- Home >
- Agen Playtech , agenslot , bandarslot , Casino Online , Game Play , Joker123 , Slot Game , slotgameonlineterpercaya , www.disneyslot.com , www.slotdisney.com >
- CERITA HOT : NGENTOT NIKMAT DENGAN SABAHAT PENAKU
Posted by : clarissaachan
Kekerabatan kami bermula dari dimuatnya surat pembacaku, saat saya masih mahasiswa, di suatu surat berita yang beroplah nasional seputar kesusahan mengirim surat ke luar negeri.Seminggu kemudian datang surat kepadaku mengomentari suratku dan menyebutkan hal yang sama dengan yang kualami. Dia mengatakan hobinya juga surat-menyurat (korespondensi) dan mengajak bertukar hobi denganku.Sejak itu kami rajin saling berkirim surat.Padahal belum pernah saling ketemu, sebab saling jago membentuk kata-kata, kami serasa telah akrab.
Sisca,teman penaku itu, waktu itu berprofesi sebagai pembantu apoteker di kota Cikampek.Dia memang lahir di situ, ayahnya memiliki penggilingan beras.Seperti umumnya pengusaha di kota kecil, ayahnya keturunan Cina.Dia sulung dari 6 bersaudara dan walhasil saya juga akrab dengan keluarganya pengaruh kerap kali main ke sana bila wisata.Dia lebih tua 1 tahun dariku.Waktu itu saya sendiri punya pacar di fakultas dan Sisca memiliki sebagian “sahabat dekat”,seperti diceritakannya kepadaku melalui surat-suratnya.
Tiga tahun sesudah kami akrab, dia pindah ke Jakarta dan diserahi profesi mengelola apotek di tempat Jakarta Barat. Waktu itu saya sendiri telah selesai kuliah dan mulai mencari profesi di ibukota. Hubunganku dengannya telah cukup akrab. Sebagian kali saya menginap di rumah kostnya.Dia kos bersama adik laki-laki tertuanya, yang kuliah di salah satu fakultas kedokteran. Waktu itu dia sedang pacaran dengan seorang bule, John, karyawan suatu perusahaan Belgia.
Waktu itu saya sendiri juga berprofesi di tempat Jakarta Barat dan kos di dekat camer (calon mertua).Pacarku sendiri sedang kuliah di Gajah Mada.
Hingga walhasil si John meninggal dunia, sebab kecelakaan pesawat saat sedang pulang ke Belgia.Ayah Sisca waktu itu sedang masuk RS dan saya tiap-tiap malam menunggui,bergantian berdua dengan Erik atau dengan Sisca,hingga juga meninggal sesudah 10 hari dirawat.Duka sebab ditinggal si John dan ayahnya,membikin Sisca memintaku banyak menemaninya.Bila selesai berprofesi,bila Erik sibuk kuliah,Sisca memintaku menjemput ke apotek.Bila dia dinas malam,saya lazim menungguinya sebelum dia selesai berprofesi.Tak saya dan Erik (bila telah pulang kuliah),menunggu berdua lalu pulang bertiga.Seluruh sahabat kerja dan induk semang kosnya telah mengenalku seluruh.Dan di antara kami semuanya berjalan lazim saja.Sisca ini tinggi badannya lumayan,ada 5 cm di atas tinggi badanku.Jadi orang pasti tak menyangka bila kami sedang pacaran.Sisca tahu mengenai pacarku.
Padahal demikian,kedekatan kami lama-lama membikin adanya “rasa lain”.Kami lazim menonton berdua bila Sisca pulang petang.Ia juga lazim jalan bergayut di lenganku,itupun bila bertiga dengan Erik.Petang itu, hari Sabtu, dia pulang jam 2 dari apotek.Erik sedang pulang ke Cikampek dan dia kelihatannya sedang sedih (“Saya ingat John”, katanya),karenanya tangannya tidak berharap lepas dari lenganku.Duka itu dibawanya masuk gedung,selama film dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Spontan,bila dia terdengar mengeluh sedikit,saya mengelus-elus kepalanya.
Sesudah sebagian ketika,tiba-tiba saja,saya telah menciumi pipinya.Dia mengeluh lirih dan merangkulku sambil mulutnya bergeser mencari bibirku.Kami berpagutan bibir cukup lama,dia seakan sedang menumpahkan seluruh bobot pikirannya terhadap pagutan bibir-bibir kami. Saya betul-betul terhanyut,namun masih bisa “menjaga kesopanan” dengan cuma memegangi pipinya saja.Di taksi pulang dia membisu saja.Cuma pegangan di lenganku kian bertambah erat.
Hingga di kosnya, dia memintaku masuk kamarnya. Tante kos telah ketahui bagus denganku dan saya memang lazim masuk kamar mereka. Cuma saja kali ini dia segera memelukku dan mengulangi kembali pagutan di bibirku.Kupeluk erat-erat dia yang sedang duduk di pinggir daerah tidur.Saya duduk di sampingnya sambil memegangi kedua pipinya.Otomatis,saking serunya kecupan kami,Sisca walhasil terdorong ke belakang dan posisinya menjadi tertidur.Tiba-tiba saja tanganku telah pindah ke dadanya dan dari luar (dia masih menerapkan pakaiannya) mengelus payudara sebelah kanannya.
Lalu saya telah menggenggam payudara kanannya tanpa halangan apa-apa. Wow…, tidak semacam itu besar, namun putihnya mulus.Saya mengelus payudaranya sambil sekali-kali memijit bundaran di bawah ujung putingnya.Saya tidak bisa lagi membendung diri.Sebentar kuteliti wanita di hadapanku ini. Lehernya putih,buah hati-buah hati rambut yang menggerai di sekeliling lehernya membikin penisku mengejang.Lalu kutelusuri lehernya.Tanganku turun ke arah payudara kanannya.Dia melekatkan badan erat-erat ke badanku.Kuputar telapakku di payudara kanannya.Dia mengelinjang,dan tanganku pindah ke payudara sebelah kiri,gelinjangannya bertambah dan tangannya segera ke bawah badanku, mencari jeda-jeda pahaku. Dikala saya mulai menjilati puting susunya, tangannya menerobos ritsleting celanaku dan…, saya sedikit menggelinjang saat dia mulai menggenggam penisku.
Kedua tangannya berupaya menurunkan celana dalamku,namun masih susah sebab celana panjangku masih bertengger di sana.Sementara itu mulutku mulai mengulum puting susunya bergantian. Dilepaskannya penisku dan,sebab kegelian dan merasa sedap,dia merengkuh kepalaku,ditariknya ke arah puting susunya bergantian.
Dilepaskannya penisku dan sebab kegelian dan merasa sedap,dia merengkuh kepalaku,ditariknya ke arah puting susunya.Lalu tiba-tiba disokongnya badanku,sambil napasnya terburu,dilepaskannya rok yang masih diterapkannya.Lalu tanganku diraihnya,dimasukkannya ke dalam CD-nya.Perlahan-perlahan kuelus bulu vaginanya.Wah,lebat betul.Dari sekian wanita yang pernah “kutelanjangi”,baru kali itu saya mengamati pubis (rambut organ intim wanita) yang demikian lebat.Lebat,panjang, ketat.Hitam bukan main.
Kuelus-elus bulu vaginanya, kugelitik-gelitik rambut-rambutnya mencari lubang vaginanya. Tak gampang ketemu,namun telah berair sebab air nikmatnya telah keluar.Sisca sendiri membantuku dengan menekan-nekan tanganku yang di permukaan vaginanya.
“Euuuhh…, eeuuuhh..”, gelinjangnya. Lalu,tidak tabah,diturunkannya CD-nya yang telah di pahanya.Telanjang bulatlah dia.Edan, putihnya! Bokongnya yang bulat, yang umumnya kupegangi (dari luar) bila dia lagi bergelayut di lenganku, betul-betul cantik. Pinggulnya apalagi. Penisku segera berdiri menegang mengamati itu seluruh dan mengantisipasi “tugas lanjutannya”. Kugosok-gosokkan ujung hidungku ke pinggul itu, perlahan-perlahan kujilati memutar menuju ke bokongnya yang cantik.
Dia tidak tabah,diaturnya tanganku,dinasehatinya untuk kembali menikam-nusuk vaginanya.Dia sendiri seakan kesetanan menunggu lubang vaginanya disusupi jari-jariku.Namun saya kembali berfokus pada puting susunya. Kujilat, kuelus menerapkan lidah, kusedot perlahan-perlahan sambil dia melenguh-lenguh dan menggelinjang-gelinjang. Walhasil dia telah tidak tabah lagi.CD-ku segera dipelorotnya ke bawah.Lalu tangannya menggenggam-genggam penisku.
Saya serasa melayang.Sebagai laki-laki,selama ini bila dia bergayut di lenganku sambil berjalan-jalan,saya kerap kali membayangkan tangannya yang putih dengan jari-jarinya yang panjang mengelus-elus penisku.Atau kujilati puting susunya yang kerap kali membayang bila dia menerapkan pakaian tipis.Cuma,selama itu saya cuma berani membayangkan,sebab saya menghormatinya sebagai rekan akrab.Ternyata petang itu lain.
Dia segera membalik,memberi nasehat mulutnya ke penisku.Lalu tanpa basa-basi di kulum penisku.Saya sendiri segera meneroboskan muka ke arah vaginanya. Tanganku memisahkan rambut-rambut di situ dan kulihat clitorisnya telah terlihat di luar.Kugosok-gosok pelan permukaan clitorisnya.Kedua tangannya berupaya menurunkan celana dalamku,namun masih susah sebab celana panjangku masih bertengger di sana.Sementara itu mulutku mulai mengulum puting susunya bergantian.Dilepaskannya penisku dan,sebab kegelian dan merasa sedap,dia merengkuh kepalaku,ditariknya ke arah puting susunya.Lalu tiba-tiba disokongnya badanku,sambil napasnya terburu,dilepaskannya rok yang masih diterapkannya.Lalu tanganku diraihnya,dimasukkannya ke dalam CD-nya.Perlahan-perlahan kuelus bulu vaginanya.Wah,lebat betul.Dari sekian wanita yang pernah “kutelanjangi”,baru kali itu saya mengamati pubis (rambut organ intim wanita) yang demikian lebat.Lebat, panjang, ketat. Hitam bukan main.
“Ouww Wied…,. ouw Wwwiieedddd”, lenguhnya, “Terusss.., teruuuss”, lenguhnya dalam. Isapannya di penisku melemah walhasil. Kurasa dia telah selesai. Tiba-tiba, dia membalikkan badan lagi dan segera terbaring di atasku. Penisku diaturnya dan dicoba dimasukkannya ke dalam vaginanya yang telah sungguh-sungguh berair. Rasanya oouw, saat kepala penisku mulai masuk. Cerita Crot Saya yang kegelian hampir tidak bendung. Maklum, waktu itu penisku baru punya jam terbang yang bisa dihitung dengan jari, dan sebab masih muda, jarang menerapkan “pendahuluan” yang cukup lama. Umumnya bila keduanya telah tegang (bila main dengan cewek lain), lalu segera kumasukkan, ejakulasi sama-sama dan kucabut. Ini lain. Dengan Sisca permainan permulaannya telah mengasyikan duluan! (Buatku waktu itu, saat saya “belum berpengalaman”!)
Betul, saking gelinya, saya yang di bawah hingga mengangkat kepala tidak bendung geli dan berharap bangkit. Tepat ketika itu, kepalaku dibatasi Sisca, dibawanya ke payudara sebelah kiri.Memperhatikan ada gumpalan daging kenyal putih menantang, segera kujilati dan kuisap-isap. Baru sejenak, Sisca mengerang, “Ohh…, Wied…, Lia nyampeee”.
Gile, baru sejenak dia telah nyampe!
“Kau belum apa-apa, ya?”, tanyanya sambil menciumi mulutku.Saya membisu tidak dapat menjawab sebab mulutnya menyerang sana-sini.
“Gantian Sisca di bawah, deh, biar kau juga nyampe!”.
Dia membalikkan badan. Memperhatikan sekilas badannya yang cantik dan putih itu, penisku terasa sedap-sedap nyeri, rasanya ada yang akan mengalir keluar dari ujung penisku. “Gile, saya udah berharap keluar…”, pikirku.Betul, saat saya baru tiga kali memompa, spermaku keluar. Kupeluk erat-erat badannya,dia juga memegangi pantatku erat-erat sambil berbisik, “Masukkan seluruh, Wied…, masukkan seluruh..”. Kutekan erat-erat penisku ke dalam organ intim wanita bidadariku ini, kumasukkan seluruh bibit hidupku ke dalam jaringan tubuhnya.
Dikala saya berharap berguling ke sebelah badannya,dilarangnya saya.Dia berkeinginan saya konsisten di atas tubuhnya, dengan penisku masih di dalam vaginanya.Kunikmati ketika itu dengan mempermainkan dagunya, menjilati payudaranya dan menggesek-gesekkan penisku ke dalam vaginanya.Dia konsisten menciumiku.Penisku sendiri konsisten tegang di dalam vaginanya.
Lima menit kemudian nafsunya bangkit lagi.Dia mengerang perlahan,sambil menggoyang-goyangkan bokong. “Sisca nafsu lagi, nihh”, erangnya. Penisku sendiri yang tadi sempat sedikit mengecil menjadi besar kegelian tergesek-gesek permukaan dalam vaginanya. Lalu…, “Uuuuuuhh..” Bibir vaginanya seakan memijat penisku.Saya merasa penisku kegelian, geli-geli sedap hingga seakan-akan badanku meronta-ronta di atas badan Sisca. Sisca sendiri terstimulus dengan gerakanku, memelukku erat-erat sambil keras menggoyangkan bokongnya memutar.
Dalam 20 menit kemudian, 2 kali lagi dia mengalami orgasme. Edan, pikirku. Pijatan vaginanya membuatku seakan melayang ke surga, namun saya sendiri baru sempat orgasme sekali. Lalu dia mulai melemas seakan tidak berdaya. Habis itu lalu terjadi “perkosaan”. Saya tak bendung lagi. Sisca kugulingkan ke sana ke mari menuruti nafsuku.Kadang kucabut penisku dari vaginanya, kumasukkan ke dalam mulutnya, lalu kucabut dan kugesekkan di antara jurang tetek-teteknya, lalu kumasukkan mulutnya lagi, lalu kumasukkan ke dalam vaginanya.Saya orgasme 2 kali lagi. Sekali di mulutnya,sekali di ujung vaginanya (dasar belum pengalaman, sebab kegelian digesek bulu vaginanya, semacam itu penisku hingga di ujung vaginanya segera keluar spermaku). Sisca sendiri pasrah saja kuperlakukan seperti itu. Dia seakan telah tak berdaya. Kugulingkan ikut serta saja, kusuruh mengulum penisku yang berair berharap saja, mengurut-urut kepala penis di dadanya juga ikut serta, menolong memasukkan penisku ke vaginanya juga ikut serta saja.
Dikala kami berdua telah tak berdaya lagi, kulihat jam. Cerita Crot Dua separo jam telah berlalu semenjak kami masuk ke kamar itu. Walhasil kami tidak kuat lagi dan tergeletak kepayahan. Mata terpejam rapat, kelihatannya dia lelah sekali dan mengantuk berat.
Saya bangkit dan barulah tercium bau air mani bercampur peluh di kamar itu.Sisca sendiri telah tak berdaya lagi.Dia telah tergolek semacam itu saja telanjang bulat.Kuselimuti badannya dan saya mulai memunguti pakaianku yang terserak di sana-sini.Kusemprotkan Bayfresh ke dinding-dinding kamar untuk mengurangi bau “mesum” itu.Untung Erik sedang pulang ke Cikampek. Kucium dahi Sisca, kututup pintu kamar dan saya pamit ke tante kos.
Esoknya saya datang lagi. Hari Pekan ini Sisca mengaku sakit terhadap tante kos dan meminta, “Jika Wied ngerawat aku, ya tante”. Jadinya kami berdua berbulan madu di kamarnya sepanjang hari.Dan terjadi perkosaan lagi, yang terbukti disenanginya.
Dalam perjalanan pulang saya berdaya upaya bahwa kekerabatan kami telah berubah.Bila selama ini saya menganggap ia sebagai kakak, sebab lebih tua 1 tahun, lagi pula dia lebih tinggi diperbandingkan badanku, malam ini hal itu telah berubah.Kakakku sayang itu sudah membuatku merindukannya sebagai orang lain (Bila saya boleh berterus-jelas: saya akan merindukannya untuk menikmati vaginanya yang sungguh-sungguh berair dibelah penisku, untuk kudekap saat dia telanjang bulat-bulat, untuk menggeser-geserkan ujung hidungku di permukaan vaginanya yang hitam, lebat dan menstimulasi itu, untuk genggaman bagus tangan ataupun mulutnya bagi penisku yang tegang).




