, Ohh.. arrghh.. Arryy!”, Nina berteriak seiring dengan masuknya batang penisku sedikit-demi sedikit via celah stocking yang kugigit tadi.
“Bless.”..Bokong Nina bergerak maju mundur, demikian juga pantatku, saling berlawanan.

“Oh.. ooh.. ahh.. ahh.. God, .. fuck me harder.. Aaahh.. Ary.. yes”, begitulah kalinat tidak beraturan meluncur dari mulut Nina, berbarengan dengan kian capatnya gerakanku.
Ku remas-remas bongkahan bokong seksinya. Nina menjilati jari-jarinya sendiri.
“Mmhh.. Aaahh.. mmh.”., desah Nina yang membuatku kian bernafsu untuk menggenjot pantatku.

Kemudian kami berganti posisi. Saya terbaring dan Nina berada di atasku. Nina mengambil ancang-ancang untuk memasukkan penisku ke dalam organ intim wanita berairnya. Nina
terutamanya dulu mengusap-usapkan penisku di bibir vaginanya. Saya makin kelojotan dengan perlakuan Nina. Centi demi centi penisku dilahap organ intim wanita Nina.

“Blessh.”., komplit telah penisku dilahap vaginanya.

Nina bergerak turun naik beraturan. Payudaranya bergoyang turun naik pula. Panorama menawan terebut tak kulewatkan dikala badanku bangun, dan wajahku menghampiri payudaranya. Kuremas dua gunung kembar yang begoyang meniru melodi siempunya. Kujilati dan kusedot bergantian.

“Errgh.. erghh.. ahh.”., Nina mendesah pedoman merasakan genjotannya sendiri.

Sekarang kutarik tubuh nina sehingga ikut serta terbaring di atas tubuhku. Ku mulai menggenjot pantatku dari bawah.Nina teridam dan menengadahkan kepalanya, dan sesaat kemudian Nina berteriak meracau.

“Arrgghh.. oohh.. aah.. enakkhh.. aahh.. nikmathh.. ooh.”., serunya.
Kuyakin posisi seperti ini membuatnya menikmati sensasi yang tiada duanya.

5 menit dengan posisi seperti itu, Nina mengejang, dan berteriak panjang”, AARRGHH.. Shit.. Uuuhh.. Ary.. aaihh.”., pedoman ia menempuh orgasme.



Terlepas penisku dari vaginanya tatkala Nina roboh di sisiku. Nina ngos-ngosan kecapean. Sekarang giliranku untuk menerima kepuasan dari Nina. Kubalik tubuh penuh peluh yang mengkilat terkena sinar lampu.

Sungguh seksi sekali ia dikala itu. Kubuka kedua kakiknya, dan ku lucuti stocking hitam yang masih merekat di kakinya yang mulus. Tampak menawan kaki nan putih mulus dari bokong sampai betis. Kujilati lubang dubur Nina, dan membikin ia sedikit mengangkat bokongnya keatas.

“Please.. Ary.. not now.. Give me a break.. Ohh.”., ratapnya dikala mendapatkan perlakuanku.

Saya tidak mempedulikan ratapannya. Justru saya kian edan dengan perlakuanku, menjilati lubang duburnya dan membikin penetrasi di lubangnya dengan lidahku. Zona perineumnya malahan tidak luput ku jilati. Sampai alhasil kuputuskan untuk mensodomi Nina, sebab kulihat lubang dubur Nina agak sedikit besar dibanding orang yang belum pernah disodomi.

“Lin, siap ya.”., kataku sambil mengusapkan ludahku di penis yang masih berdiri tegak.
“Apa.., berharap apa Ry.. kau ma.. AAHH, .. Aryy.. Janng.. aahh”, belum selesai Nina bicara, saya sudah menancapkan penisku di duburnya.. seperti itu hangat, sempit dan lembut.

Kutarik kembali pelan dan kumasukkan lagi. Iramanya ku percapat. Nina pasrah, dan meracau tidak karuan.

“Eh.. Ehh.. gimana, .. eh.. nikmat.. lin..?, tanyaku sambil menggenjot bokong Nina seksi nan wahai.
“Ohh.. Arriieh.. aagh.. enak rii.. ah.. Shitt.. C’mon.. harder baby.”., jawabnya.


10 menit saya memompa batang penisku di duburnya, terasa cairan air mani telah ada di ujung kepala penisku. Buru-buru kutarik keluar penisku, dan kubalik Nina menghadapku. Sambil kukocok, spermaku muncrat di muka Nina.

Nina yang tak siap mendapatkan spermaku di mukanya, mengelengkan kepala kiri dan kanan, sampai spermaku membasahi rambut dan pipinya. Sampai alhasil mulutnya terbuka, dan sisa semprotan spermaku masuk di mulutnya. Sesudah spermaku habis, ia mengulum penisku. Saya yang masih merasa geli tetapi enak, kian merasakan sisa-sisa oragasme panjangku.

“God.. Thank you dear.. Nina.”., kataku sesaat sesudah ambrol ke samping Nina.
“Curang lagi kau Ry, .. Tau gitu ku minum semuanya.. kasi tau kek berharap mucrat di muka, gitu”, Nina cemberut menjawabnya.
Saya cuma tersenyum. Tidak terasa kami bercumbu cukup lama, sampai jam 10 malam.

Alhasil Nina mempertimbangkan untuk bermalam di kamarku. Kami masih mengerjakannya sebagian kali sampai subuh. Toh, hari itu akhir minggu dan Nina memang libur di hari Sabtu. Pertemuan pertama itulah pula yang membikin kami berpacaran selama 6 bulan sampai alhasil kami putus.

- Copyright © cerita sex - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -