Popular Post

Popular Posts

Posted by : clarissaachan







Ini adalah pengalamanku yang kesatuan kali bersangkutan sex dengan perempuan yang lebih tua dariku. Karena aku seringkali ngentot dengan gadis-gadis belia, lagipula dengan cewek-cewek abg yang masih smp tentu hasrat sex dan nafsu ngentot ku akan tak terbendung. Karena hal tersebulah kisah ngentot perempuan dewasa janda ini adalah pengalaman sangat spesial dan baru bagiku. Simak saja kisah kisahnya saya sebagai berikut untuk memahami jalan ceritanya.

Aku memiliki saudara sepupu dan namanya Monica yang umurnya tidak cukup lebih 45 tahun. Dia telah menjanda sekitar tiga tahun. Sekarang dia bermukim di salah satu kompleks yang tidak terlampau besar maupun kecil. Kebetulan anak dari sepupuku ini telah ditempat kost, sebab mereka lebih dekat dari lokasi kuliahnya. Aku kadang-kadang mampir ketempatnya, untuk membual maupun mendengar keluh kesah dia, sebab dari kecil kami paling akrab.

Suatu hari aku mampir, melihat sejumlah teman sepupuku yang sedang bertamu. Biasanya aku langsung ke ruang tamu dibelakang,dan menyimak koran, majalah atau menyaksikan televisi. Karena aku pikir mereka sedang membual seputar cowok atau tentang salon. Lalu aku dipanggil oleh sepupuku buat diperkenalkan ke teman-temannya.
“Kenalin nich Mbak Rika dan Mbak Nita” kata sepupuku.

Aku menjabat tangan satu persatu rekan sepupuku ini. Karena mereka sepertinya begitu santai sekali dengan pembicaraan, aku agak sungkan kemudian aku ke belakang kembali. Kudengar teknik mereka bicara laksana anak-anak seumur tujuh belas tahun, barangkali* bila di depan anak-anak mereka, tidak begitu teknik mereka berbicara. Mereka bermukim di kompleks Bintaro, bila dengar kisah sepupuku Mbak Rika baru enam bulan ini ditinggal oleh suaminya sebab kecelakaan pesawat terbang, sementara Mbak Nita ialah seorang istri pejabat yang tidak jarang ditinggal suaminya terbang luar negeri. Mbak Rika memiliki tubuh padat, kulit putih, tinggi tidak cukup lebih 165 cm. Sedangkan Mbak Nita agak langsing dengan payudara yang agak cukup menonjol serta memiliki warna kulit yang sama dengan Mbak Rika.

“Mon aku kembali dulu yach, tuch telah dijemput anakku, masalahnya aku inginkan ke Bogor terdapat acara arisan” kata Mbak Nita.
“Lho aku kembali dengan siapa nich” sela Mbak Rika.
“Gampang nanti diantar oleh adik gue” jawab Monica sambi menepuk bahuku.
“Wach enggak ngerepotin nich Mas” kata Mbak Rika kembali.
“Enggak koq Mbak” jawabku.

Lalu aku diajak menemani Mbak Rika mengobrol, sebab sepupuku Monica berkeinginan mandi. Kulihat Mbak Rika menggunakan rok hitam serta blazer berwarna pink, duduk santai dikarpet menyimak majalah seraya meluruskan kakinya. Kulihat begitu jernih* kulit dipahanya. Lalu kami membual panjang lebar, namun kulihat dari pandangan Mbak Rika agak tidak banyak genit, sampai-sampai membuatku pusing juga. Setelah Monica berlalu mandi, Mbak Rika minta pamit.

“Mas tolongin dong, maklum nich telah tua” sambil mohon tolong kepadaku agar meraih kedua tangannya guna berdiri.
“Ha ha ha Rika.. Rika.. Makanya minum jamu dong” ledek Monica terhadapnya.
“Aduch.. Koq begini yach pinggangku” jawab Mbak Rika sambil membungkuk memegang pinggangnya.
“Nach lho.. Kenapa nich” tanya Monica.
“Enggak tahu nich” jawab Mbak Rika.

Lalu aku tuntun Mbak Rika ke dalam mobil.
“Ok. Mon.. Sampai besok yach bye.. bye.. ”




Dalam perjalanan Mbak Rika duduk di depan, menemaniku membawa mobil, dia pun minta izin bila dia inginkan rebahan seraya menurunkan sandaran jok kebelakang. Kadang kucuri pandang paha Mbak Rika yang agak terbuka dari roknya.

“Mas kelihatannya pinggangku agak salah urat nich ketika duduk di karpet tadi”
“Wach tersebut harus cepat-cepat diurut lho.. Mbak” kataku.
“Tapi inginkan cari tukang urut dimana, malam-malam begini” kata Mbak Rika.
“Memang anak-anak Mbak enggak terdapat yang dapa* mengurut Mbak?” tanyaku memancing.
“Mereka seluruh di Jogya Mas, kuliah disana” jawabnya.
“Yach bila enggak keberatan, aku dapat sich mengurut pinggang Mbak Rika” pancingku lagi.
“Yach udach.. ” jawabnya mengangguk.

Singkat kisah aku menantikan Mbak Rika diruang tamu, sebab dia sedang ganti baju seraya membuatkan aku teh manis. Mbak Rika terbit dari ruang tengah seraya membawa gelas minuman untukku, dengan melulu mengenakan daster yang amat tipis, sampai-sampai secara samar-samar tampak BH serta celana dalamnya. Wach tambah pusing aku dibuatnya.
“Minum dulu dech Mas” sapa dia.
Lalu aku disuruh ke dalam kamar Mbak Rika, guna diurut.
“Mas unsur sini nich” seraya Mbak Rika mengusung dasternya sampai kebahunya dalam suasana terlungkup ditempat tidur.

Memang Mbak Rika ini memiliki tubuh yang padat, sampai kedua belah unsur pantatnya terlihat tersembul ke atas, dan yang lebih gilanya dia menggunakan celana dalam yang model belakangnya melulu seutas tali yang menyelip diantara kedua belah pantatnya. Tak disangka hari ini aku merasakan pemandangan yang spektakuler indahnya. Lalu aku memungut minyak dari keranjang yang sudah dia sediakan, didalam keranjang tersebut juga ada sejumlah botol alat-alat guna mandi. Aku mulai menggosok unsur pinggangnya dan kadang-kadang tanganku kusentuh pada bongkahan daging pada kedua belah pantatnya. Dia rupanya sangat merasakan* urutan tanganku dipinggangnya, sampai dia terlelap tidur.

“Mbak gimana telah* agak enakan enggak?” tanyaku.
Dia kaget terbangun lalu, dia berbicara “Mas dapat tolong sekalian betis kakiku enggak, masalahnya agak pegal-pegal pun* nich”
“Yups.. ” jawabku singkat.

Tampak Mbak Rika agak merenggangkan kedua belah kakinya dan tetap dalam posisi terlungkup, terlihat sekilas kulihat pinggiran lubang vagina Mbak Rika tersembul diantara celana dalamnya yang memang melulu berbentuk segitiga pada unsur depannya. Aku kemudian menukar minyak gosok dengan body oil dalam keranjang diatas meja dekat lokasi tidur Mbak Rika. Aku mulai menggosok dari betis ke arah paha dengan melumurkan body oil agak banyak. Terus kuurut kedua belah betis Mbak Rika sampai sampai kedua belah pahanya.

“Mas urutnya agak ditekan yang dibagian sini Mas,soalnya pegel amat sich” kata Mbak Rika seraya menunjuk antara paha dan pantatnya dibagian belakang, kemudian dia pun membuka tali dari celana dalamnya dan menariknya kemudian ditaruhnya dekat bantal dikepalanya. Makin jelas telah kulihat vagina Mbak Rika dari belakang dan tampaknya bulu-bulu jembutnya dipotong bersih olehnya. Aku mulai mengurangi pantatnya dengan kedua jempolku, dan kadang-kadang aku sentuh lubang anus Mbak Rika dengan sentuhan halus.

“Och..” terlihat Mbak Rika mulai mendesah.

Aku tuang body oil banyak-banyak dikedua bongkahan daging dipantatnya, kemudian aku mulai menggosoknya turun naik dari kedua pahanya. Lalu Mbak Rika menyuruhku membubuhkan body oil ditelapak tanganku, kemudian* dipegangnya tanganku dan diletakkan disela-sela lubang kemaluannya.

“Mas bantu gosok dibagian ini yach Mas” pintanya.
Lalu aku mulai menggosok bibir kemaluannya mulai dari lubang anus Mbak Rika.
“Och.. Mas teruskan Mas.. Och.. ”

Kulihat Mbak Rika mulai terangsang oleh sentuhan-sentuhan kelima jariku. Tanpa buang waktu seraya menggosok body oil kumasukan jari tengahku ke dalam lubang kemaluannya, terus kulalukan sejumlah kali, dan kulihat kedua tangan Mbak Rika meramas keras sprei ditempat tidurnya. Tiba-tiba Mbak Rika bangun dari lokasi tidurnya kemudian menyerangku dengan ciuman dibibirku seraya mempermainkan lidahnya. Dan dia berbisik.

“Mas aku buka bajunya yach”


Aku diam dan mengangguk tanda setuju. Dilepaskannya baju dan celanaku, sampai tak sehelai benang menempel ditubuhku.

“Daster Mbak aku buka yach??”

Diapun mengangguk setuju. Aku disuruhnya duduk disamping lokasi tidurnya, kemudian disodorkan kedua belah buah dadanya kemulutku, dan aku sambut dengan melumat kedua belah bongkahan daging kenyal didadanya. Tangan kananku pun sudah bermain disekitar vagina Mbak Rika, tampaknya bekas body oil yang tadi telah bercampur dengan cairan jernih dilubang kemaluan Mbak Rika. Dia kian mendekap kepalaku kedadanya, dan kadang-kadang pinggulnya menghentak-hentak ke arahku, ketika jari-jariku terbit* masuk ke dalam lubang kemaluannya.

Lalu dia jongkok dihadapanku dan mulai memasukan penisku ke dalam mulutnya, terlihat penisku hilang ditelan oleh gumulan mulutnya sampai masuk menyentuh tenggorokannya. Rasa nikmat mulai menjalar keubun-ubun kepalaku. Lalu dia permainkan lidahnya pada ujung dari bawah penisku.Wach paling pintar sekali pikirku Mbak Rika ini untuk merangsang laki-laki.

“Mas inginkan kan gantian” pintanya.

Aku memahami bahwa Mbak Rika mohon dijilati vaginanya. Lalu dia memungut handuk kecil, disemprotnya handuk itu dengan minyak wangi, yang kutahu bukan minyak wangi lokal, lalu dilapnya di selangkangannya dengan handuk tersebut. Lalu diapun istirahat terlentang dengan mengganjal pantatnya dengan dua buah bantal tidurnya. Maka terlihat jelas lubang kemaluan Mbak Rika yang telah memiliki bibir disisi kanan kirinya dengan warna merah kecoklat-coklatan. Dan terlihat pula lubang anus Mbak Rika yang telah berwarna coklat tua, tentu dia pernah bermain anal sex pun nich pikirku. Dan memang tidak tampak sehelai rambutpun disekitar kemaluan dan anusnya.

Lalu aku mulai jilat bibir kemaluan Mbak Rika, dan memang tidak terhirup* bau yang aneh-aneh, berarti memang Mbak Rika paling rajin membersihkan tubuhnya. Dia mulai menggelinjang diatas lokasi tidurnya, ketika kusapu kemaluannya dengan lidahku. Lalu aku oleskan telunjukku dengan body oil, dan kumasukan pelan-pelan ke dalam lubang anusnya, berbarengan dengan lidahku mempermainkan kelentitnya.

“Och.. Och.. Och..!!”

Tampak teriakan Mbak Rika kelihatannya tidak menghiraukan bakal ada orang yang mendengarkannya.
“Teruskan Mas.. Jangan berhenti.. Och.”

Terus kupermainkan kedua lubang Mbak Rika, kesudahannya dia memintaku guna memasukkan penisku ke dalam lubang kemaluannya. “Mas.. Pakai kondom yach.., tersebut ambil didalam laci”

Ternyata didalam laci kulihat tak ada kondom, namun ada sejumlah penis yang tercipta dari karet lentur,juga ada didalamnya. Setelah kupakai kondom, kumasukan penisku ke dalam kemaluannya, langsung aku hentak keras berkali kali ke lubang kemaluannya. Iapun mengimbangi dengan mengusung pantatnya tinggi-tinggi, terus kulakukan permainan keras tersebut sekitar tiga puluh menit, sampai kulihat Mbak Rika tidak lagi mengerjakan perlawanan. Sedangkan penisku belum ada firasat mau menerbitkan pejunya, kemudian aku cabut penisku dari lubang kemaluan Mbak Rika. Perlahan-lahan aku masukan ke dalam lubang anus Mbak Rika seraya meneteskan body oil dibagian atas penisku.



“Pelan-pelan Mas..”

Terus aku tekan penisku sampai terpendam berakhir dilubang anus Mbak Rika, dan pelan-pelan pun aku tarik, kemudian aku masukan kembali, hingga Mbak Rika tidak menciptakan reaksi tanda sakit dilubang anusnya. Aku mulai menggenjot tanpa henti penisku ke dalam lubang anusnya, dan sebab tidak selonggar lubang kemaluan Mbak Rika, pejuku mulai berlomba-lomba hendak keluar.

Dan ketika pejuku berkeinginan muncrat kutekan penisku dalam-dalam sambil menghirup bibir dan merangkul tubuh Mbak Rika kuat-kuat. Setelah tersebut aku terkulai disisi tubuh Mbak Rika. Dan kulihat Mbak Rika menarik keluar kondomku lalu mencuci penisku dengan handuk kecilnya. Lalu iapun merangkul diriku, seraya* berbisik.

“Jaga rahasia anda berdua ini yach Mas..”
Akupun mengangguk kemudian* kukecup keningnya, seraya* merangkulnya erat-erat.


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © cerita sex - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -