- Home >
- Agen Playtech , bandarslot , Game Play , Joker123 >
- Ceritasexterkini Tak semanis Itil meki perawan jawa
Posted by : clarissaachan
agenslot-Echa yakni seorang mahasiswi asal Pekalongan, Jawa Tengah, Saya mengenalnya saat kami sama-sama menjadi peserta dalam kesibukan workshop bagi mahasiswa/i. Ia peserta dari sebuah sekolah tinggi ekonomi di kota S, meski saya dikirim mewakili kampusku.
Selama workshop, sesungguhnya saya telah mulai merasa jika ia memperhatikanku, tetapi saya juga tahu jika ia telah punya seorang cowok. Sehingga kekerabatan kami ketika itu cuma sebatas SMS. Hingga pada satu jumat malam di bulan November tahun 2016, Echa menelponku. Intinya ia mengatakan satu hari setelah hari ini pagi akan ke kota Y dan meminta saya menjemputnya di terminal.
Sangkaan jika ia berangkat dari Kota S jam 7, karenanya jam 10 atau paling lambat jam 11 ia akan tiba di Y. Keesokan harinya pukul 10 pagi saya telah stand by di terminal bus antar kota di kotaku. Dikala sedang mencari-cari, tiba-tiba saja dari belakang Echa mengagetkanku.
Ia tak banyak berubah, tinggi 168 cm, rambut sebahu, wujud wajahnya tirus mirip seperti penggiat seni Nia Ramadhani, tapi tubuh Echa lebih berisi, khususnya dengan payudara yang berukuran 34 B. Dikala saya terpana memperhatikan tubuhnya, ia tiba-tiba saja memelukku. “mas, saya kangen. Pengen banyak cerita sama kau, pengen tukar pikiran dan pembicaraan kaya ketika workshop dahulu” ungkapnya.
“iya..iya..udah ah, ga nikmat diliat orang banyak” kataku sambil melepaskan pelukannya. “Ingin nginap dimana kau malam ini? Masak berharap seketika pulang ke S?”tanyaku. “saya nginap di kost mas Frans aja boleh khan?”jawabnya. “mana boleh non, dapat digrebek ama orang kampong” jawabku. Walhasil ia sependapat akan tidur di sebuah hotel melati dekat kostku, biayanya saya tolong separo, sebab ia juga tak membawa banyak uang.
BACA JUGA:NGENTOT DI RUMAH ORANG TUA
Simpelnya, sesudah Echa mandi dan berganti baju kami berjalan-jalan keliling kota Y, selama perjalanan, ia banyak bercerita perihal hubungannya dengan cowoknya yang mulai banyak ketidak cocokan dan tak jarang diwarnai perkelahian.
Sesudah makan malam, jam 9 malam saya mengantarkan ia kembali ke hotel tempatnya menginap. Sesudah itu saya kembali ke kostku. Pukul separo 11 malam Echa menelponku. “mas, saya ga dapat tidur, hotelnya serem, mas Frans kesini donk, temanin saya” pintanya. cerita seks
Karenanya saya malahan seketika menuju hotel itu. Saat menuju kamar Echa, saya sempat memperhatikan sebagian pasangan chek in, ada yg masih muda, ada pula yang telah berumur. Pahamlah saya bahwa hotel ini termasuk hotel esek-esek yang banyak didiskusikan sahabat-sahabat kampusku.
Kamar yang ditempati Echa berada di ujung lorong, sehingga kelihatan memang lebih luas, Echa masih belum ganti pakaian, “saya berharap k kamr mandi takut mas, lampunya kecil” jawabnya saat kutanya mengapa ga ganti pakaian. “Ya udah, saya disini, kau cuci muka trus ganti pakaian tidur ya” kataku.
Sementara saya tiduran diatas spring bed, terbukti sebab takut (atau entah sengaja) Echa ganti pakaian tanpa menutup pintu kamar mandi, tentu saja saya dapat memandangnya dari kaca besar di depan pintu kamar mandi. Dari situ saya memperhatikan Echa cuma mengenakan celana dalam, tanpa BH di balik daster tidurnya.
Dengan mengaplikasikan daster, Echa naik ke atas spring bed dan meringkuk di sebelahku. Sedikit ja’im saya kemudian duduk, “kau berharap tidak tungguin disini atau saya pulang aja ke kost?” tanyaku. “Mas Frans disini aja, khan kita ga ngapa-ngapain” jawabnya.
Saya malahan turun dari spring bed dan duduk di bangku berlengan yang ada dalam kamar itu. “lho, kok di situ sich? Disini aja ama saya. Khan daerah tidurnya masih luas” protes Echa. Dari pada diprotes terus (dan sebab memang ngarepin) saya malahan kembali meringkuk di sebelahnya.
Lama kami terdiam, saya kaprah ia telah tertidur, sehingga saya kemudian membuka ikat pinggang dan retslueting celana jeansku, sebab saya memang tak awam tidur dengan celana jeans, Malahan kadang saya tidur cuma dengan celana pendek, tanpa celana dalam. “mengapa mas? Sesak ya?” Tanya Echa yg terbukti belum tidur.
“iya, saya ga awam tidur gunakan jeans” jawabku. “ya udah, celananya dibuka aja, mas Frans gunakan selimut ini lho” kata Echa lagi smbil menyerahkan selimut dan kemudian membalik badannya. Jadilah saya cuma bercelana dalam berbalutkan selimut tidur disamping Echa.
Sekitar jam 3 dinihari, saya terbangun sebab seperti mendengar bunyi tangis. Saat kubuka mata, terbukti di depanku Echa menangis sambil memandangku. Saya yang keder kemudian bertanya mengapa, bukannya menjawab, tangis Echa justru makin kuat. Cemas diduga melaksanakan kekerasan oleh orang diluar kamar, saya menarik Echa dan mendekapnya.
Echa memelukku erat dan bercerita bahwa permulaan mula tak harmonisnya kekerabatan antara ia dengan cowoknya sebab cowoknya memaksa ia untuk terkait badan. Benar-benar iba, saya malahan mendekapnya dalam pelukanku. Lupa jika ketika itu saya cuma menggunakan celana dalam.
Makin lama saling berpelukan, kami malahan makin terbawa suasana, dari cuma saling memeluk dan berpandangan, pelan bibir kami mulai saling mendekat dan berpagutan, rasa asin dari air matanya tidak kurasakan, yang ada hanyalah nafsu, Echa malahan mulai menonjolkan hal yang sama.
Napasnya makin memburu, permainan lidahnya makin agresif, malahan gerakan tangannya mulai meremas lengan dan t-shirt yang kukenakan. Remasannya makin lama pun menarik kaosku ke atas, seolah minta saya melepasnya, karenanya kubuka kaosku dan tinggal bercelana dalam dihadapan Echa.
Mengamati dadaku yang ditumbuhi bulu halus, Echa keliatan makin bernafsu, ia membatasi dadaku dan meremasnya, saya malahan merasa tidak perlu berbasa-basi lagi, karenanya seketika kutarik keatas pula dasternya, sehingga ia malahan cuma tinggal menggunakan celana dalam.
Kami sempat saling memperhatikan, “mas, saya pernah menolak L***** untuk ML sama saya, hingga ia memaksaku dan malahan mendekap mulutku dengan bantal, tetapi kini saya lapang dada mas, jika kau berharap jadi pacarku, saya lapang dada menyerahkan diriku ke kau malam ini” kata Echa sambil menangis.
Saya tak menjawab, saya kembali menariknya ke pelukanku, memberinya waktu untuk melepaskan seluruh bobot yang ada dihatinya. Melainkan tidak lama kemudian, ia mulai kembali menciumi bibirku.
Kami malahan kembali saling berpagutan, kali ini tak ada lagi ja’im di benakku. Sambil konsisten berkecupan bibir, tanganku mulai meremas-remas toket dan bokongnya. Ia yang awalnya cuma meremas lengan dan dadaku, pelan tangannya turun tetapi terhenti di atas perutku. Sebab tidak tabah, seketika kuarahkan tangannya untuk membatasi kontolku.
Dan ia malahan menggenggam kontolku dengan kuat. Bibirku mulai turun ke lehernya, kugigit perlahan dan kuhisap-hisap sehingga meninggalkan bekas merah di kulitnya yang putih, terus saya turun dan mulai mendekati dadanya, kuhisap toketnya, sambil sesekali kupilin putingnya bergantian, ia makin bergoyang liar remasan-remasan tangannya mulai membikin perih di tubuhku.
Saya terus menggigit-gigit perlahan dan menghisap tubuhnya, turun ke perut dan terus turun, hingga pada batas atas celana dalam hitam yang dikenakannya.
Saya stop, dan melihatnya, “boleh saya buka?” tanyaku, ia mengangguk dengan menatapku sayu. Dengan kedua tangan kubuka penghambat terakhir antara saya dan lubang kenikmatannya, bulu-bulu jembutnya tipis dan wangi menonjolkan ia rajin merawat propertinya itu.
Belahan memeknya masih sungguh-sungguh rapat, kuminta ia untuk melebarkan kedua kakinya, ia sempat menolak, “malu mas” tetapi sesudah saya sedikit memaksa, di malahan mulai melebarkan kedua kakinya, menonjolkan bagaian dalam memeknya yang berwarna merah muda.
Lantas kucium, kujilat dan kuhisap-hisap seluruh komponen memeknya, mulai komponen labia mayora (bener ga sich itu namanya?) hingga klitorisnya yang berbentuk benjolan sebesar kacang tanah. Dan akhirnya, Echa seperti kesetanan, pinggulnya naik-turun berupaya menghindari seranganku ke memeknya,
“udah mas, udah.. geli..saya geli…” tukasnya. Tetapi saya malahan terus berupaya merapatkan bibirku ke spot sensitive itu.
Dan tiba-tiba ia berkata “maasss, saya…berharap.. pipis….” belum sempat saya menarik kepalaku dari pangkal pahanya, justru kedua paha itu menjepit kepalaku, kedua tangannya menekan kepalaku kian mendekati memeknya dan pinggulnya diangkat tinggi-tinggi.
Ia menerima orgasme pertamanya sesudah ku stimulus dan ku oral selama 15 menit. Tidak ayal cairan memeknya malahan membasahi hidung dan mulutku. Bebauan dan rasa yang khas membuatku makin bernafsu terus kuhisap seluruh cairan yang keluar dari lubang itu hingga habis.
Sesudah jepitan pahanya agak melonggar, saya seketika kembali ke sampingnya. Kucium bibirnya sambil kubelai-belai toketnya. “Sedap, ga ?” tanyaku. “Sedap banget, saya hingga lemes banget.
Mas Frans pasti udah tak jarang ya, kok pengalaman banget?” tanyanya *dalam kondisi seperti ini, jika saya jujur saya telah pernah ML sama 3 cewek sebelum ia dapat merusak suasana* karenanya kujawab “ saya baru pertama sama kau ini kok.
Saya Hanya tak jarang liat BF aja” “wah, pantes, belajarnya dari film” kata Echa sambil tersenyum dan memelukku. Sesudah 1 menit, ia mengecup bibirku dan bertanya “kini saya semestinya gimana buat gentian muasin mas Frans?” Saya malahan tersenyum dan melirik kontolku yang kepalanya telah keluar dari batas celana dalamku.
Ia tersenyum, lalu mulai bergerak membuka celana dalam yang saya kenakan. Ia membatasi kontolku lalu bertanya “berharap diapain ini mas?” pertanyaan lugu yang menarik hati, tetapi sebab malas basa-basi lagi saya malahan menjawab “masukin ke memekmu donk, tetapi sebelumnya diisep dahulu” ia tersenyum, lalu mulai mengocok perlahan kontolku.
Sesudah agak keras, ia mulai memasukkan junior ke dalam mulutnya dan menghisapnya, tetapi sebab memang belum pernah (setidaknya berdasarkan pengakuannya) karenanya rasanya malahan tak terlalu nikmat.
Agak sakit pun, sebab sebagian kali meraba giginya. “jangan kena gigi donk yang, sakit” kataku. “aduh mas, sorry, saya ga dapat kaya gini” jawabnya “Mas seketika main aja yah, saya pasrah kok” katanya. Lalu ia meringkuk disampingku sambil membuka kedua kakinya.
Mengamati posisi itu, saya malahan bangkit, kujilati sejenak klitorisnya agar agak berair, ia mulai mendesah perlahan. Kubasahi juga ujung kontolku dengan sedikit air liur, lalu mulai kugesek-gesekkan di depan lubang memeknya.
Padahal mengaku telah tak perawan sebab paksaan eks cowoknya, terbukti lubang memek Echa sungguh-sungguh susah ditembus. Masih sungguh-sungguh sempit, dan saya ga tega saat sedikit memaksa mendengar ia menjerit terbendung, “aduh mas, sakit mas…” karenanya kutunda lagi memasukkan kontolku dalam memeknya.
Sambil konsisten kugesek-gesek, saya mulai mensupport saat kupikir telah cukup berair, sukses masuk kepala kontolku masuk kedalam memeknya. Di sinilah saya menikmati perbedaan antara memek Echa dengan memek milik Ika, Ani dan Eta yang pernah kurasakan seblumnya.
Jika memek lain kenikmatan itu sungguh-sungguh terasa saat saya memasukkan kontolku dalam-dalam, karenanya memek Echa terasa sungguh-sungguh menjepit justru saat baru sepertiga kontolku masuk. Karenanya saya malahan, cuma menggerakkan kontolku maju mundur di spot itu.
Melainkan berbeda dengan yang kurasakan, Echa justru sungguh-sungguh kesakitan dengan metode itu. “mas, cabut dahulu mas. Sakit mas” ujarnya. “ya, bentar yah, saya nikmat bgt nich sayang” kataku. Ia seperti membendung rasa sakit, bibirnya digigit. “mas, udah dahulu donk…sakit nich, perih…” katanya lagi.
Sebetulnya saya ga tega, tetapi saya malahan menikmati kenikmatan dengan cuma bermain di permukaan memeknya itu. Walhasil saya mengalah dan menentukan untuk mencabut kontolku dari memeknya.
Melainkan sebelum mencabut, saya berharap mencoba memasukkan keseluruhan batang kontolku dalam memeknya, karenanya kudorong penuh kontolku ke dalam memeknya, sedalam saya dapat, tapi terbukti mentok dan saya dapat dapat menikmati dinding rahimnya pas di depan kepala kontolku.
Dikala itulah saya menikmati perubahan pada diri Echa. Ia yang semula membendung sakit sambil menggigit bibir dan memejamkan mata, tiba-tiba matanya terbuka lebar, mulutnya menganga terbendung.
“mmmaaaassssss……” suaranya terbendung dan bergetar. “Eeennnnnaaaaakkkk bbaaaannggeeettttt mmmaaasss….”katanya. Tangannya mencengkram erat kedua lenganku.
Sesaat kemudian ia berubah makin liar, tiap-tiap kali saya tarik mundur kontolku, ia justru memajukan memeknya seolah tak berharap melepaskan sedikit malahan kontolku dari memeknya. Tangannya memelukku erat, kemudian tubuhnya tiba-tiba mendorongku berguling ke kanan sehingga kini ia berada di atas tubuhku.
Ia konsisten memelukku erat sambil menggoyangkan pinggulnya ke seluruh arah, maju-mundur, kanan-kiri, depan-belakang malahan disisipi memutar, saya yang menikmati perubahan ini kemudian mulai membatasi posisi, kuluruskan kedua kakiku dan menbiarkan tubuh Echa menguasaiku, ia menggerakkan pinggulnya ke seluruh arah bagai kesetanan, saya berupaya mengimbangi gerakannya dengan melawan arah tiap-tiap gerakan pinggulnya.
Tetes peluh kami membasahi kasur, tetapi keganasan Echa seolah tak akan usai. Sebagian ketika kemudian tiba-tiba ia menekan dalam-dalam pinggulnya. Tangan kanannya mencengkram lengan kiriku dan tangan kirinya menjambak rambutku.
Kontolku seperti diremas-remas dengan kuat oleh memeknya dan ia menjerit terbendung “aaaaaccchhhh……” tubuhnya mengejang, kaku sesaat lalu ambrol diatas tubuhku. “nikmat banget mas..nikmat banget….saya pengen ******* terus ama kau kaya gini. Sedap banget” ujarnya berbisik di telingaku.
Saya cuma tersenyum mendengar kata-katanya, sementara Echa masih meringkuk lemas diatas tubuhku, kontolku yang masih menancap dalam memeknya bergerak-gerak mencari perhatian ;p ia malahan merasakannya, dan mulai bangkit.
“mas, saya lemes banget, mas diatas aja dech, saya pasrah. Udah lemes bgt nich” katanya. Ia segera menjatuhkan tubuhnya, dan sambil membuka lebar tangan dan kakinya, ia berkata jahil “saya pasrah mas, perkosa saya, nodai diriku sepuasmu…..” sambil tersenyum jahil.
Saya malahan seketika, naik ke atas tubuhnya. Sengaja kuangkat kedua kakinya sambil kulingkarkan di pinggangku. “gini, biar kerasa makin nikmat” kataku, sesaat kemudian saya mulai mensupport kontolku masuk dalam memeknya.
Aku perbedaan kedua antara memek Echa dengan memek lain yang pernah kurasakan, sedangkan berair sebab cairan orgasme sebelumnya, tetapi saat kumasukkan, konsisten aja kontolku rasanya seperti dijepit dengan kuat. Saya malahan mulai menggoyang pinggulku maju-mundur.
Sesudah memperhatikan liarnya Echa ketika kumasukkan dalam kontolku, dan menikmati kenikmatan memeknya ketika di permukaan, karenanya kucoba memainkan masuknya kontolku dengan irama 3 plus 1, yakni tiga kali saya dorong dengan cuma memasukkan sepertiga kontolku, dan kemudian satu kali dorongan dalam yang memasukkan kontolku sedalam-dalamnya hingga terasa mentok di dinding rahim Echa.
Dan efeknya, sedangkan mengaku telah lemas, tetapi setiap kali saya dorong dalam kontolku dalam memeknya, tubuh Echa seperti mengejang. Pinggulnya ikut serta terangkat setiap kali saya menarik kontolku, dan suaranya terbendung “mmaaasss….” Ia terus meremas lenganku dan menggigit kuat bibirnya sendiri.
“mmmaaasss, jangan nyiksa saya doonkk… masukin yang daallleeem dddooonnkkk….” Pintanya dengan mata sayu menatapku dan bunyi bergetar. Sebab kasihan, saya malahan seketika menaikkan irama goyanganku dengan mensupport dalam kontolku dalam memeknya.
Dan Echa kembali kesetanan, ia membalas tiap-tiap tikaman kontolku dengan gerakan pinggul yang ke seluruh arah, malahan tangannya meremas erat kedua pantatku sambil menakannya supaya makin dalam masuk dalam memeknya.
“mmass, dalam lagi mmaaass, masukkiinn dalem lagi…eennaakk bangeettt masss….”ujarnya.
Dan gerakan pinggulnya malahan kurasakan makin terasa enak saat memeknya terasa memijat dan meremas-remas kontolku, dan ini membikin saya malahan mulai menikmati cairan lahar putih akan mulai muntah dari kontolku. “Echa, saya berharap keluar sayang, saya tarik yah” kataku.
Echa mengangguk, tapi gerakan pinggulnya dan tangannya berkata sebaliknya, pinggulnya justru makin terangkat ke atas, meski tangannya makin menekan pantatku untuk makin masuk ke dalam memeknya.
Sementara didalam malahan kontolku terasa makin kuat disedot, diremas dan dipijat otot-otot memeknya. Walhasil sebab tidak bendung saya malahan memuntahkan pejuhku dalam memeknya.
Crot.. crot.. crot..dan sedetik kemudian Echa kembali mengejang, badannya kaku dengan posisi tangan menekan pantatku supaya makin mensupport masuk kontolku dalam lubang memeknya.
“mmaaasss….aaaccchhhh….eeennna aakkkk” teriaknya terbendung dengan suar bergetar. Saya seketika mencabut kontolku dari memeknya dan menjatuhkan badanku disampingnya.
Kulirik jam di HPku, jam 7 kurang 20 menit. Berarti sekitar 3,5 jam kami memadu beri dan mengejar surga dunia. Saya mengecup bibirnya sambil meremas toketnya. “Saya sayang kau, mas…” kata Echa. Kami malahan kembali tertidur hingga jam 10 pagi Sesudah itu kami mandi bersama. Sesudah sarapan saya kembali mendampingi Echa ke terminal bis untuk kembali ke kota S.
Relasi ketika itu, saya berpacaran dengan Echa. Sekarang kami sempat berjalan selama sekitar 2 tahun, hingga walhasil ia dijodohkan dengan seorang pria tetangga kampungnya di Pekalongan. ia sudah mempunyai 2 si kecil dan tinggal di kota S.
Yang tak pernah Echatahu, bahwa ia bukan wanita pertama yang bercumbu denganku, dan bahwa selama 2 tahun kekerabatan kami malahan saya sebagian kali bercumbu dengan wanita lain. END.




