Popular Post

Popular Posts

Recent post

Tampilkan postingan dengan label agen poker. Tampilkan semua postingan

Sex Dengan Tante Toket Besar Dan Bergairah



Agenslot-Kejadian relasi aku dengan Tante Nisa telah melalui hampir 1 bulan, dan selama itu pula kami tak pernah lagi menjalankan relasi badan. Dalam pikiran aku, mungkin Tante Nisa telah menyadari kekhilafannya, dan aku juga patut dapat melupakan kejadian hal yang demikian dan menganggap bila kejadian itu tak pernah terjadi. Sebab pada dasarnya aku juga merasa malu pada diri aku sendiri, namun dilain pihak aku juga menikmati nikmatnya persetubuhan kami. Mungkin perasaan ini jugalah yang ada di dalam hati Tante Nisa.

Pada suatu petang, dikala aku sedang merasakan film porno dan sedang dalam tahap amat berkeinginan menjalankan relasi seks, (mungkin seseorang bila sekali telah menikmati nikmatnya relasi seks, akan susah untuk melupakannya) tiba-tiba berdering telepon dan tentu saja membuatku terhentak lantas dan dengan sedikit mengomel aku bangkit dan menjawab teleponnya (pembaca bisa menikmati bila kita sedang merasakan sesuatu, terus ada hal yang mengganggu).

Dengan berat aku menjawab, “Halo.., berkeinginan cari siapa..?”
Lalu terdengar bunyi seorang wanita, “Aku berkeinginan mencari Endy, Endynya ada..?”

Dengan sedikit rasa berkeinginan tahu, aku jawab, “Yah, aku Endy, disana siapa yach..?”

Kemudian terdengar bunyi yang agak genit namun amat menstimulus, “Hayo.., telah lupa yach sama aku, meski belum juga satu bulan..!”

Hati aku segera berdegub-debar, lalu aku bertanya kembali, “Disana Tante Nisa yach..?”

Dan terdengar bunyi, “Emangnya kau pikir sapa, sembarangan aja..!”

Lalu aku malah berkata, “Ada kebutuhan apa Tante..?”

Dengan perlahan melainkan agak sebal, Tante Nisa berkata, “Kau kayak nggak tau aja, rumah tante lagi sepi nih, kecuali itu tante lagi pengen nih, kau dapat khan nolongin tante..?”

Dengan sedikit badung aku bertanya lagi, “Nolongin apa tante..?”

BandarSLot-Tante Nisa yang mungkin telah sebal sekali, lalu berkata, “Kau ini bodoh atau pura-pura bodoh sich, udah hampir satu bulan nich.. apa kau nggak berkeinginan kenikmatan kayak waktu itu..?”

Dalam hati, tentu aku saja aku telah amat berkeinginan sebab kecuali stimulus dari film porno yang aku tonton, aku juga tak merasa puas akan onani yang aku kerap lakukan.

Lalu aku berkata, “Tante tunggu yach, aku seketika kesana, paling cuman 10 menitan.”

Dan Tante Nisa menjawab, “Yach udah.., cepatan yach, tante tunggu nih..!”

Di Baca Juga :  Poker Adalah Permainan Kartu Yang Populer Di Dunia

Dalam 10 menit, aku telah tiba di rumah Tante Nisa, dan rupanya Tante Nisa telah menunggu aku di depan rumahnya, nampak Tante Nisa menerapkan setelan piyama. Lalu kami malah masuk ke dalam rumah dengan napas terengah-engah.

Aku berkata, “Tante ini bikin capek aku aja..!”

Dan dengan agak manja, Tante Nisa berkata, “Masak gitu aja capek, namun kau juga bisa enaknya khan, kau ini juga kok masih juga panggil tante, khan udah dibilang panggil aja dengan Nisa, gimana sech..!”

Dengan tertunduk aku berkata, “Iya juga sech, aku lupa tante.. eh.. Nisa maksud aku.”

Kami berkecupan hampir 3 menit, lalu aku melepaskan kecupan aku dan bertanya, “Nit, aku bole nanya nggak..?”

“Yach.., nanya aja, emang mengapa..? jawab Tante Nisa.

Lalu aku berkata kembali,  “Kalo bole tau, kau pake celana dalam warna apa hari ini..?”

Dan Tante Nisa berkata, “Eh kau.. memalukan, masak nanya hal yang gituan..?”

Aku berkata lagi, “Masak nggak bole sich..?”

Tante Nisa berkata, “Yach udah.., kau lihat aja sendiri..!”

Lalu tangan aku mulai bergerilya di sekitar kawasan pinggang ke bawah dan dengan perlahan aku mulai membuka celana piyama nya dan telihat bila Tante Nisa menerapkan CD warna putih dan nampak bayang-bayang kehitam-hitaman di sekitar lipatan kakinya.

Di Baca Juga : 5 Macam Permainan Mesin Slot

Lalu Tante Nisa berkata, “Nah udah tau khan, kok masih membisu aja, kayak ngak pernah gituan aja..!”

Dengan tersenyum aku lalu mengendong Tante Nisa seketika menuju kamarnya.

Tante Nisa berkata, “Kau ini kok nggak sabaran sech..?”
Lalu tangan aku mulai bergerak ke belakang untuk mencari kait dan membuka BH-nya tante, namun dengan tersenyum Tante Nisa berkata, “Ini figur baru Ndy.., kaitnya berlokasi di depan.”

Dan tangan Tante Nisa sendiri yang melepaskan kait BH-nya, sehingga tampaklah oleh aku payudara Tante Nisa yang masih cepat. Aku seketika menenggelamkan wajah aku ke dalam payudaranya. Dengan gerakan meremas dan mulut aku menghisap putingnya, Tante Nisa mulai terstimulasi, ini nampak dari erangan Tante Nisa .

“Uuh.. sedap sekali.. terus Ndy.. ehmm..”

Lalu tangan aku mulai bergerak ke bawah, masuk ke dalam celananya dan mulai meraba komponen di sekitar selangkangannya, sedangkan cuma dari luar celana dalamnya.

Lalu tante berkata dengan sedikit tertekan, “Ndy.. tante nggak bendung lagi nih..!”

Tanpa berdaya upaya panjang lagi, aku seketika melepaskan celana sekalian CD Tante Nisa, sebab nafsu aku juga sudah memuncak. Lalu terlihatlah alat vital Tante Nisa yang ditumbuhi bulu-bulu yang terawat dengan rapih. Kepala aku seketika turun dan seketika menjilati alat vital Tante Nisa.

Terdengar Tante Nisa menjerit, “Aduh Ndy.., enak sekali.. terus.. tante merasa enak terus Ndy.. uh.. uh.. ahh..”

Tiba-tiba tubuh Tante Nisa mengejang dan pinggangnya terangkat ke atas. Aku mengenal bila Tante Nisa telah hampir menempuh klimaksnya, namun aku seketika menghentikan permainan aku, sehingga nampak bila Tante Nisa amat kecewa dan berkata, “Kau kok gitu sech Ndy..!”


Aku berkata lagi, “Nit, nanti aku akan memberikan kenikmatan yang sebetulnya, namun kini kau patut meluruskan kembali dahulu adik aku ini..!” sambil memperlihatkan batang alat vital aku yang telah agak mengecil.

Goyangan Maut Tante Dona Sangat nikmat

Cerita sekNamun sebagai pegawai swasta yang bekerja, aku memiliki keterbatasan waktu, tidak mudah bagiku untuk mencari wanita tersebut. Hal ini yang mendorong aku untuk mengiklankan diriku pada sebuah surat kabar berbahasa Inggris, untuk menawarkan jasa ‘full body massage’. Uang bagiku tidak masalah, karena aku berasal dari keluarga menengah dan gajiku cukup, namun kepuasan yang ku dapat jauh dari itu. Sehingga aku tidak memasang tarif untuk jasaku itu, diberi berapapun kuterima.

Sepanjang hari itu, sejak iklanku terbit banyak respon yang kudapat, sebagian dari mereka hanya iseng belaka, atau hanya ingin ngobrol. Di sore hari, kurang lebih pukul 18.00 seorang wanita menelponku.
“Hallo dengan Ivan?” suara merdu terdengar dari sana.
“Ya saya sendiri” jawabku.
Dan seterusnya dia mulai menanyakan ciri-ciriku. Selanjutnya, “Eh ngomong-ngomong, berapa sich panjangnya kamu punya?” katanya.
“Yah normal sajalah sekitar 18 cm dengan diameter 6 cm.” jawabku.
“Wah lumayan juga yach, lalu apakah jasa kamu ini termasuk semuanya,” lanjutnya.
“Apa saja yang kamu butuhkan, kamu pasti puas dech..” jawabku. Dan yang agak mengejutkan adalah bahwa dia meminta kesediaanku untuk melakukannya dengan ditonton suaminya. Namun kurasa, wah ini pengalaman baru buatku.

Agenslot - “Ivan?” katanya.
“Ya saya Ivan,” jawabku. Lalu ia mencermatiku dari atas hingga bawah sebelum ia mempersilakan aku masuk ke dalam. Pasti dia tidak ingin sembarang orang menyentuh istrinya, pikirku.
“OK, masuklah” katanya. Kamar itu begitu luas dan gelap sekali. Aku memandang sekeliling, sebuah TV berukuran 52″ sedang memperlihatkan blue film.

Aku terpana melihatnya, rambutnya sebahu berwarna pirang, kulitnya mulus sekali, wajahnya cantik, pokoknya perfect! Aku masih terpana dan menahan liurku, ketika dia berkata “Lho kok bingung sich”.
“Akh enggak..” kataku sambil membalas salamnya.
“Kamu mandi dulu dech biar segar, tuch di kamar mandi,” katanya.
“Oke tunggu yach sebentar,” jawabku sambil melangkah ke kamar mandi. Sementara, suaminya hanya menyaksikan dari sofa dikegelapan. Cepat-cepat kubersihkan badanku biar wangi. Dan segera setelah itu kukenakan celana pendek dan kaos.

Aku melangkah keluar, “Yuk kita mulai,” katanya.
Dengan sedikit gugup aku menghampiri tempat tidurnya. Dan dengan bodohnya aku bertanya, “Boleh aku lepaskan pakaianku?”, dia tertawa kecil dan menjawab, “terserah kau saja..”.
Segera kulepaskan pakaianku, dia terbelalak melihatku dalam keadaan polos, “Ahk.. ehm..” dan segera mengajakku masuk ke dalam bed cover juga. “Kamu cantik sekali Donna” kataku lirih.
Aku tak habis pikir ada wanita secantik ini yang pernah kulihat dan suaminya memperbolehkan orang lain menjamahnya, ah.. betapa beruntungnya aku ini. “Ah kamu bisa saja,” kata Donna

“Van.. mulailah sayang..” bisik Tante Donna, membuyarkan fantasi seks-ku padanya. Sorotan kedua matanya yang sedikit sipit kelihatan begitu sejuk dalam pandanganku, hidungnya yang putih membangir mendengus pelan, dan bibirnya yang ranum kemerahan terlihat basah setengah terbuka, duh cantiknya. Kukecup lembut bibir Tante Donna yang setengah terbuka. Begitu terasa hangat dan lunak. Kupejamkan kedua mataku menikmati kelembutan bibir hangatnya, terasa manis.

Kedua jemari tanganku masih mengusap-usap sembari sesekali meremas pelan kedua belah pantatnya yang bulat pada dan kenyal. Bibirnya yang terasa hangat dan lunak berulang kali memagut bibirku sebelah bawah dan aku membalasnya dengan memagut bibirnya yang sebelah atas. ooh.., terasa begitu nikmatnya. Dengusan pelan nafasnya beradu dengan dengusan nafasku dan berulang kali pula hidungnya yang kecil membangir beradu mesra dengan hidungku.

“Ohh apa yang akan kau lakukan.. akh..” tanyanya sambil memejamkan mata menahan kenikmatan yang dirasakannya. Beberapa saat kemudian tangan itu malah mendorong kepalaku semakin bawah dan.., “Nyam-nyam..” nikmat sekali kemaluan Tante Donna. Oh, bukit kecil yang berwarna merah merangsang birahiku.

Kusibakkan kedua bibir kemaluannya dan, “Creep..” ujung hidungku kupaksakan masuk ke dalam celah kemaluan yang sudah sedari tadi becek itu.
“Aaahh.. kamu nakaal,” jeritnya cukup keras. Terus terang kemaluannya adalah terindah yang pernah kucicipi, bibir kemaluannya yang merah merekah dengan bentuk yang gemuk dan lebar itu membuatku semakin bernafsu saja. Bergiliran kutarik kecil kedua belah bibir kemaluan itu dengan mulutku. “Ooohh lidahmu.. ooh nikmatnya Ivan..” lirih Tante Donna.

Sementara aku asyik menikmati bibir kemaluannya, ia terus mendesah merasakan kegelian, persis seorang gadis perawan yang baru merasakan seks untuk pertama kali, kasihan wanita ini dan betapa bodohnya suaminya yang hanya memandangku dari kegelapan.

“Okh Van.. indah sekali punyamu ini..” katanya padaku, lidahnya langsung menjulur kearah kepala kemaluanku yang sudah sedari tadi tegang dan amat keras itu.
“Mungkin ini nggak akan cukup kalau masuk di.. aah mm.. nggmm,” belum lagi kata-kata isengnya keluar aku sudah menghunjamkan burungku kearah mulutnya dan, “Croop..” langsung memenuhi rongganya yang mungil itu. Matanya menatapku dengan pandangan lucu, sementara aku sedang meringis merasakan kegelian yang justru semakin membuat senjataku tegang dan keras.
“Aduuh enaak.. oohh enaknya Tante oohh..” sementara ia terus menyedot dan mengocok batang kemaluanku keluar masuk mulutnya yang kini tampak semakin sesak. Tangan kananku meraih payudara besarnya yang menggelayut bergoyang kesana kemari sembari tangan sebelah kiriku memberi rabaan di punggungnya yang halus itu. Sesekali ia menggigit kecil kepala kemaluanku dalam mulutnya, “Mm.. hmm..” hanya itu yang keluar dari mulutnya, seiring telapak tanganku yang meremas keras daging empuk di dadanya.

“Crop..” ia mengeluarkan kemaluanku dari mulutnya. Aku langsung menyergap pinggulnya dan lagi-lagi daerah selangkangan dengan bukit berbulu itu kuserbu dan kusedot cairan mani yang sepertinya sudah membanjir di bibir kemaluannya.
“Aoouuhh.. Tante nggak tahan lagi sayang ampuun.. Vann.. hh masukin sekarang juga, ayoo..” pintanya sambil memegang pantatku. Segera kuarahkan kemaluanku ke selangkangannya yang tersibak di antara pinggangku menempatkan posisi liang kemaluannya yang terbuka lebar, pelan sekali kutempelkan di bibir kemaluannya dan mendorongnya perlahan, “Ngg.. aa.. aa.. aa.. ii.. oohh masuuk.. aduuh besar sekali sayang, oohh..” ia merintih, wajahnya memucat seperti orang yang terluka iris.

Aku tahu kalau itu adalah reaksi dari bibir kemaluannya yang terlalu rapat untuk ukuran burungku. Dan Tante Donna merupakan wanita yang kesekian kalinya mengatakan hal yang sama. Namun jujur saja, ia adalah wanita setengah baya tercantik dan terseksi dari semua wanita yang pernah kutiduri. Buah dadanya yang membusung besar itu langsung kuhujani dengan kecupan-kecupan pada kedua putingnya secara bergiliran, sesekali aku juga berusaha mengimbangi gerakan turun naiknya diatas pinggangku dengan cara mengangkat-angkat dan memiringkan pinggul hingga membuatnya semakin bernafsu, namun tetap menjaga ketahananku dengan menghunjamkan kemaluanku pada setiap hitungan kelima.

Tangannya menekan-nekan kepalaku kearah buah dadanya yang tersedot keras sementara burungku terus keluar masuk semakin lancar dalam liang senggamanya yang sudah terasa banjir dan amat becek itu. Puting susunya yang ternyata merupakan titik nikmatnya kugigit kecil hingga wanita itu berteriak kecil merintih menahan rasa nikmat sangat hebat, untung saja kamar tidur tersebut terletak di lantai dua yang cukup jauh untuk mendengar teriakan-teriakan kami berdua. Puas memainkan kedua buah dadanya, kedua tanganku meraih kepalanya dan menariknya kearah wajahku, sampai disitu mulut kami beradu, kami saling memainkan lidah dalam rongga mulut secara bergiliran. Setelah itu lidahku menjalar liar di pipinya naik kearah kelopak matanya melumuri seluruh wajah cantik itu, dan menggigit daun telinganya. Genjotan pinggulnya semakin keras menghantam pangkal pahaku, burungku semakin terasa membentur dasar liang senggama.

“Ooohh.. aa.. aahh.. aahh.. mmhh gelii oohh enaknya, Vann.. ooh,” desah Tante Donna.
“Yaahh enaak juga Tante.. oohh rasanya nikmat sekali, yaahh.. genjot yang keras Tante, nikmat sekali seperti ini, oohh enaakk.. oohh Tante oohh..” kata-kataku yang polos itu keluar begitu saja tanpa kendali. Tanganku yang tadi berada di atas kini beralih meremas bongkahan pantatnya yang bahenol itu. Setiap ia menekan ke bawah dan menghempaskan kemaluannya tertusuk burungku, secara otomatis tanganku meremas keras bongkahan pantatnya. Secara refleks pula kemaluannya menjepit dan berdenyut seperti menyedot batang kejantananku.

Hanya sepuluh menit setelah itu goyangan tubuh Tante Donna terasa menegang, aku mengerti kalau itu adalah gejala orgasme yang akan segera diraihnya, “Vann.. aahh aku nngaak.. nggak kuaat aahh.. aahh.. oohh..”
“Taahaan Tante.. tunggu saya dulu ngg.. ooh enaknya Tante.. tahan dulu .. jangan keluarin dulu..” Tapi sia-sia saja, tubuh Tante Donna menegang kaku, tangannya mencengkeram erat di pundakku, dadanya menjauh dari wajahku hingga kedua telapak tanganku semakin leluasa memberikan remasan pada buah dadanya. Aku sadar sulitnya menahan orgasme itu, hingga aku meremas keras payudaranya untuk memaksimalkan kenikmatan orgasme itu padanya. “Ooo.. ngg.. aahh.. sayang sayang.. sayang.. ooh enaak.. Tante kelauaar.. oohh.. oohh..” teriaknya panjang mengakhiri babak permainan itu. Aku merasakan jepitan kemaluannya disekeliling burungku mengeras dan terasa mencengkeram erat sekali, desiran zat cair kental terasa menyemprot enam kali di dalam liang kemaluannya sampai sekitar sepuluh detik kemudian ia mulai lemas dalam pelukanku.

Sementara itu makin kupercepat gerakanku, makin terdengar dengan jelas suara gesekan antara kemaluan saya dengan kemaluannya yang telah dibasahi oleh cairan dari kemaluan Tante Donna. “Aaakhh.. enakk!” desah Tante Donna sedikit teriak.
“Tante.. saya mau keluar nich.. eesshh..” desahku pada Tante Donna.
“Keluarkanlah sayang.. eesshh..” jawabnya sambil mendesah.
“Uuugghh.. aaggh.. eenak Tante..” teriakku agak keras dengan bersamaannya spermaku yang keluar dan menyembur di dalam kemaluan Tante Donna.

“Hemm.. hemm..” suara itu cukup mengagetkanku. Ternyata suaminya yang sedari tadi hanya menonton kini telah bangkit dan melepas kimononya. “Sekarang giliranku, terima kasih kau telah membangkitkanku kau boleh meninggalkan kami sekarang,” katanya seraya memberikan segepok uang padaku.

Aku segera memakai pakaianku, dan melangkah keluar. Tante Donna mengantarkanku kepintu sambil sambil menghadiahkanku sebuah kecupan kecil, katanya “Terima kasih yach.. sekarang giliran suamiku, karena ia butuh melihat permainanku dengan orang lain sebelum ia melakukannya.”
“Terima kasih kembali, kalau Tante butuh saya lagi hubungi saya saja,” jawabku sambil membalas kecupannya dan melangkah keluar.

“Akh.. betapa beruntungnya aku dapat ‘order’ melayani wanita seperti Tante Donna,” pikirku puas. Ternyata ada juga suami yang rela mengorbankan istrinya untuk digauli orang lain untuk memenuhi hasratnya.

Cerita sek – Kami saling menghormati satu sama lain, meski beda usiaku dengan sang ibu cuma 5 tahun, ia 5 tahun lebih tua dariku ketika itu. Sampai terjadilah momen itu, yang tidak pernah kusangka-sangka sebelumnya. Momen yang walhasil merubah diriku 180 derajat.

Seperti pada sabtu sebelumnya, saya bermaksud main ke rumahnya buat caturan. Kupamit pada istriku dan langsung bergegas ke rumahnya. Udara malam itu memang dingin sekali pengaruh hujan lebat selama 2 jam yang terjadi petang tadi. Singkat kata saya telah berada di pintu rumahnya. Kuketuk pintunya, dan tidak lama pintu itu terbuka. Terbukti si ibu yang membukanya.

“Oh Ibu, ada Barinya bu?” tanyaku ramah.

“Nak Surya? oh Barinya lagi pergi tuh…” jawab si ibu sama ramahnya.

“Ke mana, Bu?”

“Ke pesta pernikahan sahabat SMUnya. Baru aja ia jalan…”

“Oh gitu ya?” sahutku. “Jikalau gitu, aku pamit aja deh…”

“Oh, mengapa buru-buru, kan Nak Surya baru hingga?”

“Ah, nggak. Jikalau Bari nggak ada, aku pamit aja deh…”

“Ah, jangan terburu-buru demikian itu. Temani Ibu ya?”

Cerita Sex Terbaru -Walau agak heran dengan permintaannya, saya walhasil berdasarkan juga. Kuikuti ia masuk. Kamipun tidak lama asyik berbincang-bincang di ruang tamunya. Sampai walhasil si ibu menawariku kopi.

“Oh iya, Nak. Keasyikan ngobrol jadi lupa nawari minum. Sejenak aku siapkan dahulu ya…”

“Ah, Ibu. Nggak usah repot-repot…”

“Ah, nggak kok. Masa repot?” kata si ibu sambil tersenyum ramah. Sesudah itu, ia langsung beranjak ke dapur.

Sambil menunggu, kuambil koran terbitan hari ini yang tergolek di meja tetamu lalu kubaca-baca. Sedang asyik kubaca koran itu, tiba-tiba si ibu memanggil dari dapur.

“Nak… Nak, dapat aku meminta bantu?”

“Oh, ada apa, Bu?”

Di baca Juga : Hadiah Sex Keperawanan Anak Bossku

Spontan saya langsung beranjak dari sofa itu dan seketika menghampirinya. Terbukti kompor gas si ibu agak macet dan ia memintaku memperbaikinya. Tepat sedang memperbaikinya, tidak sengaja saya memperhatikan ke arah gundukan payudara si ibu.

Ketika itu si ibu sedang membungkuk memperhatikanku yang sedang sibuk mengutak-atik kompor gasnya yang macet. Apalagi si ibu cuma mengenakan daster yang belahan dadanya agak rendah. Saya seketika terpana memandangnya.
Kecuali besar, payudaranya juga nampak ranum dan kenyal. Tidak kusangka perempuan ini masih mempunyai payudara seindah itu di usianya yang tidak muda lagi. Panorama cantik itu membikin Kontolku mulai tegak membesar dari balik celana jeans yang kukenakan tanpa kusadari. Saya demikian itu terstimulus memperhatikan estetika payudara si ibu.

Di Baca Juga : Nikmatnya Bercinta Dengan Sepupuku Yang Sedang Hamil

Akibatnya sesudah berupaya sekuat kekuatan mengatur malu sekalian mengatur Kontolku agar tidak kian membesar ukurannya, selesai juga permasalahan kompor itu.

“Wah, Nak Surya hebat!” pujinya di sampingku.

“Ah, nggak permasalahan… hanya permasalahan kecil kok Bu” sahutku.

“Jikalau gitu ibu dapat meminta bantu lagi?” katanya sambil menatapku badung dan tersenyum genit.

Walau saya telah menyangka apa yang akan ia meminta itu, tidak urung hatiku berdegub-debar juga menanti pertanyaannya. Apalagi kulihat ia kian mendekatkan dirinya ke tubuhku.

“A.. aa… pa Bu?” lidahku mendadak kelu, menyadari alangkah dekat wajahnya denganku ketika ini.

Sambil mendesah, si ibu berkata parau, “Ibu ingin kau kecup ibu…”

Sambil asyik berkecupan, diraihnya tangan kananku untuk meremasi payudaranya di sebelah kanan, meski dinasihatinya tangan kiriku ke bokongnya. Tangankupun seketika bergerak pandai. Keduanya seketika bergerak badung menjalari payudara dan bokongnya yang ranum dan montok itu.

Si ibu nampak melenguh-lenguh menikmati badungnya tanganku meremasi payudara dan jari-jariku menelusuri belahan bokongnya. Di lain pihak, tangan si ibu aktif meremasi Kontolku dari luar celanaku, membikin juniorku itu kian meradang saja ukurannya.

Kupandangi dengan sepenuh nafsu tubuhnya yang bugil itu. Luar awam! Umur boleh kepala 4, melainkan bodinya tidak keok dengan bodi para perempuan yang lebih muda. Pedoman-petunjuk ketuaan memang tidak dapat ditutupi, melainkan secara garis besar, ia masih sungguh-sungguh menggiurkan bagi para lelaki mana saja yang menatapnya.

Tubuh Nak Surya keren banget deh… Ibu menyukai sama lelaki macho kayak Nak Surya ini…” kata si ibu smabil menatapku penuh nafsu. Ia mendekatiku lalu memelukku lagi. Kedua tangannya bergerak liar, menyentuh-raba bukit dada dan perut simetrisku, lalu bergerak turun ke arah Kontolku. Sesaat kemudian, kami kembali asyik berkecupan liar dan saling meremas apa yang dapat kami remas.

Cuma sejenak kami menjalankan itu. Selanjutnya, kami saling membaringkan diri di atas karpet tebal di ruangan itu. Kami seakan tahu apa yang mesti dikerjakan berikutnya.

Kami menyusun posisi 69 dan tidak lama kami telah asyik saling menjilati alat vital lawan mainnya. Si ibu nampak termotivasi mengulum kemaluanku sambil asyik mengocoknya. Terkadang ia ikut serta menjilat dan meremasi kantung spermaku.

Rasanya sungguh-sungguh dahsyat kulumannya. Malah kuluman istriku tak sedahsyat kulumannya. Tampaknya si ibu ini benar-benar telah lama tak diraba lelaki, sampai kulumannya nampak demikian itu ganas.

Si ibu ambil posisi di bawah, meski saya bergerak menindih di atas tubuh moleknya. Sambil tersenyum mesum, ia buka selangkangannya lebar-lebar. Memamerkan liang surganya yang sungguh-sungguh cantik nan menggiurkan itu. Membikin jakunku naik-turun berulang kali. Tidak tabah langsung kutuntun Kontolku ke lubang memeknya.

Kugesek-gesekkan sebentar kepala Kontolku di bibir memeknya, sebelum walhasil kudorong perlahan.

“Ssleebb… ssleebbb… bblessshhh…” sedikit demi sedikit Kontolku tertelan liang surganya, memunculkan sensasi sedap yang sulit diterangkan rasanya. Si ibu sendiri nampak meringis-ringis sedap menikmati sodokan kemaluanku yang hangat dan keras ini menjelang liang surganya.

Kontolku terus melaju sampai hingga di komponen terdalam liang surganya. Lalu mulai kupompa ia. Saya bergerak dalam posisi push-up di atasnya. Sementara pantatku bergerak maju-mundur mengebor memeknya. Kian lama gerak pantatku kian kupercepat. Membikin jeritan erotis si ibu kian keras terdengar. Membuatku kian termotivasi dalam menjajah lubang alat kelaminnya.

Peluh mulai mengalir deras membasahi tubuh bugil kami. Si ibu nampak menjerit-jerit keenakan dipompa senjataku. Sepasang tangannya meremasi rambutku. Tidak jarang tangan-tangan itu aktif mencakari punggungku yang liat ini, membikin sedikit pedih di kulitnya sebab kukunya yang agak panjang itu.

Saya sendiri tidak ingin keok. Sambil terus memompa Kontolku dalam-dalam, saya asyik mencumbui bibirnya yang seksi. Saya juga gigit-gigit perlahan lehernya yang mulus kulitnya itu. Terkadang saya menyusui sepasang payudaranya yang menggiurkan itu secara bergantian.

Bokong dan pinggul si ibu nampak bergoyang-goyang liar menyambut sodokan Kontolku, membuatku nyaris edan sebab demikian itu sedap dampaknya di batang Kontolku.

Sekitar 15 menit kemudian si ibu keluar. Ia kian erat memeluk tubuh atletisku yang berair kuyup oleh peluh kami berdua. Kubiarkan ia beristirahat sebentar sesudah orgasmenya itu. Kemudian kembali kuserang ia.

10 menit kemudian, sesudah lebih dari sejam kami bercumbu, jebol juga pertahananku. Kutarik Kontolku keluar dari jepitan memeknya semenit sebelum saya hingga di puncak. Lalu kusemburkan spermaku berkali-kali ke wajah dan payudara si ibu.

Spermaku yang kental dan banyak itu membasahi wajah, leher, payudara dan rambutnya. Dikocoknya batangku, seolah-olah ia tidak puas dengan segala air mani yang kutumpahkan tadi. Setelahnya, ia raih air mani-air mani itu untuk ditelannya sampai habis. Sisanya ia balurkan ke dada dan kedua puting susuku, untuk ia jilati seperti seorang buah hati menjilati sisa-sisa es krimnya. Membuatku meringis-ringis kegelian.

Puas bercumbu, kami sama tergolek di atas sofa. Kami berkelakar sambil sekali-sekali berkecupan dan saling meremas. Sesudahnya saya mandi di rumahnya untuk membersihkan tubuhku dari sisa-sisa pergumulan dahsyat tadi, supaya tak ketahuan istriku. Selesai mandi, si ibu membuatkanku teh manis hangat dengan makanan ringan ringan. Kamipun berbincang-bincang sebentar seperti tak ada terjadi apa-apa di antara kami.

Kali ini semuanya terasa berbeda. Meski saya sungguh-sungguh menyesal sudah mengkhianati istriku, saya tidak dapat menipu diriku sendiri jika perselingkuhan itu rupanya sedap juga. Amat sedap malahan. Ibarat jika selama ini kita cuma makan ‘opor’ di rumah tangga kita, selingkuh berarti kita makan ‘opor’ di luar sana, melainkan dengan jenis, rasa dan sensasi yang berbeda.

Itu saya hingga di depan pagar rumahku sendiri, sesungging senyum tiba-tiba timbul di sudut bibirku. Saya merasa yakin, bahwa perselingkuhan ini bukanlah yang pertama dan terakhir kalinya terjadi dalam hidupku.

- Copyright © cerita sex - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -