Popular Post

Popular Posts

Posted by : clarissaachan



agenslot-Momen ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu di Amerika, Aku kuliah di universitas yang lumayan familiar di dunia, Berhubung sekolahnya baik, karenanya si kecil-si kecil Indonesia yang kuliah di sana rata-rata mahasiswa yang pandai. Cewek yang indah saja hanya sebagian, itupun telah ada cowoknya segala. Nah mulanya, ada cewek yang baru datang dari Jakarta bernama Vira (nama samaran). Aku telah kerap kali mendengar cerita dari sahabat-sahabat bahwa Vira ini indah dan menyukai berpakaian seksi, apalagi di permulaan Fall semester itu udara masih panas-panasnya.

Suatu hari di kampus, aku berpapasan dengan sahabat-sahabat cewek. Seperti umum, aku hanya basa-basi saja sebab aku memang familiar cuek di depan cewek-cewek. Sesudah basa-basi, aku bilang aku telah telat masuk ke kelas. Dikala balik badan, eh hampir bertabrakan dengan cewek tinggi indah yang sedang melalui di belakangku. Yang lain segera mengakak.

“Alahh Ricky pasti deh disengaja agar kenalan”, kata cewek-cewek menggodaku. Rupanya itu yang namanya Vira.
“Alow.., aku Ricky”.
“Vira”, katanya cuek.

Sesudah hari itu aku tak pernah lagi bersua dengan Vira. Hingga suatu hari saat baru keluar dari kelas, ketika jalan pulang aku lihat Vira sedang duduk sendirian mengisap rokok di luar gedung English. Ah, peluang nih pikirku. Lantas aku hampiri ia. Wah edan deh.., bajunya membuatku tak bendung. Pakaian minim bertali atasnya dan celana pendek berwarna cokelat. Dikala aku didepannya, terlihat payudaranya yang nampak dengan tali BH hitamnya yang menambah seksi penampilannya. Wah.., seperti ini ternyata cewek-cewek Jakarta jaman kini. Sesudah basa-basi sedikit, aku ikutan mengisap rokok bersama ia dan bercerita seputar diri kita.


Tiba-tiba ia bertanya, “Eh Ric.., loe jika tak ada kelas lagi jalan yuk.., Aku orisinil boring banget nih”. Terus sesudah keder berharap jalan ke mana, kita mempertimbangkan pergi ke kota H yang jaraknya 2 jam. Katanya ia berharap ke mall, pingin shopping.
Hari itu kita jadi akrab sekali hingga sempat bergandengan tangan di mall. Aku tak tahu mengapa aku yang mulanya nafsu jadi menyukai benar kepadanya. Hatinya cuek, asik dan lucu lagi. Apalagi ia bahagia saja jalan denganku yang termasuk si kecil “bawah” di kotaku. Kendaraan telah butut, duit senantiasa ideal-pasan. Wah.., untung deh kayaknya si Vira ini tak matre.

Sesudah sebulan jadi sahabat dekat, suatu malam pulang dari main billiard ia mengajakku ke tempatnya. Ia tinggal bersama tantenya yang telah berkeluarga dan punya 2 si kecil. Waktu itu sekitar jam 2 malam. Jadi Om dan Tantenya telah pada tidur segala. Ia segera mengajakku ke dapurnya yang sungguh-sungguh besar.
“Berharap beer Ky?”, tawar Vira.
“Tak usahlah Vir.., jika loe berharap ya satu berdua saja”, jawabku (aku memang tak demikian itu menyukai yang namanya minuman keras).
Terus waktu Vira datang membawa beernya.., ia segera jongkok di depanku yang sedang duduk di tempat duduk. Wah.., lagi-lagi dengan salah satu pakaian sexynya, panorama payudaranya persis di depan mataku. Tanpa sadar penisku telah naik memandang tonjolan payudara yang putih itu. Sebab posisiku yang lagi duduk, karenanya penisku yang sedang tegak menjadi agak nyangkut. Lantas aku membungkuk sedikit agar tegangnya tak demikian itu menyiksa.



“Ky.., loe tuh telah Aku anggap sahabat dekat Aku disini. Terus jelas.., loe tuh satu-satunya yang cuek saja jika didepan Aku.., makanya aku menyukai. Cowok lain kan rata-rata menyukai genit-genit gitu.., ah males banget deh Aku lihat cowok gituan”, kata Vira sambil menatap tajam ke mataku.

“Jadi sahabat doang nihh?”, kataku sambil ketawa kecil.
“Saya baru berharap nanya.., loe sama Aku saja berharap gak?”, kata Vira sambil tersenyum kecil.
“Ah canda loe.., Aku tak ada modal buat pacaran Vir”, aku menanggapinya sambil tersenyum juga.
“Tidak ah.., jika tak berharap ya telah”, kata Vira dengan pura-pura cemberut.
Tak tahu ada dorongan dari mana, tiba-tiba jari telunjukku bermain di bahunya. Terus jariku naik menyusuri leher dan kupingnya. Aku lihat Vira membisu saja merasakan permainan kecilku.
Sesudah sebagian ketika aku tanya, “Vir.., Aku boleh kecup loe tak?”.
“Sekali saja ya Ky..”, katanya dengan senyum jahilnya. Aku bungkukkan badan dan segera aku kecup bibirnya dengan lembut. Pertama kita main bibir saja, terus ia yang mulai memainkan lidah. Sesudah sebagian ketika ia pegang tanganku sambil menasehatinya ke kamarnya.
Dengan was-was aku tanya, “Eh Oom loe tak bangun sejenak Vir?”.
“Makanya jangan onar!”, jawab Vira cuek.

Hingga di kamar, ia duduk duluan di kasurnya yang lumayan besar. Aku jongkok di depannya dan mulai mengecup bibirnya lagi. Saya ini tanganku mulai berani membatasi payudaranya yang berukuran 34B. Untuk ukuran tubuhnya yang tinggi kurus payudaranya termasuk besar dan ideal sekali.
Tiba-tiba Vira mendorongku menghentikan kecupan dan berbisik, “Ky.., ada satu yang perlu loe tau.., Aku belum pernah lho yang aneh-aneh.., Paling jauh hanya kecupan”.
Dengan terkejut aku segera bilang, “Ya telah deh Vir.., tak usah saja ginian”.
Dengan cepet Vira memotong omonganku, “Bukan gitu Ky.., Maksud Aku.., ya perlahan-perlahan saja, Aku juga tak berharap loe ngira Aku beginian sama segala cowok”.
“Aku tak peduli juga dengan masa lalu loe Vir.., yang penting kini Aku bahagia sama loe.., Setelah loe dahulu kerap kali juga gak apa-apa kok.., kan jadi asik loe telah pengalaman”, candaku sambil ketawa kecil takut Oom dan Tantenya terbangun.
“sialan loe!”, katanya ikutan ketawa kecil.

bandarslot-Tak berapa lama, aku maju lagi dan mulai mengecup Vira. Sesudah sebagian menit aku buka pakaiannya. Tinggal BH silk yang berwarna biru muda. Tanpa melepas BH-nya, payudaranya aku keluarin dan mulai aku pindah ciumin dan mainin kedua payudaranya. Terus jelas, sebelum ini belum pernah aku memandang payudara sebagus ini. Penisku menjadi sungguh-sungguh tegang. Apalagi permainan yang perlahan-perlahan seperti ini membikin suasana makin erotis dan membendung rasa nafsu yang menggebu-gebu membuatku kian merasakan permainan ini.

“Vir.., Aku boleh ciumin bawah lu tak?”, tanya aku hati-hati. Vira cuma mengangguk kecil. Saya diwajahnya bahwa ia juga merasakan sekali permainan aku.
“Loe tiduran saja Vir”, kata aku sambil berdiri dan membuka pakaian dan celanaku. Sesudah ia tengadah aku buka perlahan-perlahan celananya. Tinggallah celana dalamnya yang juga berwarna biru muda. Aku kecup kakinya dari betis naik perlahan-perlahan ke paha dan stop di selangkangannya. Dengan pelan aku tarik ke bawah celana dalamnya. Rupanya bulu vaginanya tipis dan lurus. Setelah sekali nih dalam hati aku. Aku tak demikian itu menyukai Miss V yang berambut lebat. Mulailah aku jilati vaginanya sambil aku masukin lidahku ke dalamnya. Vira membisu saja sambil sedikit bergoyang.

Sesudah sebagian menit Vira telah berair dan aku juga telah tak bendung dari tadi hanya tegang saja. Aku ciumi perlahan pusarnya naik ke payudaranya terus leher dan menggilas bibirnya. Sambil berkecupan aku mencoba memasukkan penisku ke vaginanya. Pertama sih perlahan eh tahunya tak masuk-masuk. Penisku tak terlalu besar, tetapi lumayan panjang. Aku mencoba lagi menusukkan penisku, eh konsisten saja tak masuk. “Benar juga nih si kecil masih perawan”, dalam hatiku. Sambil menciuminya, aku berbisik, “Aku coba agak keras ya Vir?”. Tanpa menunggu jawaban segera aku coba menerobos lagi dengan lebih keras. Saya saja tak dapat.

Tidak sesudah kaprah-kaprah 10 menit tembus juga pertahanan Vira. Pertama ia terlihat kesakitan, tetapi lama-lama Vira mulai mendesah-deash kecil keenakan. Tangan kananku disuruhnya menutup mulutnya agar ia tak mendesah terlalu keras.
Sayang gara-gara telah ereksi semenjak tadi, aku hanya dapat bertahan 10 menit.
“Aku berharap keluar nih Vir..” kataku dengan nafas yang tak teratur.
“Di luar Ky!”, jawabnya pesat.
Tak berapa lama aku keluarin air mani aku di perutnya. Aku segera mengambil tissue dan membersihkan spermaku diperutnya. Vira masih tengadah membisu di daerah tidur.
“Loe tak pa-pa Vir?”, tanyaku kawatir takut ia menyesal.
“Aduh Ky.., sakit nih jika aku gerakin”, jawabnya dengan muka meringis.
“Ia-perlahan saja Vir”, kataku sambil berpakaian lagi.


Tidak Vira berdiri dan ikutan berpakaian.
“Ky.., loe balik deh.., esok hari kan ada kelas pagi”, kata Vira tanpa expressi.
“Iya deh Vir..”, jawabku sambil mengecup bibir dan keningnya.
Ia mengantarkanku hingga di pintu depan dan aku tanpa banyak bicara segera pergi pulang. Saya pertama kali aku mengambil perawan cewek. Ada perasaan was-was dalam hatiku.

Besoknya di kampus seperti umum ketemu Vira di depan Perpustakaan. Aku dengan deg-degan mencoba tersenyum ke Vira. Saya di depanku, dadaku ditonjok dengan keras.
“Sakit tau!”, kata Vira dengan nada keras. Aku membisu saja tak tahu berharap ngomong apa. Eh tahunya ia segera ketawa terbahak-bahak.
“Tak pa-pa kok Ky.., aku tak naik darah sama loe.., asal..”, katanya dengan senyum-senyum.
“Asal apaan?”, tanyaku tak tabah.
“Asal loe jadi cowok aku mulai kini”, Kata Vira sambil menatap tajam.
Dengan hati bahagia aku segera bilang, “Aku sih telah nganggep loe cewek aku dari dahulu”.
Tidak kita ketawa dan semenjak itu Vira mulai belajar seks perlahan-perlahan dengan aku tentunya.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © cerita sex - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -