Popular Post

Popular Posts

Posted by : clarissaachan




agenslot-Malam itu sekitar jam 11 lebih, cuaca benar-benar tak berteman, Semenjak jam sebelasan tadi hujan udah turun dengan derasnya disertai angin cepat dan petir.

Di depan pintu kamar periksa itulah ada saya berada, saya menghabiskan waktu dengan membaca buku. saya bernama Dokter Maman berusia 35 tahun, dalam umur segitu masih menonjol rupawan dan gagah. Telah hampir sepuluh tahun saya berprofesi sebagai dokter di rumah sakit ini, sekiranya istriku masih muda sekitar berumur 30 tahun dengan 2 si kecil.

Kesepian hari udah menjadi temanku sehari-hari bila saya bisa tugas jadi dokter malam, karenanya mendengar bunyi-bunyi aneh dan cerita-cerita menyeramkan lainnya udah ngak membuatku merinding lagi. Istilahnya telah kebal dengan hal-hal seperti itu.

Sungguh, malam itu menjadi malam panjang bagiku, suasana hujan yg dingin gampang membuai orang menjadi ngantuk. Tapi saya masih terus membaca buku yg sengaja saya bawa dari rumah.


Tidak lama datanglah seorang gadis indah menghampiriku.

“Permisi, Pak” sapa suster padaku dengan tersenyum manis.

“Ouuhh.. Suster…! ya ada apa sus malem-malem ke sini” balasku.

“Anu Pak abis jaga malam sih, melainkan belum dapat tidur, makannya sekaligus berharap keliling-keliling dahulu” sebut suster hal yang demikian

Saya menjadi keder karena ngak tau sekiranya suster ini kebagian jaga malam juga. Karenanya saya bertanya,

“Melainkan saya kok rasanya baru pernah liat Suster disini ya…?” tanyaku heran

“Iya Pak, aku baru pagi tadi hingga disini, pindahan dari rumah sakit sebelah jawabnya, “jadi sekaligus berharap ketahui sama situasi disini juga” sebut Suster indah

“Ooohh… pantesa aja saya baru liat” kataku mengatasi suasana tenang

“Emang bapak kaprah saya siapa ?” tanyanya lagi sambil menjatuhkan bokongnya pada kursi dan duduk di sebelahku.

“Wow, oke juga nih” kata hatiku kegirangan.

“Saya bahkan kaprah kau suster ngesot loh, hahaha” timpalku mencairkan suasana lagi

“Ya ngak lah pak, saya kan suster indah Hahahaha…” sambung Suster hal yang demikian untuk menghangatkan suasana.

Malam itu dokter saya merasa mujur sekali mendapatkan sahabat ngobrol seperti suster Hena, lazimnya suster-suster lain paling cuma tersenyum padaku atau sekadar memberi salam basa-basi saja. Maklumlah mereka seluruh tau sekiranya saya udah beristri dan punya dua si kecil.

Di malam itu kami berdua terlibat obrolan ringan, sehingga saya itu tak lagi mempedulikan buku bacaan dan mengalihkan perhatian terhadap suster Hena yang indah itu.

Semenjak permulaan pula saya udah terpikat dengan gadis ini. Pria normal mana yg tak berminat dengan gadis berkulit putih mulus berwajah kalem seperti itu, di tambah rambut hitamnya dan body nya yang seksi.

Seandainya Suster Hena berusia 24 tahun dan belum menikah. Untuk gadis secantik Hena sesungguhnya ngak semacam itu sulit mendapatkan pasangan ditambah lagi dengan body nya yg montok dan padat, tentu pasti banyak lelaki yang berharap dengannya.

Melainkan sejauh ini belum ada pria yg pantas di hati Suster Hena. Sebagai wanita alim berhijab ia benar-benar menjaga pergaulannya dengan lawan ragam. Melainkan malam ini ia galau juga memandang ke tampananku.

Seolah-olah saya dapat membaca hati kecilnya, menerawang dari tingkah lakunya yang rilex saat kami ngobrol dan canda tawa. Tapi Saya sengaja mendekatkan duduknya ke gadis itu sambil kadang-kadang mencuri pandang ke arah belahan dadanya.

Suasana malam yang dingin membikin nafsuku bahkan mulai bangkit, apalagi saya udah seminggu ngak ngentot dengan istriku sebab ia lagi datang bulan. Kian lama karenanya kian berani saya menarik hati suster muda yang alim itu dengan guyonan-guyonan jahil dan obrolan yg menjurus ke porno.

Suster indah itu sepertinya cuma tersipu-sipu dengan obrolanku yg lumayan jorok itu.

“Terus jelas deh Sus, semenjak Suster datang kok disini jadinya lebih hanget ya” kataku sambil meletakkan tangan di lutut Hena dan mengelusnya ke atas sambil menarik rok sedikit demi sedikit.

“Ehh… jangan gitu dong Pak…?!” Hena protes, melainkan kedua tangannya konsisten di meja tanpa berupaya menepis tanganku yang mulai kurang didik.

“Ahh Suster galak deh, masa pegang gini aja ngak boleh, lagian disini kan masih sepi, dingin lagi” kataku makin berani, melainkan tanganku makin naik ke atas paha yang mulus itu.

“Pak, nanti saya dapat naik darah nih, lepasin gak, bapak kan udah punya istri, saya itung hingga tiga” wajah Hena kelihatannya BT, matanya menatap tajam ke wajahku.

“Jangan naik darah dong Suster indah, mendingan kita seneng-seneng aja yuk?” sahutku mencoba mengajaknya tenteram



Sebentar Hena membisu dan tak berkata apa-apa saat saya ucapkan itu, Expresinya bahkan santai saja saat tangaku masih terus mengelus paha mulusnya. Tak ada pertanda-pertanda penolakan walau wajahnya masih nampak naik darah.

“Satu…” suster itu mulai menghitung tetapi saya makin kurang didik, dan tanganku makin jahil menggerayangi pahanya

“dua…!” suaranya makin seriu.

“Ti…” sebelum ia selesai menghitunganya, karenanya saya udah lebih dahulu mengecup bibirnya.

“Mmm… Hmm… !” suster itu berontak dan menyokong-dorongku untuk berupaya lepas dari dekapanku tetapi dayanya tentu keok dari kekuatan laki-laki, belum lagi saya telah mengangkat roknya lebih tinggi. Karenanya Hena merasa tiupan angin malam menerpa paha mulusnya yang sudah terangkat.

“Aahh… jangan pak… !” Hena sukses melepaskan diri dari cumbuanku,  melainkan hanya sejenak, sebab ruang geraknya terbatas karenanya bibir imut itu kembali menjadi santapanku.

Lalu tanganku juga meremas-remas dadanya yang masih tertutup seragam suster dan hijab lebarnya, Saya bisa menikmati sekiranya toked suster ini masih natural dan padat, bahwa ini tanda belum pernah dijamah oleh lelaki lain.

Sementara tanganku satunya konsisten mengelus paha cantiknya yg menggiurkan. Hena terus meronta, melainkan cuma sia-sia.. karena baju bawahnya kian terangkat dan hijab lebar perawat itu nyaris copot.



Lama-lama konfrontasi suster Hena melemah, sentuhan-sentuhan pada tempat sensitifnya sudah meruntuhkan pertahanannya. Mungkin daya seksualitasnya bangkit, apalagi suasananya benar-benar menyokong dengan hujan yg masih mengguyur. Ditambah lagi saya telah seminggu ngak ngentot.

Di tengah ketidak berdayaan nya melawan tenagaku, Hena kian pasrah membolehkan tubuhnya dijarah. Tanganku menjelajah kian dalam, saya belai pahanya sampai meraba selangkangannya yang masih tertutup celana dalam.

“Kita ke dalam aja biar lebih nikmat yuk” Ajakku.

“Bapak emang kurang didik yah, kita dapat dapet permasalahan sekiranya gak lepasin saya !” Hena masih memperingatkan tingkah laku kurang ajarku.

“Udahlah Suster indah, kita berbahagia-berbahagia aja malam ini OKE… ? !” ajakku lagi sambil narik lengan suster itu bangkit dari bangku.

Saya mengajaknya ke ruang periksa pasien daerah kami berjaga. Saya suruh ia duduk di atas ranjang lalu saya menjilati memeknya sambil jongkok.

“Hmmm… Sshhh…!” desah Hena keluar saat lidahku menyusuri gundukan klistorisnya. Lidahku bergerak liar menjilati semua lubang memeknya tanpa ada yang terlewat. Sesudah berair seluruh, saya kenyot lendir organ intim wanita itu.

Srruuut… !!! lidahku menyuruput lendir kewanitaan Suster Hena. dagingnya terasa kenyal sekali bikin saya tambah gemes aja” pikirku dalam hati

“Aahh… Aaahhh… !” tubuh Hena tersentak-sentak pengaruh rangsanganku. Maklum saya udah pengalaman menstimulasi wanita. Jadi saya tau seluk beluknya organ intim wanita yang ideal.

Kesudahannya Hena menikmati kedua putingnya kian mengeras pengaruh stimulan yang terus datang semenjak tadi tanpa henti. Sambil menjilat klistoris, tanganku juga mengobok-obok tokednya, agar tempat itu kian hot saat sedang terstimulasi full.



“Saya coba masukin kini yah, udah gak bendung nih kataku kepadanya

“Suster Hena cuma mengangguk.”

Karenanya saya lantas merekatkan penisku ke bibir organ intim wanita itu. Seperti penisku telah sukses masuk, terdengar pula desahan sensualnya yang merasakan penisku menekan kian dalam.

“Uuhh… sempit banget Sus, masih perawan gak sih ini sus ?” Tanyaku

Hena tak menjawab, tapi ia menjerit kesakitan dan mencengkram kuat ranjang yang kami tiduri itu.

“Weleh-weleh, nikmat banget sus, legit lagi rasanya” komentarku mengenai lubang vaginanya.

Sebagai jawabannya, Hena  bahkan menarik wajahku lalu mengecup bibirku yang berarti mengajak cipokan, agaknya ia ngak berniat menjawab pertanyaan itu.

Sambil cipokan, sambil saya goyangkan juga pinggulku menyokong ke arah lubang memeknya. Ia kian lama kian bertenaga menghantam lubang itu. Lumayan juga sih telah hampir sebagian menit kami berkaitan intim.



Aku pintar juga memegang frekuensinya supaya ngak terlalu kencang kehabisan kekuatan. dengan berkata

“Malam masih panjang Pak, jangan buru-buru, biar saya yg gerak kini !” kata gadis perawat itu tanpa malu-malu lagi.

Saya tersenyum mendengar permintaan suster itu. Karenanya akupun bertukar posisi, Saya tiduran tengadah dan Hena di atas menaiki penisku. Itu dengan penis yg terbenam dalam vaginanya. Mataku terpejam merasakan goyangan dari Hena

“Sssshhh… Ouuhh… Aaahh… Aahh !” saya mendengar bunyi Hena mendesah saat mataku masih tertuput.

Seperti saya buka, Sungguh suster Hena ini mempunyai tubuh yang total, buah dadanya masih bulat dan tak lonjong yang kebanyakan seperti buah dada wanita yang tak mengurusnya. Perutnya rata dan bodynya langsing.

“Ayo Sus.. Goyang terus… Terus… Terus…! panduku di ketika saya akan menempuh orgasme

Tiap-tiap saya tak bendung lagi, karenanya saya semprotkan air mani itu ke dalam lubang memeknya. “Croot… Crooot… Crooot..”

“Aduuuh… Apa itu pak ?” sebut Hena

“Aku bapak barusan keluarin air maninya sayang” ucapku mesra

“Yaaahh… padahalkan air maninya pengen saya letakkan di muka, kata orang sih biar tambah awet pak, makanya saya tadi menyesal. Lagian bapak ngak beri informasi sih” sebut Hena

“Waduh… sekiranya semacam itu udah terlanjur sayang, Ya udah kapan-kapan sekiranya kita main lagi, nanti bapak beri ke wajah kau ya” ucapku kembali tersenyum

Walau kewalahan seperti ini, tak ada dari raut wajah Hena yang menyesal. Berarti bisa diistilahkan Suster indah ini benar-benar menyenangi permainan seks ku yang mantap….!!!

Karena kali kami ada jadwal piket bersama, kami senantiasa berkaitan badan. Saya juga bermaksud menciptakan Suster Hena yang berhijab ini sebagai istri kedua, oleh karena itu saya acap kali tak menerapkan kondom.  saya mau ia hingga hamil, sampai terpaksa berharap menikah denganku sebagai istri keduanya.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © cerita sex - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -