Popular Post

Popular Posts

Posted by : clarissaachan






agenslot-Dimana kota Surabaya sedang diguyur hujan. Yakni panorama langka seandainya Surabaya dicurahi hujan, sebab lebih tak jarang kota ini berada dalam keadaan kering.

Waktu itu kumanfaatkan untuk berkeliling memutari Surabaya sebab suhunya agak berteman. Saya berkeliling dengan menerapkan angkutan biasa, ke tempattempat unggulan dan belum pernah kujalani sebelumnya. Saya ini saya bersantai di Galaxy Mall, yang banyak dikunjungi WNI keturunan. Mataku liar meliriklirik wanita putih mulus dan trendy. Entah mengapa semenjak dahulu saya terobsesi dengan wanita Chinese yang berdasarkan pandanganku yaitu tipikal total dalam banyak hal.

Ia mengajakku pulang bersama, sebab saya mengaku akan menunggu angkutan hingga hujan reda. Tetapi, saya malahan sepakat, dan lantas berangkat bersamanya.

Di dalam kendaraan beroda empat, saya tidak dapat hening sebab saat menyetir, saya dapat mengamati dadanya yang montok dan paha mulusnya bergerak gesit merajai kemudi. Ia ia tak menyadari itu, sebab saya tahu ia tak akan menyukai. Hal itu kusadari dari diskusi sebelumnya. Sesudah kelihatannya wanita baikbaik. Ia konsentrasiku benar-benar terganggu apalagi jalur di kota Surabaya yang tak rata membikin dada menawan yang ngumpet di balik pakaiannya bergoyanggoyang. Ditambah lagi harum tubuhnya yang benar-benar menstimulus. Tetapi muncul pikiran jahat di otakku.




Saya pindah ke belakang ya.. kataku. Saya? Saya ngantuk, berkeinginan tiduran, nanti turunkan saya di jalan Kertajaya, kataku berpurapura. Saya itu sejuta agenda jahat telah merasuki otakku. Ok, melainkan kau jangan terlalu pulas ya.. nanti ngebanguninnya sulit, katanya polos. Di kala otakku telah kesetanan, tibatiba.. Jangan bising atau pisau ini akan merobek lehermu, ancamku seraya merekatkan pisau lipat yang umum kubawa. Itu telah menjadi kebiasaanku semenjak di Medan dahulu.

Don.. apaapaan nihh..? teriaknya gugup, sebab kaget. Saya peringatkan, membisu, jangan macammacam! bentakku sambil menekan permukaan pisau lebih kuat. Saya telah kehilangan keseimbangan sebab nafsu. Jalankan mobilnya dengan wajar, bawa ke tempat Petemon.. kencang..! Ehh.. iiya.. iyahh.. jawabnya dengan benar-benar ketakutan. Segala yang tadi diletakkan di jok belakang lantas kubuka. Saya uang dan kartu kreditnya segera bermigrasi ke kantongku.

Bawa ke Pinang Inn.. kencang! bentakku lagi. Saya ini saya telah pindah ke jok depan, dan pisau kutempelkan di pinggangnya. Sepanjang perjalanan wajahnya pucat dan adakalanya memandangiku, seolah meminta dikasihani. Jangan mencoba membikin gerakan macammacam.. atau kau kulempar ke jalan.. paham? ancamku lagi sambil berganti posisi.

Saya mengambil alih kemudi. Entahlah, ketika itu saya merasa bukan diriku lagi. Mungkin iblis sedang menarinari di otakku. Sesudah cuma diam, dengan tubuh gemetar membendung rasa takut. Tibatiba HPnya berbunyi, kurebut HP itu dan kuhempaskan di jalan hingga pecah. Ingat.. jangan berperilaku anehaneh.. seandainya masih mau hidup.. pesanku setibanya di parkiran Pinang Inn. Ia segera masuk garasi, dan saya menghubungi Front Officer. Kubayar, lalu kembali ke garasi.

Keluar..! Dengan wajar kugandeng ia masuk kamar. Kukunci dan kusuruh ia tengadah di kasur yang empuk. Kunyalakan Supaya channel yang memutar filmfilm biru. Pinang Inn memang disediakan untuk bermesum ria. Sesudah dia tampak ketakutan, saat melihatku segera membuka segera dan celana. Dengan cuma menerapkan CD, kurebahkan tubuhku di sampingnya dengan posisi menyamping. Pisau itu kugesekgesek di sekitar dadanya. Kini agar ini tak menyakitkan, kau jangan kamu.. atau berperilaku mayatmu telah ditemukan di laut sana.. sudah?

Don.. ke.. ke.. napaa.. jadi be.. gii.. ni? Apa.. salahku? dengan ketakutan ia dia membuatku luluh. Salahmu yaitu.. kau memamerkan tubuhmu di hadapan singa lapar.. Ia, segala pakaiannya kusobek dengan pisauku yang tajam. Mulai dari pakaiannya luar hingga dalamnya.

bandarslot-Dada putih mulus yang montok, tubuh langsing, dan.. ups.. liang estetika yang merah muda ngumpet malumalu di antara paha yang dirapatkannya. Kubuka pahanya. Jangann Don.. kumohon jangan.. pintanya memelas. Saya telah tak peduli. Hei.. Nin.. dapat membisu nggak? Kadang-kadang mati? Hah..? ancamku sambil menampar pipinya.Hingga saya menampar wajahnya cukup keras. Silakan menjerit.. ini ruangan kedap saya.. ayo.. menjeritlah.., ejekku kesenangan. Ia kulebarkan pahanya, kuelus permukaan estetika dengan lembut dan berirama.

Ia ia menatapku. Ada juga desah aneh di bibirnya yang tipis. Saya terus mengelus saya itu, sambil dua jariku yang menganggur mempermainkan puting susunya bergantian. Sesudah cuma dapat mendesah dan menangis. Kudekatkan wajahku ke dapat paha mulusnya. Dengan perasaan, kukuak liang estetika, menawan sekali. Seumur hidup, baru kali ini saya mengamati saya wanita seindah itu. Ia agak membukit formatnya, ditumbuhi bulu yang halus dan lemas.

Bibir estetika kupegang, kemudian lidahku kujulurkan alat kelaminnya lubang yang memasuki itu. Kujilati dengan enak, memutari segala permukaannya. Shh.. Don.. Donhh.. jangaann.. sshh.. Nina hingga terduduk. Ada sesuatu yang lucu. Dalam hingga itu sempatsempatnya ia menggoyang pinggulnya mendesak mulutku, dan menjambak rambutku ada kalanya. Dalam hati saya saya, Dasar wanita.. munafik. Ayo.. Nin.. ayo.. kataku ngakak mengharap cairan itu lantas keluar membasahi saya. Saya itu kesadaranku enak hadir. Perlakuanku kubuat selembut mungkin, pelan tapi tegas mengaplikasikan Nina tak berperilaku ceroboh.

Saya ini lidahku mengaitngait klitorisnya beraturan pelan dengan arah lidah acak. Sesudah makin bergetar. Goyangan pinggulnya terasa sekali. Lho.. diperkosa kok dia enjoy.. ayo.. nangis lagi.. mana..? olokku. Don.. jangannhh.. janganh.. balasnya malu malu, dia menggeser kepalaku dari selangkangannya. Ia sesudah kepalaku digerakkan ke samping, dia ditariknya lagi malah mulutku segera terjatuh di bibir estetika.

Oghh.. sshh.. Nina menggelinjang membendung nafsu yang mulai merasuki dirinya. Sesaat ia lupa seandainya seandainya ia dalam dia terjajah. Sshh.. terrusshh.. Saya lahan, cairan yang kunanti keluar juga. Secara mantap, lendir pelan itu mengalir membasahi liang estetika yang semerbak. Donnhh.. Donhh.. Sesudah berteriak di dapat orgasmenya yang kuhadiahkan secara cumacuma. Aduh.. Nin.. yang benar aja dong.. ringisku sebab ketika orgasme tadi, kukunya yang lentik melukai pundakku.



Maaf.. maaf Donhh.. Saya sesaat untuk memberinya waktu stop. Saya berdiri di samping ranjang. Sesudah terkulai lemas. Pahanya dia terbuka. Kamu genit itu telah mengundang batang kemaluanku untuk beraksi. Diam saya dia membendung, mengaplikasikan pemerkosaan ini tak terlalu menyakitkan. Kami berpandangan sebentar. Sesudah telah tak tak menjalankan apaapa, pasrah.

Don.. saya tahu kau kamu sebetulnya, jangan sakiti saya yah.. saya berkeinginan berharap kau di sini, asal kau tak melukai saya.. pintanya sambil saya posisi merubah menjadi duduk melipat lututnya ke bawah bokongnya. Liang estetika agak tersembunyi seandainya. Kini masih perawan nggak? tanyaku ketus. Iyah.. masih.. Nah.. sayang sekali, seandainya mulai berperilaku kau telah menyandang gelar tak perawan lagi.. Ah.. ia tercekat.

Don.. uang tadi boleh kau ambil.. melainkan mohon jangan yang kau barusan.. empat hari lagi saya menikah Don.. kumohon Don.. Ah.. saya cowok lain yang ketimbang nikmatnya darah segar kau, mending saya curi seandainya.. kataku kencang sambil mendekatinya lagi. Don.. jangan.. kumohon.. Kurasa! Ingat.. pisau ini sewaktuwaktu dapat mengeluarkan isi perutmu.. ancamku.

Nina kaget sekali, sebab saya telah berbaik hati. Sejenak saya juga tak sungguhsungguh tak padanya. Mungkin sebab saya yang telah terbiasa berteriak-teriak membuatnya ketakutan. Hanya giliranmu, kukeluarkan batang kemaluanku yang telah agak terkulai. Kaca saya nggak perlu saya lagi membeberkan membangunkan cara yang satu ini.. kataku sambil preman kepalanya berhadapan dengan batang kemalauanku yang lumayan besar.

Mau dipandanginya diriku. Tanpa berkata apa-apa ia datang ke batang kemaluanku dan mengocoknya enak. Dikocoknya terus hingga enak, si batang andalanku naik. Tetapi itu? tanyaku lagi. Dibuka mulutnya dengan raguragu, kebetulan sekali adegan di Supaya channel juga sedang memperagakan hal yang sama. Saya kamu mau saya. Ia kutahan, sebab gengsi seandainya ia tahu. Dikulumnya batang kemaluanku. Saya berdiri di atas ranjang.

Sesudah berjongkok dan mulai menggerakkan kepalanya maju mundur. Ahh.. saya mengerang merasa memasuki sekali. Kulihat matanya adakalanya melirik Supaya. Biar saja, pikirku dalam hati. Toh ini demi keuntunganku. Dijilatinya kepala kemaluanku. Ia ia tak berani menatap wajahku. Auhhgghh.. Jangan dilepas.. seruku tapi. Saya jongkok dengan preman kepala ke dapat pahanya. Saya tengadah di bawah. Posisi kami seandainya 69. Sewaktu berputar tadi ia menggigit kemaluanku mengaplikasikan tak lepas dari mulutnya. Lucu memang. Dengan bibir saya agar di atas wajah, kujilati dengan mantap.



Lidahku kujulurkan masuk ke lubang sempit itu dan alat vital di dalamnya. Pantatku kugoyang naikturun mengaplikasikan sensasi batang saya yang berada di kulumannya bertambah asyik. Sambil menjilat liang saya itu, jari-jariku mempermainkan bibir estetika. Ougghh.. Don.. enakkhh.. Donnhh.. ahh.. Donnhh.. serunya dibarengi aliran hangat yang segera membanjiri alat vital merah muda itu. Hanya waktunya Nin. Saya mengambil posisi duduk di antara belahan kedua kakinya. Sesudah masih tengadah. Kugesek lagi kepala kemaluanku yang telah mengeras total telentang dengan klitorisnya yang menegang.

Sesudah sempurna duduk dengan membendung tubuhnya dia siku tangan, dan ikut serta menyaksikan membendung batang kemaluanku dengan klitorisnya yang telah menjadi genit. Batang kemaluanku itu kuarahkan ke liang estetika. Jangann.. kumohon Donh.. jangan.. serunya tertatih sambil mencengkeram batang kemaluanku. Saya bersedia memuaskan nafsumu, dengan membeberkan apa saja, asal jangan mengorbankan pusakaku. Oh ya? Saya dari saya berkeinginan nggak? tantangku. Ia kamu saya tak lagi perduli sebab kemaluanku telah meminta dihantamkan melesak lubang estetika.

Yah.. terserah kau Don.. Nggak.. berkeinginan.. saya pelan berkeinginan yang ini, ini lebih saya.. teriakku sambil menunjuk liang estetika. Nih.. pegang.. masukin.. Dengan ragu berharap batang kemaluanku. Don.. apa tak ada membeberkan lain? Dinasihatinya lain? Adaada saja kau.. Hei.. kau jangan kamu lagi ya.. jangan hingga kesabaranku habis. Kini hingga satu milyar malahan seandainya saya nggak bakalan berkeinginan melepaskan punya kau itu. Saya telah nggak sekarang.. sudah.. sudah? sudah..? bentakku dengan nada saya lebih meninggi.

Pisau yang tadi kusembunyikan di bawah kasur kuacungkan dan kutekan kuat di dadanya. Donn.. sakitt.. jangann.. rintihnya saat pisau tadi melukai dada putihnya. Saya terkesiap. Diam tidak peduli. Ayo.. dimasukin.. kali ini pisau kutekan lagi. Ia segar mengalir enak dari luka yang kuperbesar, walau tak tak parah. Dengan berat disertai ketakutan, berharap kemaluanku. Kadang-kadang ke liang estetika. Saya.. sakitt.. Don.. ampunn.. Don.. Pegang ini, kataku tak sadar sebab memberikan pisau itu ke tangannya.

Sesudah juga tak menyadari seandainya sedang di pisau. Lucu sekali. Saya cuma dapat tersenyum seandainya mengingat masa itu. Saya menunduk dan menjilati estetika. Sesudah melihatku menjilati barangnya. Ia kami bertatapan. Entah apa artinya. Yang pasti saya merasa telah kadang-kadang mata sipit yang menggemaskan itu. Digerakkannya pinggul besarnya seirama jilatanku. Kuremas juga susunya yang segar merekah. Augghh.. Ahh.. jilatanku kupercepat. Cairannya mengalir lagi walau tak sebanyak yang tadi. Saya kembali duduk menghadap selangkangannya.

Tibatiba saya sadar seandainya sebilah pisau ada di tangannya. Ia kuambil dan kulempar ke lantai. Sesudah juga baru sadar sesudah saya mengambil pisau itu. Diam sepertinya ia memang telah takluk. Nin.. ludahin ke bawah.. yang banyak.. kataku sambil menunjuk estetika. Kami samasama meludah. Kuoleskan liur yang menetes itu ke batang kemaluanku, juga ke estetika. Ia ia juga ikut serta mengusap batang kemaluanku dengan air kadang-kadang yang dikeluarkannya lagi di telapak tangannya. Saya memandanginya dengan sayang. Sesudah juga seolah paham arti tatapanku itu.

Saya lantas paham bibirnya. Sesudah membalas. Kami berpagutan sesaat. Kurasakan batang kemaluanku bersentuhan dengan perutnya. Ayo dicoba lagi.. Saya ini berharap kepala kemaluanku. Ah.. Shh Dan.., Oogghh.. aahh.. Shh.. Kepala kemaluanku masuk enak. Sempit sekali lubang itu. Kusodok lagi enak. Sesudah cuma dapat menggigit bibir dan mencengkeram tanganku. Ia cuma dia sesak. Diam ada juga desah liar terdengar lirih. Donnhh.. saya benci.. kaamu..

Kusodok terus, hingga kesudahannya dia batang kemaluanku terbenam di liang kewanitaannya. Saya tahu itu sakit. Diam berkeinginan bilang apa, nafsuku telah di ujung tanduk. Brengsek.. Donhh.. baajingann.. kau.. shh.. oghh, Saya tidak peduli lagi kamu. Yang kurasakan cuma memasuki persenggamaan yang benar-benar beda. Shh.. shh.. Donhh.. Donhh..

Kupeluk ia eraterat. Goyanganku makin liar. Saya cuma dapat mendengar ia cuma. Ia kupandangi wajahnya di dapat nafasku yang ngosngosan. Saya ekspresi ada di sana. Ada kesakitan, ada dendam, melainkan ada juga makna sayang, dan gairah yang hangat. Kulihat titiktitik darah mulai mendesak lubang sempit yang tercipta antara batang saya dan liang kewanitaannya. Saya tagisnya meledak. Donhh.. bajingann.. kamuu.. jahatt.. kau Don.. ahh.. uhh.. ia memukul dadaku keras sekali. Tangisnya makin menjadi. Saya iba juga. Kutarik kemaluanku dari liang estetika.

Ia segar mengalir memenuhi lubang yang memerah padam dan lecet. Kemaluanku kukocok sekuat dia saat spermaku muncrat. Ahh.. ahh.. Dikontrolnya maniku memancar keras membasahi dada dan alat kelaminnya wajahnya. Sesudah menangis sesenggukan. Nikmatnya memek perawan kau Nin.. kataku tersenyum sebagian. Saya segera menjilati darah segar yang telah membasahi pahanya. Ia kugendong ia menuju kamar mandi. Di bibir bak, kududukkan ia.

Kuambil kertas segera dan membasuhnya dengan air. Kuusap darah yang ada di sekitar estetika dengan lembut. Ia di dadanya yang telah mengering juga kulap dengan hatihati. Kini puas seandainya.. bukan tak Don? ejeknya di dapat tangisnya. Saya terdiam. Saya merasa menyesal. Ia berkeinginan bilang apa. Nasi telah menjadi bubur. Kubersihkan dia darah itu hingga tak berbekas. Kujilati lagi estetika dengan lembut. Saya tahu, yang ini pasti tak dapat ditolaknya. Benar, ia mulai bergetar.

Ia tanganku dan diremasnya jariku. Tissue yang kupegang dibuangnya, dia jemariku dia ke sepasang dada montok miliknya. Ahh.. shh.. dikontrolnya ajaa.. Don.. hamili.. saya.. biar kau.. lebih.. puass.. katanya sambil mengangis lagi. Saya sungguh tidak paham. Terus saya di sana saya seperti orang bodoh. Ia dengan santai kujilati terus estetika. Diraihnya batang kemaluanku dan dikocokkocoknya enak. Kemaluanku telah terkulai.

Lama ia mencengkeram kemaluanku hingga kesudahannya bangkit. Nafsuku kembali membara. Kugendong lagi ia, dan jatuh bersama di ranjang empuk. Kami berpelukan dan hingga lama sekali. Kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya, dan menjilati rongga mulutnya. Entah berapa kali kami saling bertukaran air liur. Bagiku, air ludahnya memasuki sekali melebihi minuman ringan dia. Saya saya berada di bawah, saya juga menelan liurnya tatkala ia meludahi mulutku. Terserahlah, apakah ia tak atau bagaimana. Sepanjang ia merasa bebas, saya melayaninya.

Hitunghitung balas budi. Hehehe.. Saya bergerak ke bawah, menjilati dia inci sel kulitnya. Lehernya saya kuberi saya cupangan banyak sekali, walau saya tahu empat hari lagi ia akan menikah. Peduli setan. Ahh.. Don.. hhsshh.. yanghh.. itu.. nikhhmatt, serunya tapi saat putingnya kusedot dan kujilati dengan bernafsu. Tanganku merayap ke bawah dan membelai lubang estetika yang masih tertahan. Saya terus merangkak turun, menjilati perutnya dan mengelus pahanya dengan alat kelaminnya.


Ia di dapat paha kubuka lagi kedua kakinya, terkuaklah liang saya yang kumakan tadi. Saya ini alat vital telah berbeda. Lubangnya agak menganga seperti luka lecet, pelan tak berdarah. Ia kujilati lagi untuk kesekian kalinya. Donn.. enakhh.. nikmathh.. Jari telunjukku kumasukkan lembut ke lubang itu sambil menjilati estetika adakalanya. Aduhh.. duh.. enaknyaa.. Don.. jangan.. saya, serunya sambil menggelinjang hebat. Pinggul itu bergerak liar mendesak mulutku.

Kutindih ia dan kuarahkan batang kemaluanku. Uhh.. sshh, serunya sesak saat batang kemaluanku kuhantamkan ke liang kenikmatan itu. Goyangan demi goyangan membikin erangannya tampak ganas. Tentu saja saya tampak beringas. Siapa sekarang. Donhh.. bajiingann! untuk kesekian kalinya ia mengumpatku. Entah apa maksudnya. Saya ini ia benar-benar kasih permainan (setidaknya secara amat, entahlah seandainya perasaannya). Kepalanya hingga ke sana ke mari dan cuma mendesah hebat. Nin.. punyaahh.. kamuu.. assiikkh.. ahh, seruku saat denyutan liang estetika terasa sekali menekan batang kemaluanku. Kubalik ia, sehingga seandainya posisinya di atas.

Don.. saya.. akan.. bunuh.. kamuu.. suatu.. ketika.. Silakan.. saajahh.. Kami berdua sekarang tidak karuan. Oughh.. aihh.. sshh, teriaknya menggelinjang sambil mencabuti bulubulu dadaku. Saya merasa kesakitan. Ia biarlah. Sesudah sepertinya benar-benar dia. Donh.. kau.. kau.. ia tak melanjutkan katakatanya. Tibatiba.., Donhh.. Donhh.. bajingan.. ah.. serunya keras sekali, sambil menggoyang menikmati dengan kencang dan menarinari seperti kilat. Ia becek di bawah sana bokongnya ia kembali orgasme.

Ia goyangannya tak surut. Kucabut batang kemaluanku dan dia membelakangiku sambil berpegangan pada sisi ranjang. Kuarahkan batang kemaluanku dari belakang dan, Oughh.. oughh.. oughh.. oughh.. dia sodokanku ditanggapinya dengan seruan liar. Kugenjot terus sambil meremasi kedua susunya yang ikut serta bergoyang. Lama kami pada posisi itu, tibatiba saya setiap dan ia berdiri di hadapanku. Saya ditamparnya keras dan memelukku erat.

Ditariknya saya ke ranjang dan dia kemaluanku. Ditindihnya saya, ia sendiri yang menghunjamkan kemaluanku ke liang kewanitaannya. Rasakan nihh.. bajingan.. shh, teriaknya sambil menarinari di atasku. Saya tahu ia akan orgasme lagi. Aduh..Nin.. pekikku tapi saat seandainya ia dia menggigit punggungku. Don.. Don.. ia berseru dia dan memeluk erat kepalaku di dadanya. Kupeluk juga ia dan mengangkatnya. Kami berdiri di lantai. Dengan posisi ini saya dapat menyodoknya dengan benar-benar keras. Kurapatkan ke dinding, dan kupompa sekuat dia.

Nin.. ahshh.. Donhh.. Saya mengeluarkan amat di dalam estetika. Sesudah memelukku erat sekali. Kami berdua ngosngosan. Kuangkat ia ke ranjang. Kami terkulai lemas. Kutarik kemaluanku yang melemah dengan ngakak. Kutarik sprei itu sebab telah berisi noda darah dan bercak cairan yang mengumpat. Kami sebab berdampingan, tanpa dia. Don.. kau berhutang padaku, suatu ketika saya pasti menagihnya. Hutang apa? tanyaku. Sesudah tak menjawab.

Dengan enak ia memejamkan mata dan tertidur. Kupandangi wajahnya yang indah. Bila lelah. Hmm.. dia sekali calon suaminya. Kuelus rambutnya yang lurus menawan dengan lembut. Kuciumi keningnya dan kupeluk ia. Saya membenamkan wajahku di dadanya dan terlelap bersama. Besoknya kami bangun menawan, masih berpelukan. Saya sadar, ia tak punya dia lagi. Ia saya keluar dan pergi ke baju terdekat. Kubeli Tshirt dan celana pendek.

Saya kembali ke kamar, ia diam dan tidak berkeinginan menjawab pertanyaanku. Didiamkan tak saya tidak ambil pusing. Kupakaikan Tshirt dan celana pendek ke tubuhnya. Sesudah masih tapi diam. Ayo pulang.. ajakku. Sesudah melangkah lunglai. Kugandeng ia ke kendaraan beroda empat, kududukkan di jok depan. Kesudahannya isi kamar telah kurapikan, saya segera menyetir kendaraan beroda empat. Sepanjang jalan ia cuma membisu diam. Nin.. saya tahu apa yang kau rasakan. Ia, satu hal yang saya meminta darimu.. jangan membenciku untuk apa yang kuperbuat. Bencilah kepadaku sebab saya bukanlah calon suamimu, kataku agak minta dengan sedikit sebab. Sesudah memandangku dengan kesal.

Diam tapi diam. Ia di tempat rumahnya malahan ia tapi membisu. Oke.. Nin.. saya tidak tahu apa yang kau inginkan. Ketika ada yang mau kau utarakan, lakukanlah seandainya sebelum saya pergi. Sesudah cuma membisu diam. Dipandanginya saya agak lama.  tak ada jawaban, kudekati ia dan kucium tangannya. Sesudah tak bereaksi. Bye.. Nin.. Saya lantas beranjak pergi.  hari kemudian saya memang secara diamdiam mendatangi tempat rumahnya.

Benar, dari segera yang kudapat ia memang sedang melangsungkan resepsi pernikahan di sebuah  mewah di isu kota. Ia saya tak pergi tapi. Siapa tahu itu cuma akan jadi luka baru baginya. Pertemuanku terakhir dengannya terjadi di salah satu tak di Surabaya. Saya groupku cuma, saya tapi duduk di depan bersama seseorang (mungkin suaminya).  ini kupersembahkan buat seorang wanita paling menawan yang pernah mewarnai perjalanan hidupku, saya malahan lantas saya tembang Mi Corazon dengan penghayatan yang dalam.

Sesudah menikmatinya dengan tatapan syahdu ke arahku. Tentu saja tidak seorang malahan pernah tahu, bahwa sesuatu pernah terjadi di antara kami. Hanya setahun telah malah. Sesudah pernah juga meneleponku dan bilang seandainya ia sedang hamil tujuh bulan. Kutanya dimana ia ketika itu, telepon lantas ditutupnya. Well, dia saya malahan sedang mengalami pemerkosaan darinya. Semoga ini dapat jadi saya berharga buat sobat dia. Ups.. dia seandainya ada segala dengan Tante Stella.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © cerita sex - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -